Matahari Terbitnya Jiwa

20 Jan 2017

Sudah menjadi kisah tua yang berlangsung sangat lama kalau sebagian manusia menemukan kepuasan kejiwaan dengan bercerita keburukan-keburukan orang lain. Orang yang tidak disentuh pendidikan cukup khususnya, mereka seperti menemukan hiburan di sana. Sedikit yang menyadari kalau di balik kebiasaan tua ini tersembunyi racun kejiwaan yang sangat berbahaya. Lebih sedikit lagi yang tahu kalau cara bertumbuh seperti ini bisa membuat jiwa bertumbuh dari gelap ke gelap.

Di dunia psikologi, salah satu alat terapi kesembuhan yang tersedia bernama percakapan. Yang sering digunakan dalam hal ini bernama analisis transaksional. Setelah melakukan percakapan panjang dan lama dengan sejumlah sahabat yang terkena penyakit berbahaya seperti kanker, terasa sekali aura kuat pikiran yang sangat negatif. Bahkan setelah diajak berdialog selama bertahun-tahun, mendengarkan ajaran suci juga bertahun-tahun. Tetap saja tidak banyak menolong. Segelintir orang bahkan harus wafat karena gagal diselamatkan.

Ia menyisakan pelajaran penting, kebiasaan tua berfikir negatif mengakar sangat dalam di jiwa banyak sekali orang. Seperti baju kotor yang kecemplung di oli, diperlukan ketekunan dan kerja keras yang luar biasa agar jiwa bisa bersih kembali seperti sedia kala. Seorang sahabat yang membersihkan jiwanya menggunakan ajaran tingkat tinggi Tantra selama puluhan tahun bercerita, proses pembersihan terjadi secara sangat pelan dan perlahan. Itu pun sekali-sekali ia masih marah di alam mimpi.

Dalam bahasa psikologi, ternyata manusia membuang banyak sekali sampah ke alam bawah sadar. Kekerasan yang dilakukan masyarakat sejak masa kecil menumpuk menjadi banyak sampah di alam bawah sadar. Bahkan bagi praktisi tingkat tinggi pun, sampah alam bawah sadar itu muncul ke permukaan dalam bentuk mimpi marah. Tidak kebayang bagaimana sampah alam bawah sadar manusia yang tidak disentuh pendidikan, sekaligus tidak disentuh ajaran spiritual.

Seorang anak muda yang sudah bertahun-tahun dirawat psikiater bercerita di sesi meditasi, sering terjadi ia mau melempar orang yang tidak dikenal menggunakan gelas. Dan alasannya tidak ia mengerti sama sekali. Kendati segelap dan seberat itu keadaannya, belum terlambat untuk segera menyelamatkan jiwa agar tidak masuk jurang berbahaya.

Menjauh secara sopan dari lingkungan yang penuh kekerasan adalah langkah pertama. Termasuk dalam hal ini televisi, tontonan, pergaulan, lingkungan yang mengarah pada kekerasan. Terus menerus melatih diri agar senantiasa positif memandang kehidupan adalah langkah ke dua. Tekad yang tidak pernah menyerah adalah kawan terbaik dalam hal ini. Mengolah sampah masalah menjadi bunga indah kedamaian adalah ketrampilan yang sangat dibutuhkan di zaman ini.

Langkah-langkah ini jauh lebih mudah dilakukan oleh ia yang selalu melihat sisi-sisi indah dari hidupnya sendiri. Martha Roberts pernah menulis di jurnal Psychologies Magazine (october 2016), bukan hal-hal besar yang membuat hidup terasa indah. Sering kali hal-hal kecillah yang membuat hidup terasa indah. Dari merasakan hangatnya teh di cangkir, berdekapan indah dengan seprei yang baru diganti, mengingat masa kecil yang indah.

Di sesi-sesi meditasi sering dibagikan, penderitaan bukan hukuman Tuhan. Ia adalah cara jiwa untuk memanggil Anda agar segera pulang ke rumah cinta, kebaikan, kasih sayang. Pendekatan ini banyak sekali membantu para sahabat untuk mengolah sampah masalah menjadi bunga indah kesembuhan. Seorang bapak tua dari Bali Tengah datang ke kelas meditasi membawa kursi roda. Di hari ketiga ia sudah belajar melepaskan kursi roda. Sepulang dari sesi meditasi ia betul-betul bisa berjalan normal. Ketika ditanya, dengan tertawa beliau menjawab: “tidak ada musibah, semuanya berkah”.

Pengalaman ini mengingatkan pada sebuah pesan tua di dunia spiritual mendalam: “tatkala Anda tekun dan tulus untuk selalu melihat sisi-sisi indah orang lain, suatu hari Anda akan berjumpa bagian terindah dari diri Anda”. Inilah yang disebut sebagai matahari terbitnya jiwa. Ia dimulai dengan melihat sisi-sisi indah dari hidup sendiri. Kemudian diperluas menjadi melihat sisi-sisi indah orang lain. Puncaknya, seseorang berjumpa bagian terindah dari jiwanya sendiri.

Di atap bumi Tibet pernah terlahir Guru suci yang hatinya sangat indah. Beliau bernama Gyalse Ngulchu Thogme (1295-1369). Menjelang wafat, beliau meminta semua muridnya mendoakan agar beliau terlahir di neraka. Terutama karena di sanalah belas kasih (compassion) sangat dibutuhkan. Namun menjelang wafat beliau berbisik: “saya tidak bisa melihat alam neraka, saya hanya bisa melihat alam Buddha”. Pelajarannya, tidak mungkin kupu-kupu indah hinggap lama di sampah. Tidak mungkin jiwa yang indah terlahir di alam bawah. Sebagaimana sifat alami bunga yang indah, sifat alami jiwa indah akan terlahir di alam yang indah.

Penulis: Gede Prama.

Photo Courtesy: borobudursunrisedriver.blogspot.com.


TAGS spiritual


-

Author

Search

Recent Post