Posted by: gedeprama | 8 February 2010

Tata Ruang Bali Shanti

Setiap orang Bali yang sembahyang ke Pura tahu, setelah selesai sembahyang kemudian diperciki tirta (air suci), tatkala siap-siap meninggalkan tempat sembahyang semua mengucapkan kata shanti (damai) tiga kali. Sebuah pertanda sederhana, berkah spiritual yang kita bawa dari Pura ke kehidupan keseharian adalah batin yang damai.

Sekaligus memberikan cahaya bimbingan, ketika manusia Bali mau memutuskan hal-hal yang penting (apa lagi yang sangat penting seperti rencana tata ruang pulau Bali ke  depan),  seyogyanya dibimbing oleh batin yang damai. Adu argumentasi memang tidak bertentangan dengan batin yang shanti, sejauh dilakukan untuk saling menginspirasi, bukan untuk saling menyakiti.

Tata ruang spiritual

Keharmonisan antara alam material dan alam spiritual adalah  sebuah warisan tetua Bali yang berkontribusi tinggi terhadap Bali seperti yang kita warisi. Menyadari ini, sebelum melangkah mendalam di tataran ruang-ruang material, mungkin bijaksana bila kita mendalami ruang-ruang spiritual orang  Bali. Boleh saja orang lain di tempat lain menggunakan pendekatan lain, namun warisan spiritual tetua Bali mengajarkan barometer utama dalam melihat tata ruang spiritual adalah Parama Shanti. Seberapa damai kita dalam keseharian.

Bagi orang Bali yang mata spiritualnya terbuka, dekat batinnya dengan warisan tetua Bali, susah untuk tidak tersentuh atau menitikkan air mata ketika mengetahui bom teroris meledak dua kali, angka bunuh diri terus semakin tinggi, angka perceraian semakin meninggi dari hari ke hari. Dan tentu masih bisa ditambah lagi dengan yang lain.

Bila menggunakan cara memandang lain, mungkin wajah spiritual Bali juga lain, namun dalam teropong Parama Shanti, mungkin layak dikemukakan sejumlah pertanyaan. Dibandingkan dengan tetua yang lebih miskin materi dulu, adakah kita hidup lebih shanti? Dibandingkan dengan tetua yang sebagian buta huruf namun rukun, adakah limpahan sarjana membuat kita lebih shanti?

Dalam pandangan spiritual, di tempat atau putaran waktu di mana keserakahan, kemarahan, iri hati, kebencian menjadi kekuatan yang mengalahkan segalanya, di sana Parama Shanti menjadi barang langka. Lebih dari itu, dalam kekeruhan keserakahan dan kebencian, setiap langkah semakin mendekatkan manusia pada musibah.

Bercermin dari sinilah, mungkin pembahasan tentang tata ruang akan lebih bersih sekaligus jernih bila dilakukan secara pelan perlahan sekaligus penuh persahabatan. Serupa dengan tirta yang lagi keruh karena berisi bunga, beras dll, hanya bila diletakkan dalam ketenangan beberapa waktu ia bisa kembali bersih sekaligus jernih.  Dalam bimbingan kejernihan seperti ini, baru mungkin lahir solusi tata ruang jangka panjang yang menyejukkan.
Tata ruang material

Entah bagaimana tetua Bali di tempat lain mengajarkan generasi penerusnya. Di desa Tajun Bali Utara ada tetua yang mengajarkan konsep luan-teben (hulu-hilir). Dengan perkecualian Pura Bukit Sinunggal yang dulunya di hulu, kemudian karena perpindahan lokasi desa menjadi di hilir, di hulu (luan) desa diletakkan semua kesucian, di hilir (teben) ditempatkan hal-hal yang jauh dari kesucian. Namun, apa pun sebutan kepada ruang-ruang di hilir, ia senantiasa ditempatkan
dalam  kerangka Bhur Bvah Svah (semuanya bagian dari Tubuh Tuhan yang sama). Kaki memang di bawah, kepala memang di atas. Namun tanpa kaki, kepala sangat  terhambat kegiatannya. Kesucian memang menggetarkan, tetapi kekotoran yang membuatnya semakin bercahaya.

Kendati demikian, kepala dan kaki memiliki penutup (pelindung) yang berbeda. Kaki penutupnya sepatu. Kepala penutupnya destar. Meletakkan sepatu di kepala, atau destar di kaki akan mudah menjadi awal kekacauan kosmik (cosmic disorder).

Di desa Tajun dan desa-desa tetangga, ada yang melanggar ketentuan luan-teben ini. Sebagai contoh, kuburan yang seyogyanya terletak di teben, diletakkan di luan. Sebagai akibatnya, bertahun-tahun terjadi kekacauan kosmik yang menakutkan di tempat ini (pembunuhan, bunuh diri, gantung diri dan sejenisnya).

Menata kembali ruang kosmik, inilah yang layak diendapkan dalam-dalam ketika kita harus menata ulang tata ruang. Di wilayah hulu (bila kita sepakat menggunakan pegunungan di tengah pulau Bali sebagai acuan kaja), akan bagus sekali bila diputuskan radius di mana semua bentuk kegiatan pariwisata ditiadakan, hunian manusia dibatasi. Bila mana perlu pepohonan tua pun dilarang untuk ditebang.

Namun karena ini akan memberikan disinsentif merugikan kepada warga dan pemilik tanah yang hidup di sana, mungkin layak memberikan insentif agar tidak terjadi penolakan. Misalnya, memberikan mereka bibit-bibit secara gratis, harga pupuk yang lebih murah, sekaligus fasilitas memprioritaskan menampung hasil pertanian mereka di hotel-hotel di Bali.

Pantai sebagai wilayah hilir memang tidak selalu diletakkan sebagai teben terutama karena banyak Pura suci yang ada di sana. Ini juga serupa. Segera disepakati secara jernih wilayah jangkauan kesucian Pura sehingga tatanan kosmik terjaga baik. Pola insentif (sebagaimana wilayah pegunungan) juga layak dipertimbangkan.

Dan karena tanda-tanda kekacauan kosmik sudah terlihat jelas dan transparan, inilah saatnya diperlukan ketegasan sikap para pihak terkait, agar tata ruang dikembalikan ke posisi sebagaimana kita terima dari tetua Bali. Keadaannya serupa dengan Krishna yang harus turun bertempur menemani Arjuna. Dalam bagian yang amat kritis, Krishna bahkan memerintahkan Bima memukul kaki Duryodana. Diperlukan banyak keberanian dan ketegasan agar ruang-ruang kosmik bisa kembali ke posisi semula.

Kembali ke cerita parama shanti, bagi pekerja, damai berarti keadaan tersedianya pekerjaan. Di mata pertapa, damai adalah buah dari welas asih kita pada semua mahluk. Untuk penyembah (bakta), damai adalah keadaan batin yang sujud dan penuh bakti. Dan bagi elit yang lahir di waktu ketika kekacauan kosmik terjadi di mana-mana, shanti adalah keberanian untuk mengembalikan tatanan ke bentuk aslinya sebagai Bhur Bvah Svah. Yang di bawah kembalikan ke bawah, yang di tengah kembalikan ke tengah, yang di atas kembalikan ke atas. Inilah tata ruang Bali Shanti. Warisan terpenting yang bisa kita berikan kepada  generasi berikutnya.

Posted by: gedeprama | 2 February 2010

Purnama Di Tanah Tantra

Purnama bukan saja malam terang di mana banyak orang bersembahyang. Tetapi juga membawa pesan simbolik, di mana semua kegelapan malam diterangi cahaya bulan dari langit. Bila boleh jujur, kehidupan berisi banyak kegelapan. Dari kebodohan, kebingungan, kemarahan sampai kebencian. Itu sebabnya, tujuan akhir perjalanan spiritual disebut enlightenment (pencerahan). Ada kata light (cahaya) di tengahnya.  Ini serupa dengan warisan spiritual tetua Bali yang mengkaitkan banyak kegiatan spiritual dengan muncul dan lenyapnya cahaya.

Agak berbeda dengan tempat lain umumnya di dunia di mana persembahyangan dilakukan hanya di malam  terang,  diarahkan untuk tujuan  terang, di Bali kita diwarisi tetua bersembahyang baik di malam terang maupun  malam gelap. Persembahan (suguhan) tidak saja ditujukan untuk yang atas, tetapi juga untuk yang di bawah. Bila salah menjelaskan, segelintir anak muda Bali akan mengira tetuanya mengajarkan  memuja setan. Untuk itulah, mesti ada yang membahasakan warisan  tetua dalam bahasa  kekinian.

Pohon beracun

Ada berbagai cara menjelaskan perjalanan spiritual. Salah satu pendekatan yang mudah dicerna adalah dengan melihat kehidupan sebagai pohon beracun. Banyak sekali racun  dalam kehidupan. Dari  kemarahan, kebencian, kebingungan, bahkan judul suci dan tercerahkan pun  bisa membuat keracunan. Terutama karena merasa diri suci atau tercerahkan, kemudian merasa paling benar, dan marah besar tatkala  tidak diikuti.

Untuk itulah, langkah pertama adalah menjauh dari racun-racun kehidupan. Di Hindu disebut tapa brata yoga samadhi, di Buddha petapa menjaga dirinya dengan sila, vinaya, bodhichitta, samaya. Intinya satu, melatih diri keras-keras agar tidak dibawa pergi oleh arus kehidupan yang beracun.

Andaikan seseorang sudah melatih disiplin diri selama dua puluh tahun berturut-turut, itu masih sangat pendek dibandingkan  lamanya manusia mengotori batinnya selama berjuta-juta kehidupan. Untuk itu, langkah menjauh dari pohon beracun ini menjadi langkah sulit dan lama.

Tidak perlu menunggu sempurna (karena manusia tidak pernah sempurna), begitu batin cukup bersih (tandanya berhenti dicengkram kebencian dan kemarahan, lapar berbuat baik), maka langkah kedua terbuka. Disarankan untuk kembali ke kehidupan sehari-hari namun dengan tugas mulia: menjaga jangan sampai terlalu banyak mahluk mati keracunan.

Mereka yang panggilan hidupnya jadi orang suci memimpin upacara. Yang jadi guru membimbing masyarakat dengan Dharma.  Yang menjadi penulis menulis dengan kesejukan dan kelembutan. Bahkan menjadi orang tua pun termasuk menjalani tugas kedua ini. Esensinya satu, membimbing mahluk memasuki gerbang kebajikan.

Dalam tugas ini, tidak saja yang dibantu  yang memperoleh manfaat, yang membantu malah mendapat manfaat lebih besar. Terutama karena tugas-tugas pelayanan membuat Dharma semakin menyatu dengan batin ini.  Dalam bahasa Mahatma Gandhi: “Life spent in service is the most fruitful life“. Kehidupan yang diisi pelayanan, itulah kehidupan yang paling menggetarkan. Kabir lain lagi: “l glimsed into that light few seconds, it transformed me into a servant of life“. Cahaya itu muncul beberapa detik,  ia merubah seorang penyembah menjadi pelayan.

Dengan modal Dharma yang sudah membadan inilah, baru seseorang boleh memasuki wilayah ketiga  (Tantra): merubah racun menjadi obat kehidupan.

Bali dan Balian

Mungkin itu sebabnya sebagian orang Bali yang sudah memperoleh berkah spiritual kemudian menjadi balian (penyembuh). Tidak saja penyembuh fisik, namun juga  jiwa. Jiwa tersembuhkan sepenuhnya bila ia sudah mengalami pencerahan (the ultimate healing). Dalam bahasa seorang guru zen:  pencerahan adalah danau biru dan bukit menghijau. Sederhananya, semuanya sempurna apa adanya.

Bila semuanya sudah  sempurna apa adanya, tidak lagi tertarik berdebat, apa lagi menyebut orang lain salah. Mungkin ini sebabnya tetua Bali memberi sebutan Tuhan dengan Sang Hyang Embang (Yang Maha Sunyi), merayakan tahun baru dengan hari Nyepi, menyebut puncak persembahyangan dengan Parama Shanti (the ultimate peace), memberi tanda di titik pusat Pura Besakih di antara Kiwa-tengen dengan Shunya (keheningan yang tidak perlu dijelaskan), melihat keseharian dengan rwa bhineda.

Ada berbagai jalur yang tersedia untuk memahami Tantra. 0sho dalam The book of secret, menggunakan Vigyam Bhairava Tantra. J.Krishnamurti menggunakan  Freedom from the known. Bebas dari segala konsep.  Ramana Maharshi berjumpa Tantra setelah diam puluhan tahun, menyebut ajarannya Dhaksina Murti: Shiva yang  bisa dijumpai di kedalaman keheningan.

Dalam Anuttarayogatantra (kesempurnaan agung, Professor Daniel Cozort dari Universitas Virginia menyebutnya Highest Yoga Tantra), akar guru Tantra bernama Shamantabhadra. Ia disimbolkan dengan Pertapa telanjang yang memangku wanita telanjang. Bibirnya dalam posisi berciuman. Ini yang membuat segelintir sahabat di Barat tergelincir ke dalam kesimpulan berbahaya bahwa Tantra adalah seks bebas. Memang semua (termasuk seks) bisa ditransformasikan menjadi  jalan spiritual dalam Tantra. Namun jangankan murid, guru pun  jarang yang berani menggunakan seks sebagai jalan spiritual karena amat sangat berbahaya. Dalam sejumlah teks disebutkan, Shamantabhadra berarti  memberikan ruang baik pada kesucian maupun ketidaksucian. Dalam teks lain, Shamantabhadra berarti semuanya baik.

Sementara kebanyakan orang mempertentangkan suci dan kotor, Tantra melampauinya. Perang, pertempuran,  perkelahian semuanya berebut menyebut diri suci dan benar, serta melemparkan kekotoran, kesalahan pada pihak lain.

Mungkin itu maksud tetua Bali dengan warisan spiritual Lingga-Yoni dan Nyegara Gunung sebagai titik berangkat dalam menentukan posisi tempat suci, membuat sesajen, di mana spirit maskulin lebur dengan spirit feminim. Di Kintamani dan Uluwatu, keduanya malah menyatu ke dalam keindahan.

Di tingkat-tingkat awal belajar Tantra, murid diminta menyembah Dewa. Ini mirip sekali dengan praktek persembahyangan di Bali. Di tingkat berikutnya, bersahabat dengan Dewa. Selanjutnya rahasia. Makanya ada guru menyebut Bali sebagai pulau Tantra.

Guru-guru Tantra melihat dalam meditasi  sarva dharma. Semuanya serba Dharma. Tatkala seluruh dualitas (suci-kotor, benar-salah, baik-buruk, sukses-gagal) adalah Dharma, lidah jadi kelu. Tidak ada lagi yang layak ditanyakan, apa lagi diperdebatkan. Bukankah ini yang dimaksud  pencerahan adalah danau biru dan bukit menghijau?.

Seorang putera bertanya ke papanya, bila semua adalah Dharma, berarti korupsi, selingkuh juga Dharma? Dengan lembut papanya menjawab: “memandanglah seperti langit, bertindaklah seperti bumi”. Langit memayungi apa saja dan siapa saja tanpa keserakahan memilih. Tidak ada pengkotak-kotakan Dharma-Adharma bagi langit. Namun di bumi, bila menanam kelapa dapatnya kelapa,  menanam ketela dapatnya ketela. Begitu juga ketika bertindak, ia yang mencuri akan diciduk polisi. Ia yang menyayangi akan disayangi.

Dalam pandangan ala langit, kaya baik miskin juga baik. Dengan kekayaan lebih banyak yang bisa dibantu. Melalui kemiskinan kehidupan sedang mengajarkan kerendahatian. Sehat baik, sakit juga baik. Kesehatan adalah kesempatan untuk banyak berdoa. Sakit adalah kesempatan membayar hutang-hutang karma.

Dalam bertindak ala bumi, semua ada hukumnya. Ia sesederhana menyentuh air basah, memegang api terbakar. Ia yang di dalamnya kebencian akan mengundang kebencian di mana-mana. Ia yang di dalamnya cinta akan berjumpa cinta di mana-mana.

Inilah purnama di tanah Tantra. Berjumpanya Ayah langit dengan Ibu pertiwi. Kebingungan dalam memandang diterangi oleh cahaya bulan dari langit. Kebingungan dalam bertindak dibimbing cinta Ibu pertiwi. Makanya ada yang menulis “realization is the total collapse of confusions“. Ketika jiwa sepenuhnya sembuh, seluruh bangunan kebingungan mengalami keruntuhan. Menyisakan sebuah kehidupan yang terang benderang yang berisi kasih sayang.

Perhatikan apa yang ditulis Ezra Bayda dalam At Home In The Muddy Water: “May we exist like a lotus. At home in the muddy water. Thus we bow to life as it is”.  Guru-guru tercerahkan di luarnya juga mengalami naik-turun (sehat-sakit, dipuji-dicaci, disebut baik disebut munafik dll). Bedanya dengan orang kebanyakan, apa pun yang terjadi dalam kehidupan, manusia tercerahkan sama sekali tidak tersentuh. Persis seperti bunga Padma, di air tetapi tidak basah, di lumpur namun tidak kotor. Sebaliknya malah bertumbuh dan mekar di lumpur. Karena itulah bisa membungkuk hormat pada kehidupan apa adanya.

Di tingkatan ini, tentu bukan kebetulan kalau Guru Besar Mpu Kuturan di abad ke-11 pernah melihat Bali dengan mata spiritual kemudian menyebut Bali dengan Padma Bhuwana (alam semesta yang menyerupai bunga Padma),  atau Ida Dhang Hyang Dwi Jendra di abad ke-16 yang memberi kita warisan Padma Sana (tempat duduk di atas bunga Padma).

Posted by: gedeprama | 24 October 2009

Kekalahan, Kemenangan, Keindahan

Entah sejak kapan mulainya, sudah lama manusia hidup hanya dengan sebuah tema: memburu kemenangan, mencampakkan kekalahan. Di Jepang dan berbagai belahan dunia lainnya, tidak sedikit manusia yang mengakhiri hidupnya semata-mata karena kalah. Karena semua hal yang melekat pada kekalahan  serba negatif: jelek, hina.

Sekolah sebagai tempat di mana masa depan disiapkan rupanya ikut-ikutan. Melalui program serba juara, sekolah ikut memperkuat keyakinan  bahwa ‘kalah itu musibah’. Tempat kerja juga serupa. Tidak ada tempat kerja yang absen dari kegiatan sikut-sikutan. Semuanya mau pangkatnya naik. Tidak ada yang mau turun. Lebih-lebih dunia politik, kekalahan hanyalah kesialan. Dan bila boleh jujur, aroma seperti inilah yang mewarnai Indonesia di awal April 2009 menjelang pemilu sekaligus pilpres.

Kalah juga indah

Tidak ada yang melarang manusia mengejar kemenangan. Kemenangan ibarat padi bagi petani, seperti ikan buat nelayan. Ia pembangkit energi yang membuat kehidupan berputar. Ia pemberi semangat agar manusia tidak kelelahan. Namun seberapa besar pun energi maupun  semangat manusia, bila putaran waktunya kalah, tidak ada yang bisa menolaknya.

Oleh karena itulah, orang bijaksana belajar melatih diri untuk tersenyum baik di depan kemenangan maupun kekalahan. Berjuang, berusaha, bekerja, berdoa tetap dilakukan. Namun bila hadiahnya kekalahan, hanya senyuman yang memulyakan perjalanan.

Membawa tropi sebagai simbol kemenangan itu indah. Dihormati karena menang juga indah. Tapi tersenyum di depan kekalahan, hanya orang yang pandangannya mendalam yang bisa melakukannya. Ibarat gunung, pemenang-pemenang itu serupa dengan batu-batu di puncak gunung. Mereka tidak bisa duduk di puncak gunung bila tidak ada batu-batu di dasar dan lereng gunung (baca: pihak yang kalah).

Sebagian orang bijaksana malah bergumam, kekalahan lebih memulyakan perjalanan dibandingkan kemenangan. Terutama karena di depan kekalahan manusia sedang dilatih, dicoba, dihaluskan. Kekalahan di jalan ini berfungsi seperti amplas yang menghaluskan kayu yang mau jadi patung berharga mahal. Serupa pisau tajam yang sedang melukai bambu yang akan jadi seruling yang mewakili keindahan.

Kesabaran, kerendahatian, ketulusan, keikhlasan, itulah kualitas-kualitas yang sedang dibuka oleh kekalahan. Serangkaian hadiah yang tidak mungkin diberikan oleh kemenangan. Ia yang sudah membuka pintu ini, akan berbisik: kalah juga indah!. Itu sebabnya seorang guru pernah berpesan: “0ld friends pass away, new friends appear. The most important thing is to make it meaningful“. Semua datang dan pergi (kemenangan, kekalahan, keberuntungan, kesialan), yang paling penting adalah bagaimana mengukir makna dari sana.

Jarang terjadi ada manusia yang mengukir makna mendalam ditengah gelimang kemenangan. Terutama karena kemenangan mudah sekali membuat manusia tergelincir ke dalam kemabukan dan lupa diri. Pengukir-pengukir makna yang mengagumkan seperti Kahlil Gibran, Jalalludin Rumi, Rabindranath Tagore, Thich Nhat Hanh semuanya melakukannya di tengah-tengah kesedihan. HH Dalai Lama bahkan menerima hadiah nobel perdamaian sekaligus penghargaan sebagai warga negara kelas satu oleh senat AS, setelah melewati kesedihan dan kekalahan selama puluhan tahun di pengasingan.

Memaknai kekalahan

Mengukir makna memang berbeda dengan mengukir kayu. Dalam setiap konstruksi makna terjadi interaksi dinamis antara realita sebagaimana apa adanya dengan kebiasaan seseorang mengerti (habit of undestanding). Ia yang biasa mengerti dalam perspektif tidak puas, serba kurang, menuntut selalu lebih, akan melihat kehidupan yang tidak menyenangkan di mana-mana. Sebaliknya, ia yang berhasil melatih diri untuk selalu  bersyukur, ikhlas, tulus  lebih banyak melihat wajah indah kehidupan.

Belajar dari sini, titik berangkat dalam memaknai kekalahan adalah melihat kebiasaan kita dalam mengerti. Dalam bahasa seorang kawan: the blueprint is found within our mind. Membiarkan kemarahan dan ketidakpuasan mendikte pengertian, hanya akan memperpanjang daftar panjang penderitaan yang sudah panjang.

Seorang guru mangambil sebuah gelas yang berisi air, kemudian meminta muridnya memasukkan sesendok garam ke dalamnya dan diaduk. Setelah dicicipi ternyata asin rasanya. Setelah itu, guru ini membawa murid yang sama ke kolam luas lagi-lagi dengan sesendok  garam yang dicampurkan ke air di kolam. Kali ini rasa air tidak lagi asin.

Inilah yang terjadi dengan batin manusia. Bila batinnya sempit dan rumit (fanatik, picik, mudah menghakimi) maka kehidupan menjadi mudah asin rasanya (marah, tersinggung, sakit hati). Tatkala batinnya luas tidak terbatas, tidak ada satu pun hal yang bisa membuat kehidupan jadi mudah asin rasanya.

Dengan modal seperti ini, lebih mudah memaknai kekalahan bila manusia sudah berhasil mendidik diri berpandangan luas sekaligus bebas. Berusaha, bekerja, belajar, berdoa itu adalah tugas-tugas kehidupan. Namun seberapa pun kehidupan menghadiahkan hasil dari sini, peluklah hasilnya seperti kolam luas memeluk sesendok garam (baca: tanpa rasa asin).

Apa yang kerap disebut menang-kalah, sukses-gagal dan bahkan hidup-mati, hanyalah wajah-wajah putaran  waktu. Persis ketika jam menunjukkan sekitar jam enam pagi, waktunya matahari terbit. Bila jam enam sore putaran waktu matahari tenggelam. Memaksa agar jam enam pagi matahari tenggelam, tidak saja akan menjadi korban canda tetapi juga korban karena kecewa.

Maafkanlah bila terdengar aneh. Pejalan kaki ke dalam diri yang sudah teramat jauh bila ditanya mau kaya atau miskin, ia akan memilih miskin. Bila diminta memilih antara menang dan kalah, ia akan memilih kalah. Kaya tentu saja berkah, namun sedikit ruang-ruang latihan di sana. Miskin memang ditakuti banyak orang, namun kemiskinan menghadirkan daya paksa yang tinggi untuk senantiasa rendah hati. Menang memang membanggakan, namun godaan ego dan kecongkakannya besar sekali. Kalah memang tidak diinginkan nyaris semua orang, tetapi kekalahan adalah ibunya kesabaran.

Seorang guru meditasi yang sudah sampai di sini pernah berbisik, finally l realize there is no difference between  mind and  sky. Inilah buah meditasi. Batin menjadi seluas langit. Tidak ada satu pun awan (awan hitam kesedihan, awan putih kebahagiaan) yang bisa merubah langit. Dan ini lebih mungkin terjadi dalam manusia yang sudah berhasil memaknai kekalahan.

Posted by: gedeprama | 5 October 2009

Bunga Tidak Pernah Bersuara

Riuh, ribut, demikianlah kira-kira suasana komunikasi antarmanusia di tahun 2009. Mantan presiden AS George W. Bush mengakhiri jabatannya dengan dilempar sepatu. Negeri ini juga riuh dan ribut urusan presiden dan pemilu.

Di tengah-tengah suhu komunikasi yang memanas ini, ada indahnya bila sekali-sekali sepi-sunyi yang mengemuka. Bukan sebagai lawan keributan. Hanya mengemuka seperti menarik nafas dalam-dalam sekali waktu setelah lama tidak merasakan segarnya bernafas.

Dalam menelusuri segarnya kehidupan, ada dua jalur yang tersedia. Ada yang berjalan dengan intelektualitas, ada yang melangkah di jalan-jalan bakti (devotion). Pada pendekatan pertama, semuanya dianalisis. Itu sebabnya para master meminta penekun meditasi di Barat (yang kebanyakan berjalan di jalan intelektualitas) segera merealisasikan kekosongan (emptiness). Begitu mengalami langsung kekosongan (bukan mengerti melalui intelek) baru bisa mengagumi sepi-sunyi.

Di jalan bakti, tidak diperlukan terlalu banyak perdebatan. Yang ada hanya bakti yang tulus, penuh sujud, rasa hormat yang mendalam. Dan ujung-ujungnya sama, mengalami kekosongan. Dalam bahasa seorang guru yang sudah sampai di puncak, lakukan terus menerus bakti. Sampai di sebuah titik sehingga yang memberi, yang diberi maupun pemberian sesungguhnya tidak ada. Itulah sepi-sunyi.

Sembah rasa

Di Timur dulunya kebanyakan manusia berjalan di jalan-jalan bakti. Itu sebabnya berdoa dipadankan dengan sembahyang. Ada kata sembah di sana. Awalnya memang dimulai dengan dualitas antara penyembah dan yang disembah, namun kemudian keduanya menjadi satu, serta ujungnya yang satu pun lenyap dalam keheningan.

Dan semua sembah mulai dengan sembah raga. Namun karena badan terbuat dari bahan-bahan yang bertentangan (air-api, tanah-udara), banyak manusia yang hanya menggunakan sembah raga kemudian mengalami guncangan-guncangan. Seberguncang bahan-bahan yang membentuk tubuh. Dari sinilah lahir kebutuhan melakukan sembah rasa. Di mana lebih dari sekadar menggunakan raga, badan mulai dibimbing oleh getaran-getaran rasa. Bukan rasa suka yang bertentangan dengan duka, bukan suci yang diseberangkan dengan kotor.  Melainkan rasa yang memeluk mesra semuanya.

Seperti seorang Ibu yang merawat putera tunggalnya. Tatkala puteranya tersenyum, ia gendong. Manakala puteranya menangis sambil menyisakan kotoran di tempat tidur, lagi-lagi ia gendong puteranya dengan penuh kasih sayang. Sembah rasa juga serupa, belajar tersenyum pada apa saja yang datang dalam kehidupan. Sebagai hasilnya, hidup berputar lentur bersamaan dengan irama alam. Siang tersenyum pada cahaya terang dengan jalan bekerja. Malam berpelukan dengan kegelapan melalui istirahat di tempat tidur.

Di jalan ini, semuanya menjadi sembahyang. Tatkala makan maka makanlah dengan penuh rasa syukur. Di hari yang sama ada jutaan manusia kelaparan.  Ketika menyapu, menyapulah sambil bersiul. Di menit yang sama ada jutaan manusia sakit di rumah sakit. Bila begini caranya, every act is a rite. Setiap langkah adalah sembah.

Puisi Jalalludin Rumi menjadi wakil dalam hal ini. Hidup serupa bawang merah. Di luar kotor kecoklatan. Tatkala dibuka jadi putih. Semakin dibuka semakin putih. Tambah dibuka tambah putih. Dan tatkala tidak ada lagi yang bisa dibuka, yang tersisa hanya air mata yang meleleh.

Sembah rahasia

Ia yang sudah berjalan jauh dengan sembah rasa, suatu waktu akan melihat bila alam menyimpan banyak rahasia. Di Timur, Tantra adalah salah satu jalan rahasia. Tidak banyak orang yang bisa membuka pintu Tantra. Di samping berat juga berbahaya. Ada yang mengandaikan Tantra dengan jalan tol yang cepat sampainya. Namun mengalami kecelakaan di jalan tol amat sangat berbahaya.

Itu sebabnya ada yang membagi perjalanan Tantra ke dalam tiga gerbang. Kehidupan diandaikan dengan pohon beracun karena banyak godaannya. Di tahap pertama, manusia disuruh menjauh dari pohon beracun. Makanya banyak imbauan melakukan puasa, pengendalian diri, hidup berkecukupan, penuh rasa syukur. Begitu lewat gerbang pertama yang ditandai oleh kemampuan menguasai diri (self mastery) yang baik, kemudian di langkah kedua murid akan diminta untuk menjadi penjaga pohon beracun. Mulailah seorang penekun menjadi “penggembala domba” bagi banyak kehidupan.

Ada yang jadi guru, penulis, pemimpin upacara, pemimpin yang jujur. Intinya satu, menjaga jangan sampai terlalu banyak kehidupan keracunan. Begitu jam terbang menjadi penggembala domba sudah cukup, baru boleh masuk ke inti sari Tantra: mengolah racun menjadi obat kehidupan. Makanya, bila di kebanyakan jalur hawa nafsu dilarang, di Tantra ada pendekatan menggunakan hawa nafsu (khususnya seks) sebagai kendaraan transformasi spiritual. Bukan untuk dibawa hanyut oleh nafsu, namun menghanguskan nafsu dengan nafsu.

Itu sebabnya di banyak tempat di Jawa, Sumatera, Kalimantan, India, Amerika Latin banyak peninggalan-peninggalan tua yang memamerkan hubungan seksual. Di Bali disebut lingga-yoni, nyegara-gunung. Siapa saja yang sudah membumihanguskan semua keinginan (termasuk keinginan menjadi suci atau tercerahkan), ia mulai belajar melihat rahasianya rahasia.

Persembahan di banyak tradisi (tidak saja di Bali) seringkali berisi bunga. Di sejumlah negara (seperti Jepang) bahkan menempatkan bunga secara amat istimewa. Seperti ada rahasia di sana. Bunga mekar mewakili keindahan. Namun seberapa indah pun bunga, beberapa waktu kemudian harus ikhlas menjadi sampah. Dan baik tatkala diberi sebutan indah maupun sebutan sampah, bunga tidak pernah bicara. Siapa yang hidupnya mengalir sempurna dari bunga (sukses, dipuja) menjadi sampah (gagal, dicerca), kemudian (bila bisa mengolahnya) menjadi bunga lagi, ia sudah membuka salah satu pintu rahasia.

Seorang guru yang sudah sampai di sini pernah menulis: Physical isolation is not the true solitude. Totally free from any grasping, that’s the true solitude. Lepas bebas dari segala kemelekatan (baik-buruk, benar-salah), itulah keheningan sesungguhnya.

Ada yang bertanya, bila sudah lepas-bebas, lantas apa pedoman bertindak? Seorang guru berbisik pada muridnya: memandanglah seperti langit, bertindaklah seperti ibu pertiwi. Langit memayungi semuanya, ibu pertiwi bertindak ketat mengikuti hukum alam. Bila menanam jagung, buahnya jagung. Kalau memelihara kelapa, buahnya kelapa.

Posted by: gedeprama | 28 September 2009

Survival of the Kindest

Problematic society, itu sebutan sahabat yang memenuhi kepalanya dengan kejengkelan tentang Indonesia. Lebih-lebih menjelang pemilu 2009 di mana ruang publik dibikin riuh oleh banyak sekali iklan politik. Ada memang yang menyebutnya sebagai sampah virtual. Jujur harus diakui, setiap orang punya cara bertumbuh. Hanya ego yang buru-buru menyebutnya buruk.

Pepohonan bertumbuh secara tenang, tulus, ikhlas. Sedangkan anjing kampung berkelahi baik tatkala ada makanan maupun saat tidak ada makanan. Yang satu lembut, sejuk, teduh apa pun godaannya, yang lain keras ganas di segala cuaca. Namun keduanya sedang bertumbuh.

The gift of listening

Kerangka baik-buruk, suci-kotor, sukses-gagal, tinggi-rendah dan dualitas lainnya adalah cara pikiran manusia membuka pintu pengertian. Sayangnya, begitu pintunya terbuka, dualitasnya tidak ditinggalkan di belakang malah digendong ke mana-mana .

Ini serupa dengan cerita tentang seseorang yang hampir mati kelaparan di seberang sungai, kemudian diselamatkan oleh sebuah perahu. Demikian tingginya hutang budi dan kemelekatan orang ini pada perahu, kemudian ia menggendongnya ke mana-mana. Belakangan orang ini mati karena kelelahan menggendong perahu.

Dalam wajah yang berbeda, orang-orang yang menggunakan pengetahuannya, pengalamannya, tradisinya, agamanya untuk menghakimi dan menyakiti orang, sejujurnya bernasib serupa dengan penggendong perahu tadi: berjalan kelelahan menggendong perahu keyakinan. Untuk itulah, orang-orang bijaksana selalu menyediakan diri untuk belajar dan mendengar. Dengan belajar, manusia berhenti menjadi kura-kura yang menganggap rumah kecilnya adalah satu-satunya rumah yang layak huni. Dengan mendengar, manusia menyatu bersama samudera pengertian yang maha luas. Bila ada sesuatu yang terlihat aneh dan susah untuk dimengerti, kemungkinan terlalu tinggi atau terlalu rendah dibandingkan dengan tingkat kemampuan pemahaman sekarang.

Mungkin itu sebabnya, kepala manusia memberikan pertanda bahwa telinga, mata, lobang hidung semuanya serba dua, namun mulut hanya ada satu. Dengan kata lain, pemahaman lebih mungkin terbuka bila lebih banyak mendengar, melihat dan merasakan segarnya kehidupan, sekaligus lebih sedikit berbicara. Bagi yang sudah menyentuh batas-batas rasionalitas dan mengerti kalau pengetahuan bisa menjadi penghalang pemahaman, akan tersenyum sambil berbisik: ternyata bisa mendengar adalah sebuah berkah! Seorang guru di Prancis menulis: to say you don’t know is the beginning of knowing. Menyadari diri tidak tahu adalah awal pengetahuan sekaligus keagungan.

The gift of understanding

Dengan modal mendengar dan belajar inilah, kemudian para bijaksana menelusuri sisi-sisi kehidupan. Sesuatu yang awalnya terlihat baik, belakangan menjadi buruk. Hal lain yang tadinya terlihat suci menjadi sumber belenggu yang menakutkan kemudian. Ujung-ujungya satu, tidak ada yang kekal. Semuanya seperti air sungai: mengalir dan mengalir. Sehingga tidak saja sungai yang baru setiap detiknya (karena airnya berganti terus), pengertian juga senantiasa baru dan segar.

Makanya di Timur tidak sedikit manusia yang terbebaskan dan tercerahkan hanya dengan memahami dalam-dalam makna ketidakkekalan. Pengetahuan, filsafat, agama (terutama yang sangat mencengkram sehingga membuat orang jadi fanatik) ibarat batu besar di sungai, mandek tidak bergerak. Kesediaan untuk belajar dan mendengar ibarat air mengalir di sungai, pada waktunya ia akan sampai di samudera.

Bila boleh berterusterang, kehidupan menyimpan tidak sedikit tokoh yang sudah menemukan indahnya belajar dan mendengar. Ahmad Syafii Maarif (mantan ketua umum PP Muhamadiyah) mengakhiri renungannya tentang hari raya Idul Fitri tahun 2008 dengan mengutip pendapat Mahatma Gandhi yang beragama Hindu. Yudi Latief (salah satu murid almarhum Nurcholis Majid) menutup refleksinya tentang hari raya Idul Fitri di tahun 2008 dengan meminjam argumen pendeta Buddha Thich Nhat Hanh. Seorang romo Katolik yang memimpin gereja di Puja Mandala Bali menghabiskan waktu tahunan di Mesir belajar filsafat Islam. Dari penuturannya mengalir wajah-wajah Islam yang indah.

HH Dalai Lama berkali-kali mengemukakan tidak tertarik untuk merubah keyakinan orang menjadi pengikut Buddha. Satu-satunya ketertarikannya adalah bagaimana membangun hubungan harmonis di antara sesama manusia. Itu sebabnya banyak pihak menyebut beliau memiliki universal appeal.

Inilah ciri-ciri manusia yang didalamnya kaya karena belajar dan mendengar. Tatkala ada pengertian yang berbeda (mengenai filsafat, agama, ideologi, tradisi) tidak buru-buru diberi judul salah. Mereka mulai dengan mendengar kemudian belajar. Kesediaan untuk mengerti itu sebuah berkah (the gift of understanding), karena melalui pengertian terbuka pintu-pintu persahabatan, persaudaraan yang menjadi modal kebahagiaan kemudian.

Ia yang sampai di puncak pemahaman ini akan berbisik: “The best theologian is the one who never speaks about  God”. Berbicara menunjukkan seseorang masih dua (subyek-objek, Tuhan-manusia). Dalam pemahaman yang dibimbing persahabatan ini, ada yang menyebutkan bahwa yang dua sudah menjadi satu. Ada yang hanya senyum-senyum lembut tanpa suara. Raut mukanya memberi tanda tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.

Dari sini muncul pertanyaan, bila demikian bingkai pengertiannya, lantas apa pedoman bertindak? Seorang guru yang amat menyentuh memberi pedoman sederhana. Membantu meringankan beban penderitaan para makhluk adalah yang paling baik. Bila tidak bisa, cukup jangan menyakiti. Inilah prinsip survival of the kindest. Kehidupan menjadi tahan guncangan karena kebajikan.

Semua kehidupan dimulai dengan kebaikan pihak lain. Tatkala lahir kita berhutang pada kebaikan orang tua dll. Nanti ketika meninggal lagi-lagi harus bergantung pada kebaikan orang lain. Kita didoakan, dibikin upacara oleh orang lain. Dan bila diantara kelahiran dan kematian lupa mengisinya dengan kebaikan, itu berarti gagal membayar hutang kebaikan. Makanya ada yang menulis: compassion is the best protection. Welas asihlah penjaga kehidupan yang sesungguhnya. Tidak saja menjaga sekarang, tetapi juga menjaga sampai setelah kematian.

Perhatikan kehidupan Mohammad Yunus, Nelson Mandela, Dalai Lama yang tanpa senjata, tanpa agen rahasia, namun bercahaya ke mana-mana. Boleh saja ada orang hidup penuh penghakiman (baik untuk diri, buruk untuk orang), di jalan kebajikan semuanya menghadirkan pelajaran. Sebagai hasilnya, tidak saja orang baik terlihat indah. Iklan-iklan politik juga indah. Semuanya sedang bertumbuh, semuanya hanya cara guru membimbing.

Older Posts »

Categories