• 12

    Dec

    Jiwa Yang Mulya

    Seorang sahabat dari Jakarta bertanya penuh keheranan membaca berita kalau ada tokoh agama tertentu yang ditolak kehadirannya di Bali melalui sebuah demonstrasi: “Bagaimana itu bisa terjadi di tanah yang penuh toleransi seperti Bali?”. Suka tidak suka demikianlah putaran zaman. Sejujurnya di setiap tempat dan setiap agama ada jiwa yang terbakar sekaligus jiwa yang mekar. Ciri dominan jiwa-jiwa yang terbakar, mereka lebih banyak diguncang oleh penolakan di dalam diri mereka. Setiap penolakan yang mereka lakukan pada hal-hal di luar hanya pantulan dari penolakan sesungguhnya yang terjadi di dalam.
    Read More
  • 6

    Dec

    Kidung Kedamaian Dari Bali

    Di malam bulan purnama 3 desember 2017 terjadi apa yang disebut psikolog kondang Carl Jung sebagai synchronicity (kebetulan yang kaya akan makna). Situs liputan6.com memuat berita panas, yang mengutip pendapat senator AS Lindsey Graham yang menyebutkan “perang nuklir dengan Korea Utara sudah dekat”. Terutama karena Korea Utara sudah siap dengan rudal balistik antarbenua yang bisa menjangkau daratan AS. Di waktu yang bersamaan, situs express.co.uk (home of the daily and sunday express) yang bermarkas di Inggris memuat berita yang sangat seju...
    Read More
  • 24

    Nov

    Hidup Ini Berkah

    Seorang ayah yang masih muda datang berkunjung di sosial media sambil marah-marah. Setelah didengarkan dengan penuh empati, ternyata ia memiliki seorang anak yang lumpuh sejak lahir. Sehingga seluruh hidup anak ini hanya tumbuh di tempat tidur. Dengan demikian, mudah dimaklumi kalau orang tuanya kelelahan. Serta suka berbagi kemarahan bahkan pada orang yang tidak ia kenal. Jiwa gelisah yang marah-marah seperti ini muncul di mana-mana. Ibarat seseorang yang terkena flu, menyalahkan perubahan cuaca tidak banyak menolong. Meminum vitamin C, itulah yang menolong. Dengan cara yang sama, begitu jiwa gelisah, marah-marah tidak banyak menolong. Namun ...
    Read More
  • 16

    Nov

    Malaikat Terdekat

    Lebih dari sebagian manusia di bumi membenci setan. Di Barat bahkan pernah ada film berjudul Ghost Buster (pemburu hantu). Ringkasnya, Tuhan disembah setan diusir dengan penuh amarah. Cahaya dipuja, kegelapan dicerca. Kebenaran ditinggikan, kesalahan dibuang. Begitulah sejarah manusia sejak dulu. Dengan tidak bermaksud menyebut cara pandang seperti itu dengan sebutan salah, ada dua tampat di bumi di mana mahluk bawah tidak saja tidak diserang, malah diberi suguhan. Dua tempat itu adalah Bali dan Tibet. Di Bali mereka bahkan dibikinkan tempat tinggal bernama penunggun karang. Di hari-hari suci disediakan suguhan. Di Tibet disebut torma.
    Read More
- Next

Author

Search

Recent Post