Rumah Tuanya Jiwa

5 Jan 2017

Di mana-mana terlihat manusia yang meninggalkan rumah tua peninggalan orang tua. Macam-macam alasan yang ada di balik kecenderungan banyak orang untuk menjauh dari rumah tua. Dari enggan konflik sama saudara, sampai mencari lingkungan dengan udara yang jauh lebih segar. Namun ia juga membawa pertanda kosmik kalau banyak manusia yang menjauh dari rumah tuanya jiwa bernama keluarga.

Sebagian orang menjauh dari keluarga karena perceraian, sebagian manusia lari dari keluarga karena dititipi anak-anak bermasalah atau anak berkebutuhan khusus, ada juga yang menjauh karena trauma masa kecil. Padahal, di zaman ini taman jiwa yang paling mungkin untuk diselamatkan adalah keluarga. Ia yang tidak menemukan tempat berteduh di keluarga, kecil kemungkinan bisa menemukan tempat berteduh di tempat lain.

Terinspirasi dari sini, dengan segala tantangan yang ada, mari bersama-sama menyelamatkan taman jiwa bernama keluarga. Sejumlah sahabat yang tidak berhasil menjaga keutuhan keluarga bercerita, sebab penting di balik keluarga yang bubar adalah nafsu berlebihan untuk membuat orang lain agar sepenuhnya sama.

Andaikan mereka memberi sebagian ruang di pikiran agar orang lain boleh bertumbuh sesuai dengan panggilan alami mereka, banyak sekali keluarga yang bisa diselamatkan. Anak-anak bermasalah dan anak berkebutuhan khusus adalah tantangan berikutnya untuk menyelamatkan keluarga.

Di Barat yang peradabannya lebih maju, banyak orang tua yang meletakkan anak berkebutuhan khusus sebagai piala kebanggaan. Bangga karena dititipi Tuhan untuk merawat jiwa yang membutuhkan kasih sayang kita. Ia sebuah tanda spiritual kalau jiwa orang tua yang dititipi anak berkebutuhan khusus akan bertumbuh menjadi jiwa yang mulya. Namun di negara berkembang, anak berkebutuhan khusus sering dianggap sebagai petaka karena menjadi sumber cacian orang-orang.

Setelah berjumpa ribuan anak-anak berkebutuhan khusus beserta orang tua mereka di sekitar Bali, di sana terbuka rahasia. Tidak semua anak-anak berkebutuhan khusus lahir karena memiliki ketidaksempurnaan karma. Sebagian dari mereka adalah roh-roh suci yang membawa cahaya kepada orang tua khususnya. Kehadiran mereka tidak membawa petaka, tapi membawa cahaya.

Mendengar cerita seperti ini, ada anak muda yang bertanya: ‘memangnya ada anak berkebutuhan khusus yang tumbuh menjadi orang suci?”. Di Barat ada cerita tentang Hellen Keller yang tidak bisa melihat. Dan sudah dicatat sejarah, Hellen Keller kendati tidak bisa melihat tapi ia sudah berhasil menerangi jiwa orang dalam jumlah yang tidak terhitung. Salah satu peninggalan indah Hellen Keller berbunyi seperti ini: “saya sedih menemukan banyak manusia yang punya mata tapi tidak bisa melihat”.

Bunda Teresa adalah salah satu cahaya indah di zaman kita. Dan kekuatan penting yang membuat Bunda Teresa demikian bercahaya adalah warga kota Kalkuta yang berkebutuhan khusus. Ia mirip dengan Mahatma Gandhi yang dibuat bercahaya oleh penderitaan rakyat India ketika itu. Ringkasnya, rasa sakit yang dihadirkan oleh anak berkebutuhan khusus bisa diolah dari petaka menjadi piala yang mendatangkan cahaya.

Dalam kadar yang berbeda, kita semua mengalami luka jiwa di masa kecil. Bahkan orang suci yang paling suci pun pernah dilukai. Dan agar taman jiwa bernama keluarga bisa selamat, sangat penting untuk mengolah luka jiwa menjadi cahaya. Caranya, lihat orang yang melukai sebagai tangan-tangan pembimbing yang menyamar. Fokuskan energi untuk melihat bimbingan-bimbingan di balik trauma, bukan menghabiskan waktu memikirkan hukuman. Untuk direnungkan dalam-dalam oleh jiwa-jiwa yang luka, tanpa taman maka tukang taman tidak bisa menghasilkan bunga indah, tanpa orang yang melukai maka manusia tidak akan bisa merasakan indahnya bunga memaafkan.

Ringkasnya, di tengah lingkungan yang memanas di sana-sini, mari merawat taman jiwa bernama keluarga. Seberapa pintar pun Anda, sisakan sebagian ruang di pikiran sebagai ruang toleransi. Kalau punya anak bermasalah, belajar mengolah petaka menjadi piala. Ingat selalu, kalau anak berkebutuhan khusus adalah pembawa cahaya untuk orang tua. Dan kalau memiliki luka jiwa, transformasikan luka jiwa menjadi sumber cahaya.

Penulis: Gede Prama.
Photo Courtesy: Twitter @brightnewvensa.


TAGS spiritual


-

Author

Search

Recent Post