Khotbah Terindah

16 Dec 2016

Di tahun 1980an pernah ada ahli strategi dari Jepang bernama Kenichi Ohmae yang meramalkan akan datangnya era desa global (global village). Saat itu tidak kebayang bagaimana wajah desa global. Sekarang, dengan demikian majunya social media, mulai kelihatan wajah desa global. Dan sebagaimana terjadi sejak dulu, setiap berkah selalu membawa musibah.

Social media memang membawa banyak berkah. Tapi sulit diingkari, banyak musibah yang muncul kemudian akibat social media. Banyak orang Indonesia yang sama sekali tidak tahu dan tidak mengerti urusan suku Rohingya di Myanmar, tiba-tiba ada Vihara terkena bom teroris. Tidak sedikit sahabat di Gereja yang tidak tahu menahu kalau ada calon presiden di AS yang berkampanye anti agama tertentu di sana. Tapi sebuah pertemuan keagamaan di Bandung terpaksa dibatalkan karena dilarang dilakukan oleh sekelompok orang di sana, sebuah Gereja di Samarinda bahkan dilempari bom molotov.

Berita terkini yang membuat hati sangat sedih dan tersentuh, seorang wanita di Jakarta ditangkap oleh aparat keamanan karena mau meledakkan istana kepresidenan Republik Indonesia dengan cara bom bunuh diri. Sedih karena kekerasan bertumbuh dengan cara demikian pesatnya. Tersentuh karena wanita yang diberkahi energi feminim (lembut, halus, penyayang) bisa berubah menjadi demikian maskulin (panas dan ganas).

Pekerjaan rumahnya kemudian, dibandingkan menyalahkan keadaan, mari melakukan apa-apa yang bisa dilakukan. Dan jika didalami jejaring kerumitan di balik kekerasan, tentu saja faktornya ada banyak. Namun sulit untuk membuang sebuah faktor penting yang bernama perbedaan. Kemajuan social media khususnya, mau tidak mau membuat manusia bisa melihat dan merasakan semakin banyaknya perbedaan di mana-mana.

Bagi pikiran yang sempit dan picik, apa lagi fanatik, perbedaan itu sangat berbahaya. Namun bagi pikiran yang luas, lebih-lebih sangat mendalam, perbedaan itu berkah kehidupan yang bisa diolah menjadi pelangi indah kedamaian. Itu sebabnya, ke banyak anak muda sering dibagikan pesan, di balik kekerasan bukan agama, melainkan pikiran yang sempit dan picik. Dan pikiran picik itu ada di semua agama.

Oleh karena itu, dibandingkan membenci agama orang, mari belajar memperlebar ruang-ruang pengertian di dalam pikiran. Untuk direnungkan bersama, Tuhan menyukai perbedaan. Oleh karena itu beliau melahirkan lebih dari satu agama. Oleh karena sebab yang sama, manusia dilahirkan ke dalam jenis kelamin yang berbeda, suku bangsa yang berbeda, bahasa yang berbeda, serta sejuta perbedaan lainnya.

Pekerjaan rumah yang tersisa kemudian, kapan saja orang lain terlihat berbeda, jangan buru-buru menyebutnya salah, apa lagi menyebutnya sesat. Cepat lihat kembali semua kerangka yang ada di dalam pikiran. Dalam bahasa sederhana Confucius: “Jika orang terlihat baik, tauladani mereka. Jika orang terlihat jahat, periksa kembali pikiran Anda sendiri”.

Dengan kata lain, begitu di dalam ada tanda-tanda berbahaya seperti mau melakukan kekerasan, periksa kembali seluruh arsitektur pikiran di dalam. Di saat orang terlihat aneh, berbeda, apa lagi terlihat menjengkelkan, tidak selalu sebabnya ada di orang lain. Sering terjadi, akar terpentingnya terletak pada pikiran yang belum berhasil untuk sepenuhnya mengerti.

Seorang sahabat yang mulai menua dan pernah kaya bercerita. Saat ia muda dulu, ia tidak mengerti kenapa orang-orang kaya kalau berbicara ke orang-orang di bawah seperti supir dengan muka yang tanpa senyuman dan tanpa keramahan. Setelah ia pernah kaya, memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, di sana ia baru mengerti kenapa banyak orang kaya dan pemimpin yang berbicara dengan muka yang miskin senyuman.

Hal yang sama terjadi tatkala manusia berinteraksi dengan pihak lain yang belum berhasil dimengerti. Tidak perlu buru-buru menyebutnya sesat. Seperti menerima hadiah buku yang belum bisa dimengerti. Simpan saja dulu, mana tahu suatu hari tatkala bertumbuh dewasa, buku itu bisa berubah wajah menjadi buku yang penuh dengan cahaya makna.

Melalui pendekatan seperti ini, tidak saja lebih sedikit kekerasan yang dilakukan. Tapi juga lebih banyak kasih sayang yang bisa dibagikan. Anehnya, jika uang dibagikan membuat seseorang jumlah kekayaannya berkurang. Bila kasih sayang dibagikan, ia membuat jumlah kekayaan di dalam malah semakin bertambah. Namun ini mungkin terjadi kalau manusia tekun untuk melatih diri bahwa perbedaan bukan ancaman. Perbedaan adalah kekayaan kehidupan. Dan di tengah riuhnya social media oleh kekerasan, layak diendapkan lagi dan lagi, diantara semua khotbah tidak ada yang lebih indah dari sikap yang indah.

Penulis: Gede Prama.

Photo Courtesy: Twitter @PardueSuzanne.


TAGS spiritual


-

Author

Search

Recent Post