Posted by: gedeprama | 24 February 2012

Mati Parama Shanti

Menakuti kematian secara berlebihan, itulah salah satu tanda manusia yang belum tersembuhkan secara spiritual. Padahal, kematian serupa tali di ruang gelap. Karena gelap (belum tercerahkan) maka ketakutan akan ular (kematian) muncul, namun begitu cahaya dihidupkan, ketakutannya menghilang.

Tuhan sebagai Hukum

Di India pernah ada Guru yang dimintai tolong pemuda agar roh orang tuanya yang meninggal bisa bergerak naik. Dengan tersenyum Guru ini meminta pemuda tadi mengambil batu dan mentega kemudian meletakkannya di kolam. Tentu saja batunya tenggelam, menteganya mengambang di permukaan. Demikian juga dengan manusia setelah kematian. Jika yang bersangkutan berat dengan kemelekatan (harta, kekuasaan, keluarga, rasa bersalah), maka ia bergerak turun ke alam binatang, setan, neraka. Tapi bila ia ringan tanpa kemelekatan apa-apa ketika kematian, ia senantiasa di atas.

Semua ini menyisakan pesan, ada hukum yang bekerja di alam. Ia yang bisa mengenali hukum ini, membadankannya dalam keseharian, terutama tatkala kematian, maka bisa terbebaskan. Ini yang oleh sejumlah sabahat di Barat disebut sebagai God as a law (Tuhan sebagai sebuah hukum).

Permata Tubuh Manusia

Dengan meminta maaf pada para dewa, tubuh manusia adalah tubuh ideal untuk praktek spiritual. Terutama karena alam neraka, setan, binatang terlalu berat dengan penderitaan dan kebodohan. Sebaliknya alam dewa dan setengah dewa berisi terlalu banyak suka cita. Dan sebagaimana hakekat suka cita mudah lupa dengan praktek spiritual.

Dan dalam tubuh manusialah suka dan duka itu seimbang. Makanya tetua Bali menyebut manusia dewa ya kala ya. Dengan tubuh manusia ini kehidupan bisa bergerak ke bawah (kala), atau ke atas (dewa). Tapi ada pilihan ketiga, kita bisa mengalami pembebasan. Terutama karena pembebasan dekat sekali dengan keadaan seimbang sempurna, kemudian melampaui segala dualitas, termasuk dualitas lahir-mati. Di Bali Utara diberi nama Pura Penimbangan.

Makanya banyak guru mengajarkan, terlahir sebagai manusia tetapi tidak melakukan praktek spiritual, serupa dengan datang ke pulau penuh permata, tetapi ketika pulang ke rumah kematian sepasang tangannya kosong tidak membawa apa-apa. Yang celaka, tidak saja gagal membawa permata, tetapi melakukan kesalahan berbahaya (membunuh, menyakiti, mencuri dll) ketika mengenakan tubuh manusia, sehingga setelah kematian harus membayar dengan terlahir di alam neraka, setan, binatang.

Kebebasan saat Kematian

Di Tantra disimpan sejumlah ajaran rahasia yang memungkinkan manusia mengalami pembebasan di waktu kematian. Ini mirip dengan pesan Krishna ke Arjuna di Bhagavad Gita: “pikiran terakhir saat kematian, itulah yang amat menentukan perjalanan kemudian”. Ada sejumlah cara yang memungkinkan manusia terbebaskan di waktu kematian. Ada mati secara Dharmakaya, mati secara Sambhogakaya, mati secara Nirmanakaya, ada pembebasan dengan mendengarkan dan masih ada lagi yang lain. Cuman, karena sifat Tantra yang rahasia, tidak banyak yang bisa diungkapkan ke publik. Ia hanya boleh dibuka rahasianya ke murid-murid dengan kualitas bakti yang mengagumkan.

Untuk konsumsi publik, mati secara Nirmanakaya layak direnungkan. Dalam pendekatan ini, kematian menjadi saat persembahan yang paling menentukan. Ini cocok dengan orang Bali, karena baik dalam suka maupun duka orang Bali mencari perlindungan dalam persembahan. Tubuh, kata-kata, perbuatan, kekayaan (material dan spiritual) semuanya dipersembahkan. Idealnya, seseorang memiliki tubuh, kata-kata, perbuatan, serta kekayaan yang bersih dan jernih. Sehingga momen kematian menjadi momen persembahan yang sempurna. Ia seperti memberikan sesuatu yang suci dari sisi murid, sekaligus sesuatu yang indah dari segi Guru. Pertemuan antara perasaan suci di sisi penyembah, dengan aroma indah di sisi Guru, kemudian menjadi titik pembebasan yang menawan. Itu sebabnya, sedari awal penting sekali memiliki tubuh, kata-kata, pikiran dan kekayaan yang bersih dari segi niat, bersih dalam proses mencari, serta bersih dalam menggunakannya.

Sayangnya sangat sedikit manusia di zaman kali (gelap) yang bisa menjumpai kondisi ini. Kebanyakan manusia memiliki tubuh, kata-kata, pikiran dan kekayaan yang kotor. Akibatnya, di waktu kematian dikejar oleh rasa bersalah mendalam. Sehingga tidak sempat melakukan persembahan, lupa memikirkan Guru, manusia jenis ini sangat berat menggendong rasa bersalah. Keadaanya mirip dengan kambing yang menggendong beban kuda. Sesungguhnya sangat menyedihkan mati seperti ini, karena perjalanan bergerak dari pulau permata bernama tubuh manusia kemudian turun ke alam miskin secara spiritual bernama neraka, setan, binatang.

Menyadari waktu hidup manusia yang semakin pendek, sekaligus semakin banyaknya faktor yang membuat manusia cepat mati - dari kecelakaan, kriminalitas sampai penyakit yang tidak ada obatnya - maka tidak ada pilihan lain, cepat mencari Guru, belajar spiritualitas mendalam, lakukan bakti mendalam sampai bisa melihat cahaya yang tersembunyi di balik Guru.

Di Tibet pernah terjadi seorang anak muda dihinggapi rasa takut mendalam akan kematian, kemudian menjumpai Guru Tantra Padmashambawa. Setelah mencium kaki Guru, menyembah, kemudian Gurunya berpesan: “Mulai sekarang lupakan namamu, lupakan orang tuamu, lupakan desa tempat lahirmu. Ingat hanya satu, melaksanakan kasih sayang”. Dan anak muda ini mengalami pembebasan lima tahun kemudian.

Penjelasannya sederhana, kasih sayang membuat seseorang memperkecil egonya dari hari ke hari. Tatkala keakuan terkikis habis, batin jadi ringan. Kematian indah terjadi tatkala batin yang ringan berjumpa dengan persembahan menawan di waktu kematian.

Di Jepang pernah ada Guru yang cermat sekali membimbing muridnya yang tua agar matinya indah. Setiap kali meninggalkan sebuah tempat - misalnya ruang makan - renungkan dalam-dalam kalau baru saja mati di ruang makan, terlahir di taman. Begitu selesai menyapu taman, renungkan dalam-dalam mati di taman, terlahir di ruang keluarga. Dan murid ini juga mengalami kematian menawan, terutama karena batin yang ringan berjumpa persembahan menawan. Inilah mati Parama Shanti.

Bila keadaan indah ini terlalu sulit, segera persiapkan agar di kehidupan berikutnya bisa melakukan praktek spiritual mendalam. Pertama, berusaha agar lahir sebagai manusia dengan belajar seawal mungkin berperilaku sebagai manusia utama. Kedua, terlahir di keluarga yang berkecukupan agar waktu tidak habis mencari makan, terutama dengan banyak memberi. Ketiga, lahir di keluarga berkecukupan yang menghargai moralitas. Ini bisa dilakukan dengan memurnikan pikiran, kata-kata dan perbuatan setiap hari. Keempat, terlahir di waktu dan tempat di mana ada Dharma (ajaran spiritual) khususnya dengan menunjukkan rasa hormat pada ajaran-ajaran suci. Terakhir, berdoa agar berjumpa Guru. Ini bisa dilakukan dengan menghormati semua perwujudan Guru. Makanya di Tantra disebutkan, Guru adalah sumber pencapaian spiritual. Meminjam kisah salah satu pemanah utama dalam epos Mahabharata, bahkan patung Guru pun bisa membuat seseorang mengalami realisasi tingkat tinggi. Atau Jetsun Milarepa di Tantra, bahkan kesalahan membunuh orang pun bisa dimurnikan melalui praktek Guru Yoga mendalam.


4 teman anda menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Responses -

Suci, perasaan bersalah dan menyesal (terutama ke orang2 meninggal) bisa dilakukan sesederhana ini. pertama, belajar melihat sisi2 indah dr orang yg sdh meninggal (kebaikannya, kasih sayangnya, pertolongannya). kedua, bangkitkan rasa berhutang budi pd mereka. ketiga, bangkitkan janji utk membalas kebaikan mereka ke orang lain (terutama yg dekat dg orang meninggal) yg masih hidup. keempat, lakukan kebaikan seolah2 Anda berbuat baik ke orang yg sdh meninggal. kelima, bila Anda percaya dedikasikan karma baik perbuatan baik Anda ke orang meninggal yg membuat Anda merasa bersalah. :) Tks

Widodo08, kemana manusia setelah mati, ada berbagai teori. saya mengikuti cara Tibetan book of the dead, di mana saat kematian ada beberapa titik peluang mencapai pencerahan. saya sarankan Anda mendalami karya2 yg berkaitan dg Tibetan book of the dead. :) Tks

Tedjakusuma, teruskan menyayangi istri. infokan ke istri, peserta meditasi kita bhineka tunggal ika. angkatan terakhir, salah satu suster Katolik ikut 10 hari sampai habis. dan sepulang dr meditasi, balik ke Yogya tetap sebagai suster. dan apapun keputusan istri, tetap sayangi istri ya Tedja (uncondotional compassion). terus bertumbuh Tedja. :) Tks

Dek Moleh, inti spiritualitas - dlm bahasa tetua Bali - sebenarnya sederhana: pikiran yg indah (jauh dari kebodohan, kesarakahan, kemarahan), kata2 yg indah (tdk bohong, tdk berkata2 kasar, tdk memecah belah, tdk ngobrol tanpa tujuan), perbuatan yg indah (tdk menyakiti, banyak menyayangi). sesederhana itu Dek. bila ke tiga2nya indah, Anda akan berhenti mencari Pura di luar, menemukan Pura di dalam. makanya Guru besar Mpu Kuturan (abad 11) me-Linggih- kan Shiva di Pura Dalem (pura yg ada di dalam). rahayu Dek. :)

Ketut S. agama mengenal kotak2 perbedaan, spiritualitas cenderung melepas kotak2 tadi kemudian bergandengan tangan dalam compassion (kasih sayang). rumus di jalan ini sederhana Tut, banyak menyayangi, sesedikit mungkin menyakiti. Rahayu Tut. :)

Made Mariana, kematian memang pasti tapi sangat jarang manusia yg mempersiapkan diri utk kepastian yg satu ini. soal peaceful death (mati yg damai) lengkapnya saya sering ajarkan di kelas2 meditasi panjang. sesi ini amat disukai, sekaligus tdk boleh diajarkan sembarangan krn menyangkut salah satu ajaran rahasia yg boleh diceritakan di waktu dan tempat yg tepat. cuman, sbg perkenalan, murid2 saya memasukkan rekaman sesi kuliah soal ini di U-tube, coba cari ya De. pedoman saya dlm hal ini adalah The Tibetan Book of the Dead krn di Tibet (atap bumi) ajaran kematian paling terang. bila ada ajaran yg lain saya selalu menghormati ajaran yg berbeda. soal upacara ngaben yg mahal, ini soal sensitif De. cuman, semakin banyak generasi baru yg berjarak akan hal ini. bagi saya sederhana saja, bekal minimal kita saat kematian adalah karma baik. bekal maksimal kita adalah latihan spiritual. di jalan yg saya ikuti, ada beberapa titik ketika kematian kita bisa mengalami pencerahan. cuman, lagi2 hrs dipersiapkan dr sekarang dg olah spiritual yg tekun. soal upacara kematiaan di Buddhis, saya tdk terlalu tertarik dg upacara. lebih tertarik dg praktek meditasi sehari2, melaksanakan dharma dlm keseharian, serta pelayanan yg penuh dg kasih sayang. :) Tks

Made Mariana, pengertian Anda tidak salah. untuk mendalaminya lagi, coba cari buku Thich Nhat Hanh berjudul present moment wonderful moment. selamat berlatih meditasi De. :) Tks

I Nyoman Sugiana, nyaris semua orang mati di zaman ini tanpa persiapan. meditasi adalah salah satu persiapan terbaik. murid2 yg ikut saya dibekali dalam hal ini. :) Tks

Made, Lama Atisha Dipankara Shrijnana memang murid YA Serlingpa Dharmakirti dari Sriwijaya sebagaimana yg Anda tanyakan. beliau mendapat ajaran kesempurnaan Bodhichitta. soal ajaran Keparamarthan yg diajarkan Ida Dang Hyang Dwi Jendra ke istri dan puterinya tdk banyak saya telusuri. menyangkut ajaran rahasia kematian yg kerap saya babarkan memang berakar pada Yang Agung Buddha Samanthabadra, kemudian dibukakan rahasianya ke generasi berikutnya oleh YA Lama Padmasambawa. :) Tks

Made, kisah Lama Atisha banyak sekali ditulis oleh Guru2 Tibet. coba search di amazon.com dengan nama Aitsha, banyak karya2 yg membahas ajaran Bodhicitta di sana. :) Tks

Geson Pastriawan, ada banyak teori tentang kematian. Lebih disarankan memilih ajaran yg ada hubungan karma kuat dg Anda. Dg tetap menghormati ajaran suci lain yg berbeda, saya ikut jalan tetua dari Tibet khususnya ajaran YA Lama Padmasambhawa dalam hal kematian. Di jalan ini, yg paling menentukan di moment kematian adalah kedalaman praktek dharma seseorang. Bila prakteknya dalam, di moment kematian ada beberapa titik di mana kita bisa mengalami pembebasan. Ini yg kerap saya ajarkan ke murid2 yg ikut saya di meditasi. Sebaiknya Anda lihat di you tube rekaman saya soal kematian ini. :) w/ compassion

Leave a response -

Your response:


Categories