Belas Kasih yang Menyembuhkan

5 Jun 2013

d90033b9c254dfe4b29b9ab7f1bc004b_gede-prama-wawancaraDimuat di koran Suara Pembaharuan, Rabu 15 Mei 2013Kolom MaestroOleh: Hendro SitumorangJiwa yang terlahir harus bertumbuh menjadi dewasa. Namun, jiwa itu tidak sehat tanpa adanya masalah. Semua orang pasti memiliki masalah dan hal itu jangan ditakuti. Gunakan masalah sebagai nutrisi.Menurut guru spiritual Gede Prama, kehidupan yang serba-salah membuat bumi dan situasi semakin panas. Begitu juga secara mental. Hal itu terlihat dari meningkatnya angka bunuh diri, kriminalitas, perceraian, penuhnya rumah sakit jiwa, dan korupsi di mana-mana.

Tantangan terbesar yang tidak bisa diselesaikan pemimpin agama adalah keserakahan manusia. Tantangan ini lebih besar dari kemampuan kita menyelesaikannya. Hal ini bukan kesalahan dari pemimpin agama, tetapi kecenderungan zaman yang membuat manusia menjadi serakah dan berefek negatif, ucapnya saat menyampaikan kebaikan dan kasih sayang lewat Compassion Festival di Mal of Indonesia (MOI), Jakarta, baru-baru ini.Di tengah situasi hawa panas ini, dibutuhkan penyejuk dan peneduhan agar kembali tenteram dan damai. Maka dari itu, guna mengundang orang-orang pulang ke rumah asli yang sejuk dan lembut, dengan segala keterbatasan kelompok spiritual Compassion bekerja sama dengan MOI memberanikan diri mengadakan Compassion Festival.Bagi pria yang kini berkonsentrasi pada pelayanan, untuk mengatasi emosi langkah pertama adalah sejuk kan hati dengan belajar terhadap ketidaksabaran diri sendiri. Sejak memakai tubuh dan raga manusia, emosi itu masih ada.Lewat aspek meditasi dan spiritual mendalam, api emosi bisa digunakan untuk memasak (mengolah). Contohnya, ketika emosi menyerang, didiamkan saja sehingga dapat menyejukkan bukan justru membakar api yang tak terkendali.Yang diubah adalah pikiran kita sendiri. Kualitas hidup ada pada pikiran yang penuh kasih sayang. Ketika anda disakiti, dicaci dan dimaki, Anda bisa S3 yaitu senyum, senyum saja, karena orang marah itu tak sadar. Dengan demikian, ruang kesadaran kita semakin lebar, ungkapnya yang memberi gelar S3 pada murid-murid meditasinya.Lewat meditasi mendalam, energi kesadaran membesar dan energi kemarahan melemah. Pencerahan pun terjadi saat kemarahan muncul dan kesadaran manusia meninggi, sehingga dengan menyelamatkan satu makhluk, maka bisa menyelamatkan semua makhluk di bumi ini.Orang cerai tak jadi, yang mau mencuri tak jadi, yang berkelahi jadi berdamai dan lainnya, urai penulis buku sekaligus mantan CEO beberapa perusahaan besar tersebut.Gede menambahkan, bila sudah menyejukkan diri sendiri, maka bisa menyejukkan orang lain. Dari segala kekurangannya, agama masih menjadi tempat menyejukkan hati dan perasaan. Oleh karena itu, ia senang rumah ibadah berada di mana-mana.KeluargaIa berpesan agar masyarakat dapat menyejukkan keluarga. Jaga dan rawatlah pasangan yang sudah ada. Diakui, selama 35 tahun berkeluarga, Gede pun masih terkena omelan sang isteri. Cinta itu tak berarti senang-senang saja, tetapi juga mau sakit menerima orang yang dicintai tumbuh di luar seleranya.Lakukan apa yang bisa dilakukan dan tidak perlu menunggu pemerintah, pemuka agama dan lembaga lainnya bertindak. Pesannya sederhana, kita semua rindu pulang ke rumah kesejukan dan keteduhan. Andaikan satu orang dapat melakukan dan menenangkan 100 orang saja, maka dunialah yang menerangi masyarakat luas, ungkapnya.Gede bersama 40 guru spiritual lintas agama lainnya, memberi dukungan moral dan spirit tentang kebaikan dan kasih sayang tanpa dibayar. Acara ini sudah digelar sejak 1 Mei hingga 2 Juni 2013 mendatang di MOI, Kelapa Gading, Jakarta Utara, setiap pukul 10.00 WIB sampai dengan 22.00 WIB.Serangkaian acara yang ada di dalam festival itu antara lain compassion gallery, bedah buku tentang spiritualitas, meditasi, dan vegetarian. Acara lainnya antara lain pelatihan meditasi, yoga, pameran seni, pameran relik suci, dongeng anak, pameran foto, dan donor darah.Untuk kembali pulang ke rumah kesejukan ini, salah satu berkah yang tersedia di alam bernama air suci kasih sayang (holy water of compassion). Air suci kasih sayang ini ada di dalam diri.Cukup dengan berlatih membiasakan pikiran, memandang semua makhluk sama dengan diri sendiri, sama-sama mau bahagia, mengisi hati dengan pelayanan, maka air suci kasih sayang bisa diakses siapa saja dan di mana saja.Menurutnya, terdapat tiga tingkatan dalam kelompok spiritual compassion yang harus dilalui untuk menggali sumur air kasih sayang, yaitu belajar untuk sepenuhnya tidak menghakimi dan menyakiti. Jangan membunuh lewat tindakan, kata-kata maupun pikiran, karena semua memerlukan ruang untuk bertumbuh.Kedua, menolong semampu kita dengan membangkitkan energi kasih sayang yang alami. Sealami tangan kanan yang merawat tangan kiri yang terluka, karena semua hidup dalam satu tubuh yang sama.Kalau memiliki pengetahuan, tolonglah dengan pengetahuan. Bisa juga dengan tindakan, uang bagi yang memilikinya ataupun hal lainnya. Seperti halnya Bunda Teresa yang membantu dengan tindakan,tegas dia.Ketiga, menggali sedalam-dalamnya sampai ketemu wajah kasih sayang yang sempurna (perfect compassion) bahwa semuanya tanpa terkecuali adalah tarian sempurna dari kesempurnaan yang sama. Di tingkatan kasih sayang ketiga ini, setiap gerakan kehidupan menjadi percikan-percikan air suci kasih sayang yang menyejukkan dan meneduhkan.Sekecil apa pun tangan kita, lakukanlah sesuatu dalam hidup ini, pesan Gede.

 

Wawancara Gede Prama berjudul “Belas Kasih yang Menyembuhkan” dapat juga dibaca melalui link dibawah ini
http://www.belkedamaian.org/ebooks/2013/06/05/wawancara-suara-pembaharuan-belas-kasih-yang-menyembuhkan.html


TAGS gede prama


-

Author

Search

Recent Post