Seperti sudah membaca tanda-tanda zaman, lebih dari seribu tahun yang lalu tetua di Jawa sudah meramalkan akan datang zaman penuh kekerasan. Jangankan kekuasaan, bahkan agama pun menjadi sumber kekerasan. Jangankan di negeri miskin, bahkan di negeri kaya pun kekerasan menakutkan. Karena alasan itulah, di tempat teduh tidak jauh dari Merapi dikelilingi sungai sejuk tetua mendirikan monumen kelembutan bernama Borobudur. Disebut monumen kelembutan, karena sejak awal Borobudur mewartakan kelembutan.
Binatang lembut
Kebanyakan manusia tidak mengakui pernah lahir jadi binatang. Namun calon Buddha (Bodhisattva) yang diceritakan di Borobudur mempersiapkan perjalanan panjang pencerahannya bahkan sejak menjadi binatang. Suatu hari seekor burung kecil lembut sedih melihat hutan terbakar. Maka diambil air setetes demi setetes untuk memadamkan kebakaran. Di puncak kelelahannya burung ini mati kelelahan. Warisan makna yang disisakan sederhana: “Tidak ada kebajikan yang terbuang percuma. Perjalanan panjang pencerahan memerlukan tabungan kebajikan berlimpah”.
Di bagian lain, Bodhisattva yang sama lahir sebagai monyet lembut yang berempati melihat pemburu tersesat di hutan. Demikian lembutnya, dibimbinglah pemburu ini keluar hutan. Namun, sesampai di pinggir hutan pemburu tadi membunuh sang monyet sebagai menu makan hari itu. Jejak spiritual yang disisakan kisah ini terang benderang: “Kebajikan kadang diikuti kesialan. Tapi kesialan bukan alasan untuk menghentikan kebajikan. Terutama karena pencerahan memerlukan dua syarat, tabungan kebajikan berlimpah (accumulation of merit) serta simpanan kebijaksanaan yang tidak berhingga (accumulation of wisdom)”.
Manusia lembut
Seorang panglima kerajaan suatu hari menemukan pertapa dengan vibrasi kelembutan mengagumkan. Maka dimintalah ia meditasi di taman istana. Rupanya selir-selir raja jatuh cinta pada kelembutan Bodhisattva ini, maka marahlah raja. Sambil membawa algojo, raja bertanya apa yang diajarkan pertapa. Dijawabnya dengan lembut: “Kesabaran baginda”. Tambah panas hati raja kemudian bertanya lebih lanjut: “Apa itu kesabaran?”. Tanpa ada tanda-tanda takut, tauladan kelembutan ini berucap: “Kesabaran adalah tidak bereaksi tatkala disakiti Baginda”. Murka rajanya, kemudian meminta algojo memukuli tubuh manusia lembut ini hingga berdarah-darah. Tatkala ditanya lagi arti kesabaran lagi-lagi ia menjawab: “Kesabaran adalah tidak bereaksi tatkala disakiti “.
Tambah kalap rajanya kemudian mengambil golok algojo memotong sendiri tangan dan kaki pertapa, kemudian berteriak bertanya arti kesabaran. Lagi-lagi kelembutan tidak terbang dari batin pertapa ini: “Kesabaran adalah tidak bereaksi tatkala disakiti “. Ukiran makna yang disisakan kejadian ini sederhana: “Senapan bisa menghilangkan sejumlah musuh. Tapi kesabaran bisa melenyapkan semua musuh”.
Di kehidupan lain, pencari ke dalam diri ini bernama Sutasoma yang sangat menghormati ajaran spiritual dan Guru. Saat Sutasoma sedang duduk di kaki Guru mendengarkan ajaran, tiba-tiba penghuni istana kalut ketakutan karena ada raksasa yang mencari Sutasoma untuk dimakan. Dengan tenang pangeran ini menyerahkan diri pada raksasa untuk dimakan. Terutama karena menyadari, kesempurnaan pemberian adalah urutan pertama dalam enam kesempurnaan.
Saat siap dibunuh, tiba-tiba calon raja ini sadar ia belum mengucapkan terimakasih pada Gurunya. Dan memohon untuk pamit sebentar hanya untuk mengucapkan terimakasih. Entah karena kenapa raksasanya mengizinkan, namun begitu Sutasoma kembali raksasa tertawa terpingkal-pingkal menghina dengan tuduhan tolol. Dengan tatapan mata seorang Guru ke muridnya, ia berbisik: “Dalam batin yang sudah diterangi spiritualitas, kejujuran tidak lagi menyiksa. Kejujuran sesederhana menghirup udara segar”. Bahan kelembutan yang disisakan kisah ini mudah dicerna: “Bagi kebanyakan orang, melaksanakan kejujuran sangat menyiksa. Takut miskin, takut kekurangan uang, takut tua sia-sia. Namun, dalam penggalian ke dalam yang mengagumkan, kejujuran sesederhana menarik udara segar di pegunungan. Mudah, murah, menyegarkan”.
Kelahiran terakhir sebagai manusia sebelum Bodhisattva ini menjadi Buddha, ia bernama Veshantara. Sederhananya berarti, ia yang melepaskan semuanya. Calon raja ini sejak muda sudah biasa memberikan semuanya. Bahkan anak dan istrinya pun diberikan orang. Rajutan maknanya sempurna: “Kebajikan, kesabaran, kejujuran terus menerus layak dilakukan. Tapi apa pun hasilnya, jangan lupa dilepaskan. Tanpa kemampuan melepaskan, kebajikan, kesabaran, kejujuran bisa menjadi bibit-bibit penderitaan. Terutama karena merasa berbuat baik kemudian minta dibalas dengan kebaikan, karena sabar kemudian minta disebut suci, karena jujur kemudian minta naik pangkat”.
Cahaya Peradaban
Salah seorang pemimpin Asia yang progresif benar tatkala menyatakan hidup bergerak ke depan, menoleh ke masa lalu akan menghasilkan kemunduran. Tapi dalam putaran waktu di mana di segenap arah angin hanya terlihat kekerasan, Borobudur sebuah cahaya kelembutan buat peradaban.
Bila kekerasan bermusuhan bahkan dengan sesama kekerasan, kelembutan memeluk lembut semuanya. Perhatikan cahaya yang memancar dari langit. Matahari bersinar sama terangnya di negara beragama dan ateis. Demikian juga bulan dan bintang. Meminjam Martin Luther King Jr.: “To be healed, everyone should be healed”. Tatkala perut sakit, tidak mungkin membuang perut, ia mesti dirawat. Ini serupa dengan peradaban, kekerasan menunjukkan ada bagian tertentu peradaban sedang sakit. Membuang kekerasan sama dengan membuang perut yang sakit. Makanya, salah satu pendekatan penting dalam meditasi bernama carefulness. Batin belum tercerahkan memang lompat-lompat, sehingga mudah menghasilkan kekerasan. Namun seperti kelinci yang lompat-lompat, semakin dirawat semakin lembut lompatannya. Umat manusia memerlukan tokoh yang bisa “merawat” adik-adik kita yang gelap oleh kekerasan. Selamat hari Tri Suci Waisak. Semoga kelembutan memeluk lembut peradaban.
* Gede Prama murid di jalan meditasi di Brahmavihara Arama Bali Utara
Categories: