Bagi orang biasa, pagi hari saat cuaca masih dingin, langit dihiasi kilauan bintang, dedaunan dipeluk lembut embun, ini pemandangan biasa. Tapi bagi setiap penggali ke dalam diri yang penuh bakti, dibekali kesempurnaan kasih sayang, penggalian ke dalamnya sudah dalam mengagumkan, pagi hari adalah saat-saat penuh keindahan. Bagi yang sudah mengalami mengerti, takjub, sujud itu sebagian hal yang muncul dari dalam sini. Read More…
Compassion Festival (6): Tetesan Embun Pencerahan
Compassion Festival (5): Resting in Compassion
Tidak saja di Bali, di banyak tempat malam purnama menjadi malam yang sangat menentukan dalam pertumbuhan spiritual. Banyak sekali yang mau diceritakan alam melalui malam terang di bulan purnama. Itu sebabnya, sejumlah Guru tercerahkan di masa lalu mengalami realisasi tingkat tinggi di malam purnama. Read More…
Compassion Festival (4): Home of Compassion
Di banyak tempat, banyak sekali manusia yang bertanya penuh keingintahuan: where is home? Di mana rumah sejati kita? Terutama karena terlalu banyak hal ekstrim telah terjadi yang membuat manusia tidak nyaman. Cuaca ekstrim, perilaku manusia ekstrim, kekerasan ekstrim. Read More…
Compassion Festival (3): In The Eyes of Compassion
Tatkala mantan presiden Amerika Serikat George W. Bush kepalanya dilempar sepatu, kemudian mantan presiden Lybia Muammar Khadafy diturunkan dari kursinya secara sangat tidak hormat, sejujurnya dunia kepemimpinan sedang berduka. Di zaman dulu, peradaban bisa lebih terang karena pemimpin dihormati setara dengan menghormati dewa. Sehingga di putaran waktu di mana terjadi kekacauan kosmik di mana-mana salah satu buktinya kepala negara adi kuasa di lempar dengan penutup kaki bernama sepatu, timbul pertanyaan dari mana cahaya keteladanan akan berasal?. Bila boleh jujur, hanya kesedihan yang menjadi tempat mengadu di zaman ini. Bukan kesedihan yang membakar kemarahan, tapi kesedihan sebagai pembuka pintu keterhubungan. Read More…
Compassion Festival (2): Compassion Heals
Di semua kaki langit manusia rindu mendalam akan energi-energi kesembuhan. Terutama karena di sana-sini muncul penyakit aneh-aneh, angka bunuh diri menaik, rumah sakit jiwa penuh, perceraian meningkat, konflik dan perang serupa tidak pernah turun. Sehingga banyak yang bertanya, di mana energi-energi kesembuhan bisa ditemukan? Tempat lain mungkin punya aura lain. Dan di Bali selama bertahun-tahun auranya adalah aura kedamaian. Terutama karena puncak persembahyangan orang Bali bernama Parama Shanti (damai yang maha utama). Kedamaian ini kemudian menjadi lahan subur tumbuhnya belas kasih (compassion). Dan belas kasih inilah yang menyembuhkan. Read More…
Compassion Festival (1): God As Compassion
Sekian tahun yang lalu, persisnya 12 Oktober 2002 *), untuk pertama kalinya bom teroris meledak di Bali dengan korban ratusan nyawa. Sedih, berduka, prihatin tentu saja. Terutama karena bertahun-tahun pulau Bali menjadi ikon dunia dalam hal kedamaian. Dalam waktu sekejap, bom teroris meruntuhkan kedamaian itu menjadi ketakutan bercampur kesedihan. Seperti dikomando oleh sebuah kekuatan yang tidak bisa dijelaskan, berbagai pihak di dalam negeri maupun luar negeri, semuanya bergerak cepat serentak sebagai tanda simpati dan empati. Uang, tenaga, obat-obatan, pemberitaan, hiburan musik semuanya mengalir deras sekali. Read More…
Nonviolent Soldier of Islam
Seorang sahabat Muslim mengirim buku indah berjudul “Nonviolent Soldier of Islam“. Ia ditulis oleh penulis buku terkenal Eknath Easwaran yang pernah menulis Bhagavad Gita sekaligus Dhammapada. Begitu melihat pembungkus depan dan belakang buku ini saja sudah terasa hawa sejuk dan lembut. Perhatikan salah satu kalimat indah yang ditulis di bungkus belakang: “Ia yang kuat, memilih bertindak tanpa kekerasan”. Sederhananya, kelembutan, kesejukan adalah sahabatnya manusia-manusia yang di dalamnya kuat. Ini sesungguhnya bukan pesan baru, karena sudah diwartakan para suci jauh sejak ribuan tahun yang lalu. Tapi ia terasa menyirami karena peradaban kekinian penuh dengan hawa panas kekerasan. Read More…
Kasih Sayang Menyembuhkan
Tatkala sebuah biro perjalanan besar di Bali menghubungi kantor, mengabarkan bahwa seorang pengusaha kaya dari China yang datang ke Bali dengan pesawat jet pribadi, mau belajar meditasi, terus terang di dalam sini kaget. Terutama karena teramat jarang terjadi, seseorang yang masih kaya dan bahagia hidupnya kemudian ditarik magnet spiritualitas demikian kuatnya. Nyaris semua orang yang datang ke kelas meditasi, baru datang setelah hidupnya berada di jurang menakutkan (kanker stadium lanjut, lumpuh karena stroke, mengalami gangguan kejiwaan dll). Read More…
Compassion In Religion
Menyusul tumbangnya gedung kembar WTC New York di tahun 2001 ditabrak oleh dua pesawat teroris, merebak gelombang besar ateis di beberapa belahan dunia. Bila ateis generasi pertama (Marx, Nietzsche, Freud dll) muncul karena dialog agamawan-ilmuwan buntu - terutama menyangkut penciptaan semesta, ateis generasi ke dua (contoh menonjolnya adalah ahli biologi dari Universitas Oxford yang menulis buku best seller provokatif berjudul God Delusion) sebagian besar muncul karena kemarahan dan kebencian. Tidak jarang kelompok ini menyebut agama sebagai sumber kejahatan. Read More…
Nelayan Tua
Setiap kali lewat daerah pesisir pantai yang kering, kerap ada yang bertanya dari mana orang-orang pinggir pantai memperoleh kehidupan? Tentu saja dari pekerjaan nelayan. Dan sejalan dengan perkembangan peradaban yang semakin mendewakan harta, nelayan juga menggunakan alat-alat menangkap ikan agar bisa mendapatkan ikan tangkapan sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan dampak jangka panjang. Bahkan ada yang menggunakan alat tangkap ikan yang sangat menghancurkan lingkungan. Seorang sahabat di Barat punya cerita menarik tentang seorang nelayan tua. Sama dengan nelayan lainnya, nelayan tua ini juga melempar jaringnya selebar-lebarnya. Bedanya, tatkala jaringnya diangkat ikan-ikan kecil dilepaskan balik ke samudra, yang diambil hanya segelintir ikan besar itu pun hanya dalam jumlah kecil yang cukup untuk makan hari itu saja. Cerita sederhana ini adalah cerita tentang pencarian diri. Sebagaimana kebanyakan nelayan, kebanyakan manusia mengambil apa saja yang lewat di depan tidak peduli besar atau kecil. Dalam bahasa banyak kawan: “peluang tidak datang dua kali”. Tapi segelintir jiwa yang sudah tua, mengembalikan ke alam apa saja yang masih memerlukan pertumbuhan, hanya mengambil sebagian kecil saja yang betul-betul dibutuhkan. Read More…