Di setiap tradisi memiliki ciri unik yang layak dipelajari. Bagi siapa saja yang masa kecilnya di Bali, kemudian kerap bertanya pada tetua tentang religiusitas, sering kita mendengar jawaban tetua sambil tersenyum: “Nak Mula Keto”. Terjemahan sederhananya, memang demikianlah adanya. Bagi anak muda yang pikirannya lapar akan jawaban, orang dewasa yang telinganya haus perdebatan, gembira dengan perkelahian, jawaban tetua ini memang amat mengecewakan. Bodoh, tolol, goblok, malas berfikir, kuno, itulah judul-judul yang mungkin muncul.
Namun bagi yogi yang sudah jauh menggali ke dalam dirinya, akan tersenyum-senyum kagum. Di mana tetua menemukan jawaban sesempurna ini, kalau bukan dengan jalan beryoga. Jangankan dulu, sekarang di mana pengetahuan berlimpah gratis di internet pun tidak banyak guru yang sampai di tingkat kesempurnaan spiritual berupa Nak Mula Keto.
Seorang murid zen pernah bertanya tentang pencerahan. Dengan tenang gurunya menjawab, pencerahan adalah danau biru dan bukit hijau. Sederhananya, setelah tercerahkan semua terlihat sempurna apa adanya. Mirip sekali dengan pesan tetua berupa Nak Mula Keto.
Kembali ke rumah alami
Kelelahan di mana-mana, mungkin itu ciri peradaban kini. Jangankan negara sedang berkembang, sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang pun menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Perang, kriminalitas, perkelahian, perceraian, bunuh diri hanya sebagian tanda. Dan faktor amat menentukan di balik semua ini, keserakahan manusia untuk senantiasa mau lebih, lebih, lebih, kemudian merasa kurang, kurang dan kurang. Sehingga semakin hari menjadi semakin jauh dari rumah alaminya.
Di puncak kelelahan ini, bijak kalau merenung dalam-dalam pesan tetua berupa Nak Mula Keto. Yang jadi guru, belajar menemukan kesempurnaan dengan melaksanakan tugas pendidikan. Yang jadi petani, lihatlah limpahan kesempurnaan yang tersedia di alam. Yang jadi pegawai negeri, temukan peluang pertumbuhan di sektor pemerintahan. Yang punya anak autis, orang tua sakit-sakitan dan sejenisnya, layani dan obati mereka sebaik-baiknya. Tidak saja sesajen menjadi yadnya, pelayanan juga serangkaian yadnya, bahkan yadnya yang lebih dalam. Melalui sesajen kita mempersembahkan hal-hal luar, melalui pelayanan manusia sedang kembali ke rumah alaminya.
Perhatikan lagu pertama yang dipelajari anak-anak di desa tua Bali (Eda ngaden awak bisa), ia bertutur tentang kerendahatian. Cermati nama-nama manusia di desa tua Bali (Wayan Sabar, Nengah Tenang, Nyoman Terima, Ketut Mulya), semuanya bercerita tentang hati yang baik. Semua ini sedang bertutur ke krama Bali, baik hati dan rendah hati, itulah rumah alami orang Bali. Sombong, bohong, congkak, merkak, mungkin saja membuat seseorang menduduki kursi tinggi. Namun semakin hari kehidupan semakin jauh dari rumah alami yang asli.
Bagi siapa saja yang sudah kembali ke rumah alami, bisa melihat dari awal hingga akhir semuanya sudah berputar sempurna apa adanya. Serupa air di alam ini. Hujan deras tidak membuat air bertambah, kemarau panjang tidak membuat air berkurang. Ia yang mata spiritualnya terbuka bisa melihat, kebahagiaan tidak melakukan penambahan, kesedihan tidak melakukan pengurangan.
Makanya di Tantra dikenal tiga jenis samadhi (konsentrasi): samadhi of suchness, samadhi of illumination, samadhi of seed syllable. Konsentrasi pertama terjadi ketika semua terlihat sempurna apa adanya (Nak mula keto). Kelapa indah di pantai, cemara segar di gunung. Konsentrasi kedua ketemu ketika yogi sudah melihat cahaya (baik dalam artian simbolik berupa kehidupan yang terang benderang, maupun melihat sendiri cahaya itu). Konsentrasi ketiga muncul ketika yogi sudah melihat, mendengar dan meletakkan aksara suci di dalam dirinya. Dan orang tercerahkan di Tantra, sudah berjumpa ketiganya.
Ini memberi inspirasi, bagi penyembah Tuhan, semuanya (baik-buruk, benar-salah, suci-kotor) hanya wajah-wajah Tuhan yang menawan. Kesedihan dan godaan hanya sapu-sapu pembersih yang amat membersihkan jiwa. Kegembiraan dan kebahagiaan serupa air di tengah dahaga. Bagi murid di jalan Buddha, semuanya Buddha. Dewa Yama (dewa kematian) yang amat ditakuti kebanyakan manusia, bentuk luarnya memang menakutkan, namun bila diselami dalam-dalam, isi di dalamnya adalah Buddha Manjushri. Ini serupa dengan ukiran-ukiran seram menakutkan di Pura Dalem yang menggambarkan Durga dll, baju luarnya memang menakutkan, isi di dalamnya lembut menawan.
Bahasa tetua
Pura Kehen di Bangli menyimpan prasasti tua yang berisi undangan untuk pulang. Bila boleh jujur, terlalu banyak manusia yang pergi terlalu jauh dari rumah alami yang asli, kemudian lupa pulang. Ada yang dibawa pergi oleh keserakahan. Ada yang dibawa lari oleh kemarahan dan kedengkian. Ada yang ditenggelamkan kebodohan dan ketidaktahuan.
Dan di tengah sejumlah guncangan seperti angka bunuh diri yang meninggi, kriminalitas meningkat, perceraian marak, benturan politik di sana-sini, mungkin ini saat yang tepat untuk mengingat pesan tetua yang disimpan di Pura Kehen: mulih De!. Pulang nak!. Pulang ke rumah alami yang asli yakni rumah baik hati sekaligus rendah hati.
Makna pulang memang amat bervariasi. Namun sebagaimana pulang ke rumah badan, sesampai di rumah ada rasa tenang, nyaman dan tenteram di rumah. Dan melalui pesan tetua Nak mula keto, krama Bali sedang diingatkan jalan pulang.
Dalam bingkai makna Nak mula keto, semua ada tempatnya, semua ada putaran waktunya. Pagi hari matahari terbit, sorenya tenggelam. Batin yang membadankan ini mirip langit, awan hitam tidak membuat langit jadi hitam, awan putih tidak membuat langit jadi putih. Apa pun yang terjadi, langit tetap biru. Di Kintamani, tetua menyebutnya Pura Jati (rumah sejati). Di desa Tajun disebut kolok (bisu). Di salah satu kaki pulau Bali, tetua menyebutnya desa Suwung (kosong).
Bagi yogi tingkat tinggi di Bali, suatu hari pesan tetua berupa Nak mula keto bisa menjadi kunci pembuka. Batin tercerahkan menyerupai ruang. Ia menyediakan tempat pada apa saja dan siapa saja untuk bertumbuh. Itu sebabnya tetua dulu yang penggalian ke dalamnya sudah dalam menawan hanya mengenal dua bahasa: diam dan senyum. Diam karena tidak ada lagi hal yang mau ditanyakan apa lagi diperdebatkan. Senyum karena semua sudah sempurna apa adanya.
Di mata awam, pencapaian seperti ini memang bisa disebut negatif (pasif, tidak melakukan apa-apa). Tapi bagi guru-guru tercerahkan, ini mengagumkan. Serupa pohon, manusia tercerahkan di luarnya memang diam, namun di dalam ia mengolah karbon dioksida (baca: atmosfir negatif) menjadi oksigen (atmosfir positif) yang amat dibutuhkan.
Categories: