Posted by: gedeprama | 19 August 2011

Tersenyum Dengan Mata

Menyaksikan kekisruhan  di mana-mana, seorang sahabat bertanya: sampai kapan manusia akan terus menyakiti diri mereka sendiri dengan saling menyerang dan menjatuhkan? Di negeri Barack 0bama yang dulunya menjadi tauladan demokrasi dan hak-hak azasi manusia, sekarang teramat kisruh. Pasca serangan teroris 11 september 2001, tidak saja pelecehan atas nama agama merebak, tidak terhitung uang bangsa Amerika yang berubah menjadi peluru mematikan di Irak dan Afghanistan.

Bangsa Indonesia telah melewati ratusan tahun masa penjajahan yang amat menyedihkan, puluhan tahun masa pembangunan, belasan tahun masa reformasi. Namun belum ada tanda-tanda bangsa ini sudah semakin sejuk, lembut dan santun.

Di tengah lautan keriuhan seperti ini, ke mana keheningan dan kejernihan   sedang   bersembunyi?  Sebagai  awal  renungan, perhatikan samudera nan luas dan dalam. Semua samudera bergelombang.    Membuang     gelombang     sama     dengan membuang samudera. Kehidupan juga serupa. Di tengah bentangan sejarah yang panjang, semua kehidupan berisi gelombang. Tidak pernah terjadi, ada sejarah yang lurus dan mulus saja.

Perhatikan sejarah dunia puluhan tahun terakhir. Bumi ini pernah ketakutan dengan perang dunia pertama. Namun ketakutan ini tidak menghentikan perang berikutnya. Dan perang ini pun kemudian memicu perang dingin antara dua negara adi kuasa. Setelah runtuhnya Uni Soviet, diikuti berjayanya Amerika Serikat, dikira ketakutan akan berakhir. Hentakan bom teroris  memulaui sebuah ketegangan baru. Bukan negara lawan negara, melainkan umat manusia terancam teroris.

Dirangkum menjadi satu, kehidupan memang menyerupai samudera. Di sepanjang waktu (masa lalu, masa kini dan masa nanti), kehidupan senantiasa bergelombang. Penderitaan terjadi ketika manusia serakah mau samudera tetapi menolak gelombang. Menendang gelombang (baca: kehidupan naik turun) sama dengan menendang samudera (kehidupan). Dan sebagaimana terlihat jelas di samudera mana pun, semua gelombang merunduk rendah hati ketika mencium bibir pantai.

Persoalan, pergolakan, pertempuran  sama dengan gelombang. Di sebuah waktu, selalu ada ujungnya. Namun sebagaimana gelombang, ketika ia lenyap di pantai bukannya berakhir selamanya. Ada waktunya ia akan kembali menghempas. Begitulah kehidupan terus berputar dengan hukumnya. Melawan hukum terakhir berujung pada penderitaan, memeluknya dengan keikhlasan itulah kedamaian sekaligus kejernihan.

Bagi   siapa   saja   yang   sudah   berpelukan   mesra  dengan kehidupan dan menemukaan kedamaian, ia tidak saja bisa tersenyum dengan bibirnya, ia juga bisa tersenyum dengan matanya (baca: memandang kehidupan dengan pengertian mendalam). Mendengar anak-anak muda yang riuh dengan suara motornya di jalan, ia akan berbisik: “bila dulu orang tua memberikan ruang bagimu untuk bertumbuh, kini giliran dirimu memberikan ruang buat orang lain untuk bertumbuh”.

Melihat bawahan yang gopar (gobloknya parah) di kantor, kontan saja ada yang bergumam dari dalam: “semua ada tempatnya semua ada putaran waktunya. Persis seperti cemara di bukit, kelapa di pantai, orang bodoh hadir tidak untuk memproduksi kejengkelan, namun membuat seorang atasan menjadi semakin welas asih dari hari ke hari”.

Terjebak kemacetan kota Jakarta, lagi-lagi guru di dalam bergumam: “kehidupan berputar dengan hukum keseimbangan (siang-malam, tenang-riuh dst). Siapa saja yang mengambil banyak kesenangan (terutama di kota besar) harus membayarnya dengan banyak kesedihan”. Ujung-ujungnya satu, jauh sebelum emosi terbakar dengan kemarahan dan kejengkelan, mata sudah memasang palang di awal dengan senyuman menawan. Ini yang kerap disebut oleh sejumlah guru meditasi sebagai right view (memandang dengan senyuman).


9 teman anda menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Responses -

Novitri, utk umur 19 tahun seperti Anda fokuslah pada beberapa hal berikut ini: hindari melakukan pelanggaran berbahaya seperti narkoba, pergaulan seks menyimpang dan sejenis, hormati orang tua karena amat berbahaya menyakiti hati orang tua, lakukan tugas belajar sebaik2nya, dan terakhir layani/sayangi semua mahluk sebaik seorang Ibu menyayangi putra tunggalnya. itu sudah menjadi langkah spiritual Novitri. :) Tks

Mochamad Chairul, Anda rupanya nyambung betul dengan pesan2 yg mengalir melalui saya. trimakasih dan sebarkan ajarannya seluas2nya. :) Tks

Bebby, kehidupan bergerak seluas ruang, pikiran hanya sebesar cangkir kecil. penderitaan terjadi karena mau mengerti ruang luas dengan wadah sekecil cangkir. sarannya sederhana, apa pun yang terjadi (termasuk menangis) cobalah istirahat (baca: tulus, ikhlas, polos) apa adanya. itulah meditasi. :) Tks

Megan Mahmud, bila mau berjumpa sebaiknya ikut meditasi saja sehingga saya bisa menolongnya lebih dalam. :) Tks

Ipong, kecenderungan utk ‘melegalkan’ homoseksual, oleh sebagian kalangan di Barat diberi judul hak azasi manusia. tapi dalam pandangan spiritual saya, sahabat2 homo lebih membutuhkan kasih sayang kita dibandingkan cacian kita. pertanyaannya kemudian, bagaimana kasih sayang ini diaplikasikan?. mulailah dengan sedikit menghakimi mereka krn semakin dihakimi mereka akan semakin sakit. kemudian, cobalah dekati mereka dengan mendengarkan. kapan saja mereka dekat dan siap diajak berubah, kemudian kita boleh belajar merubah mereka. :) Tks

Diah, di jalan yg saya ikuti tidak menyakiti adalah langkah pertama, menolong serta manyayangi adalah yang ke dua, dan menjadi satu dg kasih sayang (baca: melaksanakan kasih sayang secara alamiah/ tanpa keterpaksaan), itulah puncaknya. :) Tks

Jalu, istirahat dalam perbedaan, itulah yang saya coba badankan dalam keseharian saya. soal introvert/ekstrovert (dlm istilah Anda), ia tdk kekal, bisa berubah dan berganti. karena tidak kekal, belajarlah melihatnya sebagai awan. Indahnya, bila rajin membiarkan mereka sebagai awan yg datang pergi, kita bisa menjadi langit. dan dalam langit yg tanpa awan selalu tersediah cahaya. :) Tks

Novitri, belas kasih (compassion) memang bisa membuat kita semakin terhubung dg semuanya (alam dan kehidupan). dan puncak keterhubungan ini ketemu ketika kita mulai bisa melihat diri kita di orang lain, orang lain di diri kita. di tingkatan ini, semua (baik-buruk, benar-salah) tanpa kecuali menjadi bimbingan2 spiritual (dharma). seriuslah melaksanakan belas kasih ke semua, nanti pada saatnya Anda juga melihatnya. :) Tks

Yanti, Anda benar kadang ketulusan dan keikhlasan kita dimanfaatkan orang. tapi, tdk saja di dunia material kita perlu cerdas, dalam melaksanakan keikhlasan juga perlu cerdas. dan nanti bila Anda terbiasa ikhlas, Anda bisa membedakan mana ikhlas yg berguna utk orang lain, mana ikhlas yg memperbesar keakuan orang lain. dan…nanti bila ikhlasnya sempurna, tdk lagi perlu kecerdasan tadi, ikhlas ya ikhlas, tdk dipikirkan ke mana laringa. keihlasan sdh sempurna hanya dg dilaksanakan. :) Tks

Adizti, bersyukur adalah salah satu ciri manusia dg tingkat pencapaian spiritual yg mengagumkan. bersyukur juga membuat kita bisa “istirahat” pada apa saja yg terjadi di saat ini, kemudian terhubung dg energi berlimpah yg tersedia di alam ini. :) Tks

Aditian, prioritas terbaik utk Anda tentu Anda yg paling tahu, tapi pengalaman bertutur, bila di umur muda berani ambil yg berat2 (belajar keras, kerja keras, membangun keluarga secara keras) nanti tuanya lebih ringan. jika mudanya ringan (santai, banyak hiburan, sedikit kerja dan belajar) nanti tuanya berat. silahkan pilih. :) Tks

Leave a response -

Your response:


Categories