• 26

    Aug

    Cahaya Yang Sesungguhnya

    “Sudah cukup mengejar cahaya ke mana-mana, sudah saatnya berbagi cahaya kepada dunia” Seorang sahabat dari Jakarta yang pertama kali ikut sesi meditasi di Bali Utara bercerita dengan penuh rasa syukur, kalau saat meditasi bersama di pagi hari beliau melihat cahaya yang sangat indah bergerak dari arah utara, kemudian jatuh dekat-dekat tempat kami sedang melakukan meditasi pagi. Pengalaman melihat cahaya seperti ini saat meditasi sudah dialami banyak orang sejak dulu sekali. Pesannya kemudian, jangan pernah mengizinkan penampakan cahaya sebagai bahan untuk mempertinggi ego dan keakuan. Jangan pernah merasa diri leb...
    Read More
  • 19

    Aug

    Malaikat Di Dalam Diri

    “Ia yang di dalamnya cahaya akan berjumpa cahaya di mana-mana” Kerinduan mendalam akan tokoh yang layak ditauladani, itu salah satu bentuk kerinduan generasi muda di zaman ini. Jika di negara-negara berkembang manusia kekurangan tokoh bisa dimaklumi. Namun jika di negara maju yang makmur juga kelangkaan tokoh, sungguh itu sebuah kesedihan mendalam. Seorang sahabat yang berhati indah sempat terkejut tatkala pertama kali mendengar kalau ada calon presiden dari Amerika Serikat yang menggunakan ancaman terhadap agama orang lain sebagai tema kampanye. Amerika Serikat sudah lama menjadi pemimpin terdepan dalam hal demok...
    Read More
  • 12

    Aug

    Sepasang Sayap Jiwa

    “Kegembiraan membuat manusia menikmati sang musik, tapi kesedihan membuat jiwa mengerti makna sang lirik” Nyaris semua orang lari dari kesedihan. Makanan, minuman, hiburan adalah sebagian tempat lari dalam hal ini. Dan sekuat apa pun manusia lari dari kesedihan, kesedihan akan datang lagi dan lagi. Jangankan saat tidak ada nabi, bahkan saat lahir nabi pun kesedihan hadir sebagai tamu kehidupan. Itu sebabnya kenapa jiwa-jiwa bercahaya belajar untuk tidak lari dari kesedihan. Penyair besar Kahlil Gibran adalah sebuah contoh legendaris. Mahakaryanya yang berjudul “Sang Nabi” lahir saat beliau mengalami k...
    Read More
  • 5

    Aug

    Damai, Damai, Damai

    “Di zaman dulu, manusia disebut pahlawan karena berani menghancurkan kehidupan. Di zaman ini, orang disebut pahlawan karena berani menyayangi kehidupan” “Menyembah yang tidak terlihat, tapi menghancurkan yang terlihat”, itulah yang dilakukan sebagian jiwa-jiwa menderita yang tergoda untuk melakukan kekerasan. Jangankan manusia biasa, bahkan tempat suci pun dihancurkan. Sedih tentu saja, namun kesedihan bukan benih-benih kekerasan. Kesedihan adalah undangan untuk memercikkan tirtha memaafkan dan kasih sayang pada setiap api kekerasan. Sikap seperti ini diperlukan, terutama karena penderitaan hadir di m...
    Read More
- Next

Author

Search

Recent Post