Posted by: gedeprama | 10 June 2011

“Nak Mula Keto”

Di setiap tradisi memiliki ciri unik yang layak dipelajari. Bagi siapa saja yang masa kecilnya di Bali, kemudian kerap bertanya pada tetua tentang religiusitas, sering kita mendengar jawaban tetua sambil tersenyum: “Nak Mula Keto”. Terjemahan sederhananya, memang demikianlah adanya. Bagi anak muda yang pikirannya lapar akan jawaban, orang dewasa yang telinganya haus perdebatan, gembira dengan perkelahian, jawaban tetua ini memang amat mengecewakan. Bodoh, tolol, goblok, malas berfikir, kuno, itulah judul-judul yang mungkin muncul.

Namun bagi yogi yang sudah jauh menggali ke dalam dirinya, akan tersenyum-senyum kagum. Di mana tetua menemukan jawaban sesempurna ini, kalau bukan dengan jalan beryoga. Jangankan dulu, sekarang di mana pengetahuan berlimpah gratis di internet pun tidak banyak guru yang sampai di tingkat kesempurnaan  spiritual berupa Nak Mula Keto.

Seorang murid zen pernah bertanya tentang pencerahan. Dengan tenang gurunya menjawab, pencerahan adalah danau biru  dan   bukit   hijau.   Sederhananya,   setelah   tercerahkan semua terlihat sempurna apa adanya. Mirip sekali dengan pesan tetua berupa Nak Mula Keto.

Kembali ke rumah alami

Kelelahan di mana-mana, mungkin itu ciri peradaban kini. Jangankan negara sedang berkembang, sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang pun menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Perang, kriminalitas, perkelahian, perceraian, bunuh diri hanya sebagian tanda. Dan faktor amat menentukan di balik semua ini, keserakahan manusia untuk senantiasa mau lebih, lebih, lebih, kemudian merasa kurang, kurang dan kurang. Sehingga semakin hari menjadi semakin jauh dari rumah alaminya.

Di puncak kelelahan ini, bijak kalau merenung dalam-dalam pesan tetua berupa Nak Mula Keto. Yang jadi guru, belajar menemukan kesempurnaan dengan melaksanakan tugas pendidikan. Yang jadi petani, lihatlah limpahan kesempurnaan yang tersedia di alam. Yang jadi pegawai negeri, temukan peluang pertumbuhan di sektor pemerintahan. Yang punya anak autis, orang tua sakit-sakitan dan sejenisnya, layani dan obati mereka sebaik-baiknya. Tidak saja sesajen menjadi yadnya, pelayanan juga serangkaian yadnya, bahkan yadnya yang lebih dalam. Melalui sesajen kita mempersembahkan hal-hal luar, melalui pelayanan manusia sedang kembali ke rumah alaminya.

Perhatikan lagu pertama yang dipelajari anak-anak  di desa tua Bali (Eda ngaden awak bisa), ia bertutur tentang kerendahatian. Cermati nama-nama manusia di desa tua Bali (Wayan Sabar, Nengah Tenang, Nyoman Terima, Ketut Mulya), semuanya bercerita tentang hati yang baik. Semua ini sedang bertutur ke krama Bali, baik hati dan rendah hati, itulah rumah  alami orang Bali. Sombong, bohong, congkak, merkak, mungkin saja membuat seseorang menduduki kursi tinggi. Namun semakin hari kehidupan semakin jauh dari rumah alami yang asli.

Bagi siapa saja yang sudah kembali ke rumah alami, bisa melihat dari awal hingga akhir semuanya sudah berputar sempurna apa adanya. Serupa air di alam ini. Hujan deras tidak membuat air bertambah, kemarau panjang tidak membuat air berkurang.  Ia yang mata spiritualnya terbuka bisa melihat, kebahagiaan tidak melakukan penambahan, kesedihan tidak melakukan pengurangan.

Makanya di Tantra dikenal tiga jenis samadhi (konsentrasi): samadhi of suchness, samadhi of illumination, samadhi of seed syllable.  Konsentrasi  pertama terjadi ketika semua terlihat sempurna apa adanya (Nak mula keto). Kelapa indah di pantai, cemara segar di gunung. Konsentrasi kedua ketemu ketika yogi sudah melihat cahaya (baik dalam artian simbolik berupa kehidupan yang terang benderang, maupun melihat sendiri cahaya itu). Konsentrasi ketiga muncul ketika yogi sudah melihat, mendengar dan meletakkan aksara suci di dalam dirinya. Dan orang tercerahkan di Tantra, sudah berjumpa ketiganya.

Ini memberi inspirasi, bagi penyembah Tuhan, semuanya (baik-buruk, benar-salah, suci-kotor) hanya wajah-wajah Tuhan yang menawan. Kesedihan dan godaan hanya sapu-sapu pembersih yang amat membersihkan jiwa. Kegembiraan dan kebahagiaan serupa air di tengah dahaga. Bagi murid di jalan Buddha, semuanya Buddha. Dewa Yama (dewa kematian) yang amat ditakuti kebanyakan manusia, bentuk luarnya memang menakutkan, namun bila diselami dalam-dalam, isi di dalamnya adalah Buddha Manjushri. Ini serupa dengan ukiran-ukiran seram menakutkan di Pura Dalem yang menggambarkan Durga dll, baju luarnya memang menakutkan, isi di dalamnya lembut menawan.

Bahasa tetua

Pura Kehen di Bangli menyimpan prasasti tua yang berisi undangan untuk pulang. Bila boleh jujur, terlalu banyak manusia yang pergi terlalu jauh dari rumah alami yang asli, kemudian lupa pulang. Ada yang dibawa pergi oleh keserakahan. Ada yang dibawa lari oleh kemarahan dan kedengkian. Ada yang ditenggelamkan kebodohan dan ketidaktahuan.

Dan di tengah sejumlah guncangan seperti angka bunuh diri yang meninggi, kriminalitas meningkat, perceraian marak, benturan politik di sana-sini, mungkin ini saat yang tepat untuk mengingat pesan tetua yang disimpan di Pura Kehen: mulih De!. Pulang nak!. Pulang ke rumah alami yang asli yakni rumah baik hati sekaligus rendah hati.

Makna pulang memang amat bervariasi. Namun sebagaimana pulang ke rumah badan, sesampai di rumah ada rasa tenang, nyaman dan tenteram di rumah. Dan melalui pesan tetua Nak mula keto, krama Bali sedang diingatkan jalan pulang.

Dalam bingkai makna Nak mula keto, semua ada tempatnya, semua ada putaran waktunya. Pagi hari matahari terbit, sorenya tenggelam. Batin yang membadankan ini mirip langit, awan hitam tidak membuat langit jadi hitam, awan putih tidak membuat langit jadi putih. Apa pun yang terjadi, langit tetap biru. Di Kintamani, tetua menyebutnya Pura Jati (rumah sejati). Di desa Tajun disebut kolok (bisu). Di salah satu kaki pulau Bali, tetua menyebutnya desa Suwung (kosong).

Bagi yogi tingkat tinggi di Bali, suatu hari  pesan tetua berupa Nak mula keto bisa  menjadi kunci pembuka. Batin tercerahkan menyerupai ruang. Ia menyediakan tempat pada apa saja dan siapa saja untuk bertumbuh. Itu sebabnya tetua dulu yang penggalian ke dalamnya sudah dalam menawan hanya mengenal dua bahasa: diam dan senyum. Diam karena tidak ada lagi hal yang mau ditanyakan apa lagi diperdebatkan. Senyum karena semua sudah sempurna apa adanya.

Di mata awam, pencapaian seperti ini memang bisa disebut negatif (pasif, tidak melakukan apa-apa). Tapi bagi guru-guru tercerahkan, ini mengagumkan. Serupa pohon, manusia tercerahkan di luarnya memang diam, namun di dalam ia mengolah karbon dioksida (baca: atmosfir negatif) menjadi oksigen (atmosfir positif) yang amat dibutuhkan.


8 teman anda menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Responses -

Muvita Rina Wati, trimakasih sudah memberi bahasa “Islam” terhadap karya ini. saya bertambah ilmunya. :) Tks

Gede Agustapa, dalam pengertian saya yg sederhana tidak ada yg salah dalam perjalanan Anda. semuanya adalah bagian dari perjalanan panjang utk pulang ke alam pencerahan. saran saya, belajar utk “istirahat” pd apa saja yg terjadi di saat ini. tdk ada yg perlu dikejar tdk ada yang perlu ditinggalkan cepat2. dalam pesan Guru saya ada bunga (baca:pencerahan) dalam sampah (hal2 yg disalahkan dan dijelek2kan), ada sampah dalam bunga. bila Anda mengerti ini, Anda tdk perlu merasa bersalah dg judul “serakah’ yg datang dr orang lain, tdk perlu melekat dg suara atau cahaya yg datang dari dalam. take a rest my spiritual son. :) Tks

Fdfadli, pulang itu hanya memerlukan 3 hal sederhana: menyatu dg saat ini, sadari semuanya hanya datang dan pergi dan… jangan lupa senyum terutama krn senyuman menunjukkan bahwa seseorang mulai jadi tuan (bukan korban) kehidupan. :) Tks

Desert 0asis, Anda benar kita hidup di zaman yg semakin gelap, shg mesti ekstra hati2 mana “light dispelling darkness” atau seperti Anda tulis “blind leading the blind”. bila Anda peka secara spiritual, Anda akan tahu bedanya. :) Tks

Surya, tentu saja masih tersedia berlimpah tempat bagi mereka yg mau bertumbuh dg ketulusan, kejujuran, kepolosan di tengah persaingan yg semakin keras. seperti pesan2 alam, awan tempatnya di atas, rumput tempatnya di bawah. akan selalu ada tempat bagi semuanya. dg merenungkan dalam2 hal ini, baru bisa memasuki apa yg Anda sebut “menyadari kebahagiaan di dalam diri”. :Tks

Dewa Landung, kedewasaan itu berproses lama…bila di umur 28 masih merasakan sakit ketika disakiti itu manusiawi sekali. tdk disarankan memberi judul negatif akan hal ini. saran saya hanya satu: terus bertumbuh anakku. sampai suatu hari mengerti, ikan sempurna di air, burung sempurna di udara. tatkala saat itu terjadi, Anda pun bisa mengalir alami dg kehidupan. :) Tks

Dayu Putri, susah memfokuskan pikiran adalah problema setiap orang. jangan berkecil hati. cuman, ada cara berlatihnya. coba duduk dg punggung lurus, kemudian hitung nafas dari satu hingga sebelas, sesampai sebelas jangan lupa tersenyum, kemudian hitung turun dari sebelas turun urut hingga satu, kamudian senyum lagi. diulang2 terus menerus semampunya. bila Dayu tekun, suatu hari pikiran akan pelan perlahan bisa lebih fokus. meditasi akan lebih cepat pertumbuhannya bila keseharian Dayu disertai moralitas yg baik. selamat berlatih Dayu. :) Tks

Adidana, sebaiknya Anda ikut meditasi. tapi utk tips jangka pendek coba belajar melakukan satu hal dalam satu waktu, hindari buru2, kapan saja ada satu hal yg ekstrim (contoh bunyi alarm mobil, pintu dibanting dll) tarik nafas dalam2, belajar terhubung dg saat ini, kemudian senyum. :) Tks

Putu, tdk semua orang memerlukan intelek yg kompleks. bagi mereka yg berjalan di jalan Bhakti Yoga (ini jalan yg diwariskan tetua Bali), cukup laksanakan ajran sebaik2nya, setulus2nya, seikhlas2nya. kurangi menghakimi, apa lagi mencaci orang. laksanakan dengan pentuh ketulusan. cuman itu. :) Tks

DaLus, saya terlalu bodoh utk bisa mengerti politik. makanya saya tidak ikuti. tapi dalam kebodohan ini, saya tidak tertarik utk ikut, sekaligus tdk tertarik utk menghakimi. yg saya lakukan sederhana, hanya melaksanakan panggilan tugas saya sebaik2nya sekaligus seikhlas2nya. :) Tks

Komang AKG, kamus “salah” sdh lama saya tinggalkan. yg tersisa hanya ketekunan utk menjadi alami di hari ini. ia sesederhana ikan di laut dan burung di udara. ada memang orang yg sangat berenergi dg revolusinya, mimpi akan perubahannya. dan ini pun amat teramat saya hormati, tanpa dihakimi sedikit pun. cuman tolong dicatat baik2, di alam ini ada hukum yg tdk bisa dilawan: “siapa yg mengambilnya banyak, membayarnya juga banyak”. kami para yogi kenapa mengambilnya sedikit melalui kesederhanaan hidup maupun kesederhanaan pikiran, karena tahu bila mengabilnya sedikit bayarnya juga sedikit kemudian. teruslah bertumbuh Komang. :) Tks

Komang AKG, trimakasih atas kejujurannya! di dunia spiritual (meminjam kerangka berfikir yg bisa ditemukan di Pura), ada 2 jenis manusia. pertama, yg masih tahap pertumbuhan. di Pura ditandai oleh kain hitam-putih (kotak2) yg diletakkan di luar (jabaan). di sini sangat dualistik dan penuh pertempuran. baik diambil, buruk dibuang, Tuhan dipegang, setan ditendang dst. Tapi bagi manusia kedua yg sudah masuk tahap kesempurnaan (di Pura ditandai oleh kain putih kuning yg menyatu rapi di pusat mandala Pura), semua pertentangan berhenti. yang tersisa hanya satu: “semua arah indah”. ini yg ditemukan Jalaludin Rumi di Islam, Santo Fransiscus di Kristianitas, Jadu Krishnamurti di Hindu serta Thich Nhat Hanh di Buddha. sekarang terpulang ke Anda, mau selamanya di luar pura, atau mau masuk ke dalam. :) Tks

Paramita, menyatu dg saat ini sederhananya berarti lakukan panggilan hari ini sebaik2nya, sebahagia2nya, dan menyangkut hasilnya ikhlaskan secara sempurna. lakukan semuanya dengan senyuman. lebih sedikit complain lebih baik, lebih banyak bersyukur lebih baik. :) Tks

Komang AKG, cara terbaik mendidik anak adalah dg cara banyak menyayangi, serta menjadi tauladan dalam keseharian utk mereka. :) Tks

Leave a response -

Your response:


Categories