Memaafkan Sebagai Pencapaian

23 Dec 2016

Di sana-sini terlihat manusia marah yang menimbulkan banyak musibah. Yang paling menyentuh adalah tragedi kemanusiaan yang terjadi di Suriah. Jutaan manusia dihabisi nyawanya. Dalam kadar yang berbeda, negeri lain juga serupa. Dan sejarah manusia yang penuh kemarahan ini sudah berlangsung sangat lama.

Tembok besar China yang dibangun selama 2.000 tahun adalah monumen kemarahan orang China kepada orang Mongol. Kendati kisahnya sudah berlangsung lama sekali, sampai hari ini keturunan orang China dan keturunan orang Mongol di berbagai belahan dunia sulit nyambung. Kalau tidak mau dikatakan bermusuhan.

Belum lagi ditambah dengan sejarah kekinian yang tidak jauh berbeda. Di tahun 2001 gedung kembar bertingkat tinggi dihajar pesawat teroris di AS, di tahun berikutnya Bali terkena bom teroris hingga dua kali. Tanpa tahu sebabnya apa, sebuah Vihara di Jakarta terkena bom teroris. Sahabat-sahabat di Gereja berkali-kali harus menahan marah karena kegiatan keagamaan mereka dilarang oleh kelompok tertentu. Belum lama berselang, sebuah Gereja di Samarinda bahkan dilempari bom molotov.

Dirangkum menjadi satu, banyak sekali hal dalam kehidupan kekinian yang bisa menimbulkan kemarahan. Jika tidak melengkapi diri dengan kecerdasan memaafkan, ada banyak jiwa yang akan mengalami luka. Dan luka jiwa ini tidak saja menyebar dalam bentuk kekerasan ke mana-mana, tapi juga bisa diwariskan ke generasi berikutnya dalam bentuk kekerasan yang lebih berbahaya.

Itu sebabnya, di kelas-kelas meditasi sering dibagikan pesan seperti ini: “sudah cukup mengumpulkan pengetahuan spiritual, sudah saatnya mengolah pengetahuan spiritual menjadi pencapaian spiritual”. Dan di zaman ini, pencapaian spiritual yang paling dibutuhkan adalah memaafkan. Kita dilukai orang tua. Orang tua tua dilukai kakek dan nenek. Kakek dan nenek juga dilukai oleh orang tua mereka.

Dan mata rantai saling melukai ini bisa diputus oleh kecerdasan memaafkan. Itu sebabnya, salah satu cahaya besar dan indah yang pernah lahir di zaman kita bernama Nelson Mandela. Kendati dipenjara selama 27 tahun, beliau dengan tulus memaafkan orang kulit putih di Afrika Selatan. Tidak ada kemarahan dan dendam di sana. Pesan di balik cahaya indah Nelson Mandela sederhana: “kalau mau memiliki jiwa bercahaya di zaman ini, ingat selalu untuk belajar memaafkan”.

Tidak mudah tentu saja. Dan kekuatan besar di dalam yang membuat memaafkan menjadi tidak mudah adalah keakuan. Semakin besar ego dan keakuan maka semakin sulit memaafkan. Seorang sahabat mantan presiden direktur perusahaan dengan ribuan karyawan, menghabiskan waktu bertahun-tahun terbang ke berbagai negara menggunakan penerbangan kelas satu untuk tujuan mengajar, lulus dari sekolah bisnis papan atas dunia bercerita, kalau kesehariannya di umur tua adalah menyapu, mengepel, merapikan sampah, memberi makan pada binatang liar, serta melayani banyak orang.

Tatkala ditanya alasannya kenapa, dengan terang ia mengatakan kalau ia sedang belajar mengecilkan ego dan keakuan. Dengan kata lain, ego dan keakuan bisa diperkecil dengan cara melakukan hal-hal yang dianggap “rendah” oleh orang kebanyakan. Mungkin itu sebabnya, GA Buddha setiap hari mengajak ribuan muridnya mengemis semangkok makanan ke masyarakat. Mungkin itu juga sebabnya, kenapa Paus harus mencuci kaki pelayan-pelayan dekatnya.

Dan memaafkan sebagai pencapaian spiritual tidak bisa dicapai dengan membaca buku atau mendengarkan ceramah. Ia hanya bisa dicapai melalui tindakan-tindakan keseharian yang penuh pelayanan. Bunda Teresa menghabiskan waktu puluhan tahun merawat orang miskin dan sakit di Kalkuta sana. Mahatma Gandhi meninggalkan seluruh kemewahannya sebagai pengacara di Afrika Selatan, kemudian menyatu dengan penderitaan rakyat India yang ditindas penjajah ketika itu.

Pesannya sederhana, tindakan-tindakan keseharian yang penuh pelayanan, itulah nutrisi kejiwaan yang membuat seseorang bisa memiliki kemampuan untuk memaafkan. Setiap sahabat yang sudah sampai di tingkat memaafkan sebagai pencapaian spiritual, bukan memaafkan sebagai pengertian di kepala, akan mengerti kalau di balik kekerasan itu bukan agama. Melainkan jiwa-jiwa yang luka. Luka jiwa di dalam diri merekalah yang membuat mereka melakukan kekerasan.

Seorang kawan dekat pernah bertanya: “apa tanda kalau kita sudah bisa memaafkan”. Lihat ke dalam saat ada yang bercerita kalau orang yang pernah melukai ternyata hidupnya sukses dan bahagia. Kalau seseorang bisa diam, senyum, tidak terbakar di dalam, itulah tanda kalau ia sudah bisa memaafkan.  Yang lebih indah lagi kalau seseorang bisa bahagia mendengar bahwa orang yang pernah melukai ternyata bahagia. Sebuah pencapaian spiritual yang sangat langka di zaman ini. Dan manusia jenis inilah yang bisa memutus mata rantai penderitaan yang sudah berumur ribuan tahun. Untuk kemudian istirahat di rumah indah bernama kedamaian.


TAGS spiritual


-

Author

Search

Recent Post