Posted by: gedeprama | 11 February 2012

Menyejukkan Kemarahan

Terinspirasi dari Anthony de Mello, suatu waktu ada gadis desa yang hamil tanpa suami. Tentu saja orang tuanya mengamuk, kemudian memaksa agar puterinya menunjuk lelaki yang menghamilinya. Di tengah kekalutan, remaja belasan tahun ini kemudian menunjuk orang tua bijaksana  di pinggir hutan. Dan marahlah warga desa, kemudian ramai-ramai menyerahkan gadis hamil ini. Di tengah amukan dan cacian warga, orang tua bijaksana ini menerima gadis hamil tadi dengan  berucap tenang: “baiklah!”.

Bertahun-tahun gadis hamil ini dirawat baik. Tanpa keluhan, tanpa keributan, tanpa kemarahan. Merasa dirinya diperlakukan sangat baik, ibu muda ini dihinggapi rasa bersalah mendalam kepada orang tua bijaksana tadi. Kemudian mengaku ke orang desa bahwa bukan orang tua bijaksana  itu  yang  menghamilinya, melainkan sejumlah lelaki tidak bertanggungjawab. Maka kembalilah warga desa ke pinggir hutan sambil minta maaf. Lagi-lagi orang tua bijaksana ini berucap pelan: “baiklah”.

Di mata kepintaran, orang tua bijaksana ini  masuk kotak kebodohan, tapi di mata mahluk tercerahkan orang tua ini sudah mengalami kesempurnaan kesabaran sebagai ciri mahluk tercerahkan.

Bila boleh jujur, keseharian manusia  di mana-mana penuh kemarahan. Di Amerikat Serikat daftar kemarahan pada Barrack Obama semakin panjang. Di negeri ini, kemacetan jalan, politisi yang miskin empati, sampai korupsi yang menyentuh hati menjadi api pembakar kemarahan. Lebih-lebih ketika bencana, kemarahan pengungsi, kemarahan media, kemarahan pengamat semuanya tumpah pada tuduhan pemerintah yang lamban. Ujungnya mudah ditebak, api yang mau dipadamkan dengan api berakhir dengan keseharian yang semakin terbakar.

Merawat Kemarahan

Sejujurnya tidak ada manusia yang berniat marah. Kendati demikian, tetap saja kita digoda kemarahan. Bila digali lebih dalam, sesungguhnya manusia mewarisi bibit-bibit kemarahan dari orang tua, sekolah, lingkungan. Bibit-bibit ini kemudian disirami dengan menonton televisi yang berisi perkelahian, radio yang memberitakan kebencian, media cetak yang laris justru dengan berita kriminalitas, pemimpin yang miskin keteladanan. Sehingga tanpa perbaikan serius, manusia akan terus dibakar kemarahan.

Berbeda dengan logika sebagian ilmu kedokteran Barat yang membuang organ tubuh bermasalah,  meditasi mengajarkan untuk merawat kemarahan. Tatkala sakit kepala tidak mungkin seseorang membuang kepalanya. Melainkan  merawat kepalanya, kemudian baru kesembuhan mungkin terjadi. Hal serupa  terjadi dengan kemarahan, membuang kemarahan serupa membuang malam dan hanya mau siang.

Merawat bibit kemarahan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Memandang kemarahan secara mendalam adalah sebuah pendekatan. Sejujurnya kemarahan terjadi bukan karena godaan orang, melainkan lebih banyak terjadi karena kita sudah memiliki bibitnya di dalam. Godaan yang datang dari luar serupa angin yang meniup jerami yang sudah terbakar. Dengan demikian, memarahi mereka yang menimbulkan  kemarahan serupa dengan mengejar orang yang melempar rumah kita yang berisi bensin dengan api. Begitu balik, rumahnya sudah terbakar habis.

Karena itulah, lebih disarankan untuk merawat bibit kemarahan yang ada di dalam. Tolehlah ke dalam ketika kemarahan datang, belajar tersenyum karena senyuman menandakan Anda jadi tuan bukan korban kehidupan. Setelah tersenyum, tarik nafas pelan-pelan, rasakan segarnya hidung ketika udara masuk. Bila boleh jujur, ada rahasia kesegaran, ketenangan, kebeningan di balik ketekunan memperhatikan nafas. Disamping itu, nafas membantu manusia terhubung dengan saat ini. Karena sebagaimana kita tahu, masa lalu sudah lewat, masa depan belum datang, satu-satunya uang tunai kehidupan yang bisa dinikmati dan disyukuri adalah saat ini. Makanya, dalam bahasa Inggris masa kini disebut the present (hadiah). Indah, sejuk, lembut, penuh persahabatan dan kasih sayang, itulah hadiah buat mereka yang rajin terhubung dengan kekinian melalui memperhatikan nafas.

Di samping memperhatikan nafas, bibit kemarahan juga bisa dirawat dengan meditasi jalan. Terutama dengan melihat hakekat semua fenomena (termasuk kemarahan) yang muncul lenyap sebagaimana langkah kaki. Membadankan dalam-dalam bahwa semuanya muncul lenyap bisa menjadi awal terbukanya pintu kebebasan.

Sebagai tambahan, mengerti dengan penuh belas kasih bahwa orang yang menyakiti sesungguhnya sedang menderita, adalah pendekatan lain. Ia yang bisa melihat penderitaan orang yang menyakiti, mengalami transformasi di dalam. Dari mau menghukum menjadi mau menolong.

Keindahan Bumi

Banyak orang memimpikan tanah suci. Semacam tanah yang penuh kebahagiaan sekaligus tanpa penderitaan. Namun bagi ia yang memandang secara mendalam, membuka pintu belas kasih, tanah suci bukan saja tempat yang bisa ditemukan setelah kematian. Di bumi ini manusia bisa menemukan tanah suci. Meminjam Thich Nhat Hanh, bukan berjalan di atas air menjadi keajaiban, berjalan di atas bumi menjadi keajaiban. Terutama dengan merasakan setiap langkah berisi belaian belas kasih Ibu pertiwi.

Ini mungkin terjadi, bila pertama-tama tentu belajar menyejukkan kemarahan karena kemarahan  membuat bumi penuh api. Setelah kemarahan tersejukkan terlihat terang, kita semua sama yakni mau bahagia dan tidak mau menderita. Lebih mudah membuat bumi ini sejuk dengan melihat kesamaan-kesamaan dibandingkan bertempur tentang perbedaan.

Makanya, ketika seorang ayah ditanya putranya apakah tanah suci berisi penderitaan, dengan lembut ayahnya menjawab: “Tanah suci berisi penderitaan. Bedanya, di tempat ini penderitaan sudah diolah menjadi pupuk organik yang sudah diletakkan di bawah pohon bunga”. Inilah puncak kegiatan menyejukkan kemarahan, semua hal yang dibenci diolah menjadi pupuk organik pengertian. Kesedihan adalah sampah, namun bila bisa mengolahnya akan menjadi bunga pencerahan kemudian. Kebahagiaan adalah bunga, tapi jika tidak mampu merawatnya bisa menjadi sampah kesedihan kemudian.


11 teman anda menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Responses -

Dek Moleh, kemarahan bukan satu2nya cara mendisiplinkan bawahan. dalam jangka panjang (asal sabar dan tekun), kasih sayanglah cara mendisiplinkan yg tdk menimbulkan dampak sampingan sekaligus berumur panjang. :) Tks

Alexande Wahyudi, diam itu isinya banyak. anger menjadi danger (istilah Anda), bila diam isinya memendam dendam serta api kemarahan lainnya. tapi diam bisa menyejukkan sekaligus menyembuhkan kalau isinya pengertian, memaafkan, kasih sayang. :) Tks

Batu Rekso, gunakanlah kemacetan ibukota sebagai “batu loncatan” utk mencapai pencapaian spiritual. caranya, gunakan ia sebagai Guru seperti amplas yg menghaluskan, bukan sebagai musuh yg menyakitkan. :) Tks

Suci, menyejukkan kemarahan orang lain, tdk ada cara yg lebih baik selain menyayangi mereka dg pengertian mendalam bahwa kita semua menderita, kita semua mau sembuh dan bahagia, dan cara agar sembuh serta bahagia hanyalah kasih sayang. :) Tks

Diana, belajar mengolah apapun yg terjadi dalam keseharian sebagai jalan2 pencerahan. caranya, pandang semuanya dari sudut pandang positif. kedua, yakini semua yg terjadi adalah manifestasi Guru. ketiga, tidak ada yang tidak baik dalam hidup ini. sampah sebagai contoh, suatu hari akan jadi bunga. bunga suatu hari akan jadi sampah yang akan berproses menjadi bunga kemudian. :) Tks

Dewi Meidiani, jejaring yg ada di balik seorang tua yg pemarah tdk sederhana alias rumit. membencinya atau menolaknya hanya akan menambahkan kerumitan ke dalam jejaring yg telah rumit. lebih2 Anda tidak bisa lari krn bekerja di tempat itu. bila mau menyejukkan suasana, ada beberapa saran. pertama, selalu cari waktu dan kesempatan yg tepat bila hrs berhubungan dg beliau. kedua, bila hrs ketemu belajar keras utk “mengerti” beliau bahwa sesungguhnya orang pemarah adalah orang yg sedang menderita yg memerlukan pertolongan kita. ketiga, gunakan beliau sebagai media latihan utk semakin sabar dari hari ke hari. semacam latihan compassionate interview (wawancara penuh kasih sayang) setiap kali berjumpa beliau. bila boleh jujur dewi, semua kejadian adalah kemunculan Guru yg membimbing dan menghaluskan. :) Tks

Yagi, sebaiknya gunakan apa saja yg terjadi dalam keseharian menjadi sang jalan menuju kesempurnaan. tdk disarankan hidup terlalu “manja” dlm arti ada godaan kemudian lari. bila Anda dlm posisi yg menggoda Anda utk marah, perkuat lagi praktek kesadarannya. caranya, setiap kali mau ketemu customer yg mau memarahi, hidupkan kencang2 energi kesadaran di dalam diri. bila Anda sering melakukannya, secara spiritual nantinya Anda akan dibikin semakin bertumbuh (baca:sabar) oleh orang2 yg biasanya memarahi Anda. selamat bertumbuh Yogi. :) Tks

Dek Moleh, mohon menyampaikan informasi ini ke sebanyak mungkin anak muda di Bali. pertama, hati2 ini zaman politik menjadi panglima. politik tetap politik. ada memang politik yg suci (sebagaimana M. Gandhi dan Nelson Mandela) tapi sangat dan teramat langka yg bisa menyerupai Gandhiji. wacana soroh di Bali kental sekali diwarnai oleh mereka2 yg sangat berambisi memimpin Bali secepat2nya. sedikit sekali - bahkan nyaris tdk terlihat - ada niat di balik wacana soroh ini utk menjaga keberlangsungan Bali sebagai kawasan spiritual yg dihormati. bagi yg mengerti dinamika antarelit di Bali kini, elit kita saat ini sangat tidak jernih. dan di balik ketidakjernihan itu, tidak ada yg lain, hanya ambisi utk memimpin Bali segera.

kedua, masa depan adalah milik anak muda seperti Anda, bukan orang tua seperti saya. sehingga seawal mungkin, songsonglah masa depan dengan wawasan luas, penguasaan iptek yg maju, dan karena Bali adalah kawasan spiritual yg dikagumi, songsong masa depan dengan praktek spiritual mendalam. jangan pernah mau dibawa arus sempit dan picik oleh politik. lebih2 mau dibawa konflik sempit.

ketiga, sudah lewat zamannya, kalau orang berbeda disebut sesat, atau punya kita tinggi, punya orang rendah. sekali lagi sudah lewat. utk Anda catat baik2, setiap tahun ada jutaan sarjana yg dihasilkan perguruan tinggi kita. generasi Anda sangat dimanjakan teknologi sehingga bisa “belajar” murah, cepat, akurat melalui internet dll. gunakan energi waktu muda utk belajar, belajar dan…belajar. nanti di umur2 saya (contoh di generasi saya ada banyak), kelihatan sekali beda antara mereka yg di masa mudanya belajar dg mereka yg tdk belajar. kemaren saya baru bersedih, dpt sms dr keluarga dekat di Bali, sahabat saya sebangku saat SMA masuk penjara krn menipu. sediih sekali Dek, krn menjadi contoh bahayanya tdk belajar di masa muda. hati2, dan salam saya utk semua generasi muda Bali. :) Tks

Tri Antara, berkata2 kasar (kendati hanya utk ketawa2, tanpa kemarahan, kadang disebut keakraban) sebaiknya dihindari. terutama krn cepat atau lambat kita akan membayarnya dg dikata2i kasar oleh orang lain. lebih awal (lebih muda) Anda menyadari ini lebih baik. saya sendiri lahir dan bertumbuh di Bali Utara (serupa Jatim) yg menggunakan kata2 kasar sbg instrumen keakraban di waktu muda, dan saat tua hrs “membayar” semua itu. selamat bertumbuh Tri Antara. :) Tks

Sonia Restiawati, di umur semuda Anda (20 tahun) adalah umur2 bertumbuh. di umur itu, saya juga dulunya pemarah. tapi yg saya lakukan dg kemarahan saya, bukan membencinya secara berlebihan, tapi menggunakan kemarahan sebagai cermin utk segera berubah. kemarahan tdk saja menghancurkan tubuh juga menghancurkan hidup. sebagai permulaan, kemarahan seperti bara api di dalam. bila membawa bara api, sementara jangan dekat2 dulu dg bensin (baca: pergaulan dan interaksi yg memancing emosi). dekat2lah dulu dg buku suci, tempat suci, Guru suci shg api amarah Anda tdk membakar. kemudian pelan perlahan, ganti api dg air kesabaran dan kesejukan. kemudian, baru boleh menyejukkan adik Anda yg nakal, teman yg sirik dsr. terus bertumbuh Sonia. :) Tks

Dek Moleh, saudara meninggal atau sakit adalah sebuah penderitaan. tapi janganlah menambahkannya dg penderitaan baru dg mencurigai ini dan itu yg mengirim black magic. soal balian (dukun), di semua agama dan cabang2 spiritualitas ada yg asli ada yg palsu. hati2 Dek, di zaman ini di semua tempat yg palsu cenderung lebih banyak. terpulang ke Anda di dalam, bila Anda asli (tulus, ikhlas, penuh kasih sayang) Anda akan ditarik oleh magnet2 yg asli. :) Tks

Made M di Abudhabi, kemarahan ada bernuansa biologi (makanan fisik), berwajah psikologi (makanan mental), sekaligus spiritual (olah spiritual). untuk itu, mulailah dg memperbaiki makanan fisik dulu seperti mengurangi makanan/minuman yg menstimulir kemarahan seperti daging, telor, alkohol, bawang merah/putih dll. lebih penting dari makanan fisik adalah makanan mental seperti pergaulan, tontonan, bacaan, pendengaran. karena sehebat2nya kita, kalau setiap hari menonton dan bergaul dg lingkungan yg menstimulir kemarahan, lama2 bisa terpengaruh juga. terakhir olah spiritual, saya ikut jalan meditasi. di meditasi semua hal (di dalam maupun luar) hanya awan2 tdk kekal yg muncul dan lenyap. kebahagiaan, suka cita, pujian serupa awan putih (tidak kekal). kesedihan, duka cita, makian mirip awan hitam, tdk kekal juga. bila tekun berlatih meditasi seperti ini, suatu hari berhenti diombang ambingkan awan2 tdk kekal, kemudian bisa “istirahat” dalam ketenangan sempurna langit biru. kemarahan (secara meditasi) terjadi krn menggenggam awan putih, menendang awan hitam. keduanya (putih dan hitam) perlu dipeluk ketika waktunya datang, dilepaskan saat putaran waktunya pergi. :) Tks

Made Mariana, persiapan berjumpa Guru sebaiknya dilakukan proaktif. langkah awal sebaiknya dimulai dg membersihkan diri melalui buku suci. dalami, pelajari, laksanakan semampunya. bila bersih oleh buku suci, hidup Anda akan menjadi magnet bagi “logam” yg bernama Guru. di tahap ini, amat tergantung pada tabungan karma Anda, bila tabungan karma baiknya berlimpah, karma buruknya sedikit, terlihat terang Guru Anda siapa. Guru bisa terlihat melalui mimpi, menangis melihat fotonya/penampilannya di media, sejuk hanya mendengar pesannya/membaca karyanya, kemudian diikuti kerinduan serupa seorang anak merindukan Ibunya…kemudian dg berkah yg cukup bisa ketemu. :) Tks

Budi L. saya berempati mendalam dg apa yg terjadi pd hidup Anda, tdk kebayang perihnya di dalam bila menjalani pengalaman2 traumatik seperti itu. tapi, sebagaimana sering dikutip, di mana ada masalah di sana ada jalan keluar. mulailah meditasi Budi. sesederhana apa pun bisa Anda, lakukan, coba cari buku meditasi yg ada. bila cocok dg saya, boleh cari buku saya terakhir yg ada cd-nya di Gramedia berjudul “setenang pepohonan, selembut rerumputan: menyembuhkan, mendamaikan diri dari dalam”. resapkan ajarannya, dengarkan sarannya di cd, endapkan doa2nya. beberapa sahabat terdahulu yg perih seperti Anda lapor kalau buku ini bisa membantu mereka. selamat berjuang Budi. saya ikut mendoakan Anda biar selamat. :) Tks

Rahmania, ada beberapa tips menyejukkan kemarahan. pertama, kapan saja kemarahan muncul cepat tutup mulut krn berpotensi menyakiti orang yg nantinya pasti Anda sesali. kedua, lihat ke kaca cermin wajah Anda. biasanya Anda akan melihat wajah yg lebih jelek dari biasanya. ketiga, tarik nafas dalam2 utk menyejukkan suasana hati di dalam. itu utk jangka pendek. untuk jangka panjang, latih diri utk melihat sisi2 baik dari setiap kejadian. sebagai contoh, orang yg menggoda kemarahan kita (suami, anak dll) hanya mahluk agung yg terlahir utk membuat kita semakin dewasa secara spiritual. bahan renungan lain, semua hal (kesenangan, kejengkelan, dll) datang dari sumber air suci yang sama. :) Tks

Yanti, bagi orang biasa, mendengar berita orang yg pernah menyakiti kemudian dlm kesusahan bisa menimbulkan suka cita. Tapi bersama saya, bukan itu jalan yg harus ditempuh. Di jalan “compassion”, mendengar orang yg pernah menyakiti dalam kesusahan adalah kesempatan emas utk menerapkan compassion. Terutama tdk saja kesempatan utk menolong terbuka, juga kesempatan utk membuat compassion kita jadi sempurna. Kesimpulannya, anda datangi orang yg menyakiti yg dlm kesusahan, ulurkan tangan bantuan bila itu memungkinkan (kuat di sisi anda, di sisi orang yg pernah menyakiti juga mau ditolong). Kalau tdk memungkinkan, cukup doakan dan pancarkan compassion dr jauh. :) Tks

Ngurah Kama Jaya, harga diri tidak diukur dari seberapa sering kita marah. sebaliknya, semakin sering Anda marah “nilai” Anda di depan orang lain malah dipertanyakan. sebagaimana sdh ditulis di tulisan ini, belajar melihat “kesamaan” antara kita dan orang lain yakni sama2 mau bahagia, sama2 tdk mau menderita. lebih dalam dr itu, bagus kalau bisa belajar melihat orang yg menyakiti sebagai pemunculan Guru. hal lain, lebih bagus lagi bila bisa memandang semua mahluk seperti seorang Ibu memandang putera tunggalnya. :) Tks

Leave a response -

Your response:


Categories