Jendelanya Cahaya

13 May 2016

Tiap sahabat yang mata kepekaannya terbuka mengerti, semua orang yang bikin ulah dan musibah di ruang-ruang publik khususnya, lebih-lebih ulahnya berkepanjangan, sebenarnya jiwanya sedang luka. Kemarahannya adalah cara luka jiwanya di dalam menangis minta ditolong.

Dengan cara pandang seperti ini, di satu sisi kita tidak ikut menyebarkan benih-benih kekerasan di masyarakat, di lain sisi energi belas kasih (compassion) mekar di dalam. Dan yang paling penting, saat-saat dilukai adalah saat-saat terbukanya peluang emas untuk berjumpa sang Cahaya di dalam.

Di jalan meditasi mendalam khususnya, kapan saja datang orang yang melukai, atau dikunjungi memori buruk dari masa lalu, cepat pancarkan cahaya kesadaran yang penuh senyuman pada dua obyek meditasi. Yang pertama, pancarkan cahaya kesadaran yang penuh senyuman kepada orang yang melukai di luar. Yang kedua, pancarkan cahaya kesadaran yang penuh senyuman pada luka jiwa yang ada di dalam.

Bersamaan dengan itu, sadari sedalam-dalamnya kalau semuanya muncul dan lenyap seperti awan-awan di langit. Semuanya tidak kekal. Semuanya hanya karma-karma yang mengalir. Mengidentikkan diri dengan awan-awan sesaat seperti sedih dan senang, itulah benih penderitaan. Menyaksikan dengan penuh senyuman setiap awan-awan yang datang, itulah benih kedamaian.

Bagi semua pemula, praktik meditasi seperti ini sangat berat. Terutama karena energi kemarahan jauh lebih besar dibandingkan dengan energi kesadaran. Begitu yang bersangkutan dilukai, biasanya dengan sangat cepatnya energi kemarahan mengambil alih keadaan lengkap dengan kata-kata dan tindakan berbahaya lainnya.

Namun tidak ada pilihan lain, pelan perlahan latih diri untuk memperbesar energi kesadaran di dalam. Bagi pemula, disarankan untuk melakukan latihannya di tempat-tempat yang jauh dari godaan. Namun bagi jiwa-jiwa dewasa dan bercahaya, godaan tidak sedang mematikan cahaya. Sebaliknya, membuat sang Cahaya memancar semakin terang.

Itu sebabnya, Bunda Teresa memilih lokasi pelayanan di tempat yang sangat miskin sekaligus sangat kumuh yakni kota Kalkuta India. Itu juga sebabnya, penjara tidak membuat Nelson Mandela menderita. Sebaliknya membuat jiwanya jadi sangat bercahaya.

Di zaman kita, Guru spiritual dengan praktik kesadadan paling dalam bernama YA Thich Nhat Hanh. Sebagaimana sudah dicatat sejarah, beliau bertumbuh di tengah perang Vietnam yang sangat menakutkan. Di zaman kita, Guru spiritual yang cahaya belas kasihnya paling menyentuh adalah YM Dalai Lama. Dan beliau kehilangan negerinya di umur 15 tahun.

Di tengah catatan sejarah spiritualitas seperti ini, mudah dimaklumi kalau banyak penggali ke dalam diri yang mendengar pesan seperti ini: “luka jiwa adalah jendela dari mana sang Cahaya memancar ke dalam”.

Dan ini mungkin terjadi kalau seseorang tidak lari dari cobaan, sebaliknya menggunakan cobaan sebagai kesempatan untuk memperkuat cahaya kesadaran di dalam. Keadaanya mirip dengan bunga yang dibakar oleh cahaya matahari panas. Keikhlasan akan menghantar jiwa di dalam jadi mekar indah menawan.

Penulis: Gede Prama.

Photo Courtesy: Twitter @breakofdawn888

Gede Prama’s message in english can be found in bellofpeace.org, fb Home of Compassion by Gede Prama, or twitter @gede_prama


TAGS spiritual


-

Author

Search

Recent Post