Nyanyian Belas Kasih

24 Feb 2016

Beberapa waktu lalu ada sebuah cerita indah yang terjadi di Bali. Suatu hari seorang anak yang penuh bakti kepada Ibunya merasakan kalau Ibunya mau wafat. Di tengah perasaannya yang kacau, ia bertanya ke ibunya tentang apa yang sebaiknya dilakukan kalau beliau wafat. Dengan tersenyum ibunya berpesan: “rawat adikmu dengan baik”.

Dan setelah Ibu ini wafat maka dirawatlah adiknya sebaik-baiknya. Sebagaimana perjalanan keutamaan lainnya yang penuh dengan godaan dan guncangan, perjalanan merawat adik ini juga penuh dengan guncangan. Dari sulit mencarikan pekerjaan, mewariskan banyak hutang sampai dengan berurusan dengan polisi.

Kendati demikian, dari hari ke hari, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, terus menerus sang adik dirawat demi sebuah bakti kepada ibu yang sangat dicintainya. Sesakit apa pun ia di dalam, tetap adiknya dirawat, dirawat dan dirawat.

Di sebuah malam, adik ini mencuri uang hasil sumbangan masyarakat di sebuah tempat suci. Setelah mencuri, ia telepon kakaknya untuk menjemput di tempat suci di mana ia mencuri uang. Sesampai di sana, sang kakak tidak saja tidak menemukan adiknya, tapi juga menemukan masyarakat yang mengamuk memukuki sang kakak karena disangka mencuri uang sumbangan masyarakat.

Lama kelamaan rahasia cerita sesungguhnya ketahuan oleh masyarakat luas. Tatkala masyarakat meminta polisi membebaskan sang kakak serta menangkap sang adik, dengan tenang sang kakak menjawab: “izinkan saya tetap di penjara demi bakti saya kepada Ibu, serta cinta saya kepada adik”.

Sejujurnya, seperti itulah perjalanan spiritual yang mendalam. Ia melibatkan banyak sekali rasa sakit. Akan tetapi, jika orang biasa lari dari rasa sakit, sebagian bahkan menyerang balik saat disakiti, jiwa-jiwa bercahaya mengizinkan rasa sakit memurnikan dan menyempurnakan perjalanan.

Awalnya ego dan keakuan melawan. Lama-lama ego dan keakuan mengecil dengan berjalannya sang waktu. Semakin kecil egonya semakin kecil rasa sakitnya. Semakin kecil keakuan, semakin dalam kedamaiannya. Demikianlah yang ditemukan oleh jiwa-jiwa yang bercahaya.

Bagi jiwa-jiwa biasa, cerita di atas adalah cerita pengorbanan seorang anak ke ibunya, pengorbanan seorang kakak ke adiknya. Namun bagi jiwa-jiwa yang bercahaya, cerita di atas adalah cerita perjumpaan seseorang dengan diri yang agung. Cerita tentang sebuah keterhubungan yang mendalam.

Dan kekuatan pembimbingnya bernama rasa sakit, kompas penunjuk arahnya bernama compassion (belas kasih). Gabungan antara rasa sakit yang mendalam dengan belas kasih yang juga mendalam inilah yang kerap menjadi jembatan pendek dalam menjumpai diri yang agung.

Di tingkatan keterhubungan yang indah seperti ini, seseorang akan sering mendengar pesan begini: “ukuran terindah cinta adalah mencintai tanpa pernah mengukurnya”. Inilah bentuk nyata dari kehidupan sebagai nyanyian belas kasih.

Photo Courtesy: Google.

Penulis: Gede Prama.

Pesan Gede Prama dalam bahasa Inggris bisa dibaca di bellofpeace.org, fb Home of Compassion by Gede Prama, atau twitter @gede_prama


TAGS spiritual


-

Author

Search

Recent Post