Posted by: gedeprama | 2 March 2012

Memberikan Itu Menyembuhkan

Masalah, masalah, masalah, itulah keseharian manusia di bumi ini. Presiden Amerika Serikat Barack Obama sudah dua kali batal datang ke Indonesia. Ini menunjukkan rumitnya kehidupan di Amerika sana.  Dulu, krisis utang hanya menjadi cerita negara berkembang, sekarang Yunani mengalami krisis utang.

Negeri ini serupa. Reformasi yang diharapkan  menyudahi banyak masalah, malah menambah  masalah. Dari tarik menarik kepentingan yang rumit di tingkat atas, sampai dengan terbakarnya banyak orang oleh kompor gas di tingkat akar rumput. Digabung menjadi satu, kerumitan hidup manusia meningkat di mana-mana. Mungkin karena demikian rumitnya, maka Sheila McNamee dkk (1992)  memberi judul karyanya Therapy as Social Construction. Jalan keluar komprehensif  tidak pernah datang dari salah satu pihak saja. Kita perlu mengkonstruksinya     bersama-sama.      Sayangnya,    upaya bersama-sama ini yang sulit dilakukan. Jangankan di tingkatan global, di keluarga pun sulit.

Lem Perekat

Ciri dominan masyarakat kini bila dibandingkan dengan masyarakat dulu, nafsu manusia untuk selalu untung demikian besarnya.  Maka jadilah masyarakat seperti permainan tarik tambang. Perhatikan tempat-tempat manusia berkumpul yang dulunya sejuk dengan saling memberi, sekarang dipenuhi oleh pemburu keuntungan. Itu sebabnya, seorang sahabat yang rajin meditasi di sejumlah tempat menceritakan, semakin banyak manusia yang datang ke sebuah tempat, semakin panas hawanya. Di Barat malah lebih menyentuh hati, tempat ibadah sebagian tidak saja kehabisan pengunjung, malah dijual.

Salah satu sisi kehidupan masyarakat tradisional yang layak diteladani adalah kegembiraan mereka dalam memberi. Itu sebabnya Marcel Mauss (1990) memberi judul karyanya The Gift: The form and reason  for exchange in archaic  societies. Dalam karya antropologi indah ini,  terlihat bahwa lem perekat yang menyatukan masyarakat tradisional adalah suka cita mereka dalam memberi. Lebih dari itu, mereka berjumpa kesembuhan dalam pemberian.

Pemberian tidak harus dalam bentuk uang. Banyak sekali sisi-sisi kehidupan kekinian di mana manusia bisa memberi. Dari berbagi senyuman, mendengarkan keluhan, memberi kesempatan duluan bagi orang yang buru-buru, memberi tempat duduk pada orang tua di tempat publik, memegang pintu bila di belakang ada orang, menghormati pemimpin, menyayangi anak-anak  panti asuhan atau orang tua di panti jompo, sampai mengalah sama anak-anak di rumah. Syukur-syukur bisa ikut membimbing masyarakat menuju kebajikan.

Dan bagi siapa saja yang sudah terbiasa memberi akan mengerti, ketika memberi sejatinya manusia tidak hanya membantu, melainkan juga membangunkan sifat-sifat baik yang ada dalam diri. Bunda Theresa adalah contoh yang teramat bercahaya. Sementara manusia kebanyakan teramat sibuk memenuhi keuntungan diri sendiri, Bunda Theresa memperuntukkan seluruh hidupnya untuk orang lain. Dan terlihat jelas, tidak saja warga Kalkuta yang sempat dibantu yang menikmati hasilnya, hidup Bunda Theresa menjadi monumen pemberian yang akan masih bercahaya sampai ribuan tahun ke depan.

Tidak banyak manusia yang terlahir sebercahaya Bunda Theresa, kemudian diberi kesempatan dikenal dunia. Namun kita orang biasa bisa membuat perbedaan melalui tindakan-tindakan kecil yang tidak dikenal. Dari mematikan keran air yang lupa dimatikan, mendonorkan darah, membersihkan kloset umum yang ditinggalkan petugasnya, memungut sampah yang dibuang sembarangan, menolak penggunaan tas plastik, mengurangi penggunaan sabun, sampo dan tisu, memberi makan burung atau anjing liar, sampai dengan memindahkan batu di jalan yang membahayakan pengendara lain.

Seorang guru yang rajin melakukan hal-hal seperti ini berpesan: “Lihatlah alam. Dari bukit yang sejuk sampai bintang yang bercahaya di langit. Tidak ada hal lain yang dilakukan mereka terkecuali memberi. Hasilnya, tidak terdengar ada bukit yang bertengkar,  tidak terdengar ada bintang yang mengeluh. Ujung-ujungnya, mereka damai”. Ini memberi inspirasi tambahan, memberikan ternyata mendamaikan!

Keterhubungan

Lebih dari sekadar mendamaikan, pemberian mudah membuat manusia menjadi terhubung. Ia  yang  lama menyatu dalam keterhubungan, di suatu waktu merasakan, ternyata semua mahluk terlahir untuk berdoa agar kita  tercerahkan.  Dalam salah satu dialog kosmik, ada yang berbisik: “Ketika para mahluk menyakiti, sesungguhnya sedang mengajarkan kesabaran. Tatkala bersedih, sebenarnya mereka sedang membangkitkan energi kasih sayang di dalam sini. Saat mereka berbahagia, menjadi ujian seberapa bahagia manusia bisa melihat orang lain bahagia. Manakala para mahluk melayani, manusia sedang melihat cermin kebaikan hatinya”.

Cermati alam sebagai wakil keterhubungan, ia menyediakan bahan-bahan pencerahan berlimpah. Pepohonan sebagai salah satu contoh, ia terus berbagi oksigen. Hasilnya, sejuk dan teduh bila berteduh di sana. Danau sebagai contoh lain, ia menyediakan dirinya sebagai tempat banyak mahluk untuk bertumbuh. Ujung-ujungnya, terlalu banyak kehidupan yang merasakan kesejukan di danau.

Dalam terang pemahaman seperti ini, bisa dimaklumi bila ahli neurosains Fransisco Varela menemukan istilah the biology of compassion. Kasih sayang juga menyembuhkan. Ini mirip dengan penelitian yang menyimpulkan bahwa manusia yang memiliki binatang peliharaan yang disayangi di rumah memiliki resiko terkena serangan jantung lebih kecil dibandingkan mereka yang tidak memilikinya. Ini memberi inspirasi, memberikan juga menyembuhkan.

Makanya dalam kebijaksanaan Timur, ruang digunakan sebagai simbol pencerahan (the ultimate healing). Batin tercerahkan, demikian pesan tetua, serupa ruang.  Air tidak bisa membuatnya basah, api tidak bisa membuatnya terbakar. Disamping itu, ruang adalah simbol kasih sayang tidak terbatas karena memberi tempat kepada apa saja dan siapa saja untuk bertumbuh. Dan langkah terpenting membuat batin tercerahkan seperti ruang adalah rajin memberikan karena memberikan itu mendamaikan sekaligus menyembuhkan.


11 teman anda menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Responses -

Krisna, memberi tentu mulya, tapi lebih mulya lagi bila memberi tdk diikuti oleh keakuan, keegoan, lebih2 berharap agar pemberian hrs diikuti oleh pujian dan balasan. sekali lagi memberi itu bagus dan mulya Krisna. mengenai pihak yg menerima juga serupa, berterimakasih tentu baik, tahu diri juga baik, berdoa agar ada kesempatan membalas kebaikan orang lain juga baik. tapi lebih dari itu, merenungkan dalam2 bahwa yg memberi dan yg diberi adalah gerakan dua tangan dari “tubuh” yg sama adalah pekerjaan rumah pencari sejati. indahnya mengetahui bahwa pemberi dan yg diberi adalah dua tangan dari “tubuh” yg sama, seseorang akan terserap dalam ke dalam lapisan2 keheningan mendalam. dan di lapisan keheningan yg dalam akan mengalami (bukan saja mengerti), serupa air yg tdk bisa dipisahkan dg basah, keheningan tdk bisa dipisahkan dg kasih sayang (compassion). intinya sederhana, bagi yg memberi teruskan memberi, bagi yg belum bisa memberi, tdk apa2 menerima dulu. pd waktunya akan bisa memberi. sambil mempersiapkan perjalanan panjang utk mengalami, yg memberi dan yg diberi hanya dua tangan dari “tubuh” yg sama. kemudian, “istirahat” dalam keheningan yg tdk bisa dipisahkan dg kasih sayang. :) Tks

Fatimah Vitta, sebagaimana dialami banyak pencari dari zaman dulu, Guru sesungguhnya sudah hadir saat Anda meniatkan Guru utk hadir. kehadiran Guru tdk saja kehadiran secara fisik, pesan, tulisan, bimbingan, pelajaran, pengalaman keseharian, semuanya adalah kehadiran Guru. lebih2 bila Anda peka bisa melihat Guru simbolik dan Guru rahasia, semua arah adalah Guru. sarannya kemudian, bukalah mata/telinga kepekaan, yakini semua kejadian adalah tangan2 Guru yg membimbing. pada saatnya, Guru akan hadir secara fisik di depan Anda. :) Tks

Diah, semua perjalanan spiritual dimulai dg dualitas (memberi-diberi, Guru-murid dll). bila Anda tekun meneruskan perjalanan ini, angka dua ini suatu saat akan menjadi angka satu, di mana yg memberi dan yg diberi adalah bagian dari “tubuh” kosmik yg sama. serupa dg danau yg kelihatannya memberi air pada sungai, mirip sungai yg kelihatannya memberi air pd samudera, tapi di tataran tubuh kosmik, yg memberi dan yg diberi satu. di tingkatan ini Diah, seseorang akan “istirahat” dalam keheningan, kemudian rindu berbagi kasih sayang. air sungai memang hanya mengalir lewat, tapi pd saat yg sama membuat subur setiap tempat yg dilewati. itulah “istirahat’ dalam keheningan yg tdk terpisahkan dg kasih sayang. :) Tks

Lenna, tiap orang punya tingkat pertumbuhannya masing2. mereka sdh mau memberi saja sdh baik. soal masih ada kekurangan, sama dg kita, cobalah memahaminya sebagai bagian dr proses bertumbuh bersama. lebih sedikit kita menghakimi orang lain lebih baik Lenna. :) Tks

Dewi, teruskan belajar dan bertumbuh. gunakan tulisan2 di blog ini utk sarana pertumbuhan Anda. laksanakan setapak demi setapak karena Anda baru dihitung ‘berubah’ setelah melaksanakannya. setidak sempurna apa pun, laksanakan, laksanakan, laksanakan. :) Tks

Gede Muliarta, nanti Anda akan dihubungi mas Ivan (021 748 638 45) dalam hal ini sebelum tgl 26/3 2012. :) Tks

Made Mariana, coba lihat jadwal meditasi di halaman depan blog ini, di tanggal2 saya mengajar meditasi saya ada di Brahma Vihara desa Banjar. bila diberkahi, Anda boleh ikut semampu Anda mengikutinya. :) Tks

Meidy, beda antara kata hati dan ego memang tipis sekali. utk orang biasa sebaiknya dibimbing oleh Guru hidup dan Guru buku suci. sbg bahan renungan, awalnya ego suka menggoda kita dg keinginan yg hebat2. bila kita tdk tertarik, ego juga menggoda kita dg yg halus (perasaan suci, bijaksana dll). kata hati pedomannya sederhana, ia kerap bergandengan dg kerendahatian sekaligus kerindual utk melayani. tapi….tanpa embel2 bahwa palayanan kita hrs dipuji, dikenal orang dll. :) Tks

Fatimah Vitta, kesalahan ada tdk sebagai racun mematikan, melainkan sebagai “bel kesadaran” yg mengingatkan kalau2 nurani kita masih bunyi atau tdk. perasaan bersalah Anda menunjukkan, nurani Anda masih bunyi. jadi, kesalahan hadir sebagai bel utk kembali, semacam batu loncatan utk memperbaiki diri lagi dan lagi. :) Tks

Meidy, bila Anda tanya apakah saya selalu damai, tentu saja tidak karena batin kita (mikrokosmos) serupa alam (makrokosmos). ada saatnya terang ada saatnya mendung. cuman bila sudah belajar meditasi mendalam, kita bisa berhenti dibawa naik turun oleh terang dan mendung. mendung kemudian akan bernasib seperti pencuri memasuki rumah kosong. soal apakah mahluk tercerahkan sama sekali tidak memiliki ego, di jalan yg saya ikuti mahluk tercerahkan masih ada “ego”nya yakni “ego” utk selalu menolong, menolong, menolong. maafkan kalau jawabannya tdk sesempurna yg Anda harapkan. :) Tks

Leave a response -

Your response:


Categories