Kecantikan Dari Dalam

27 Jan 2017

Sejalan dengan semakin bertumbuhnya pendapatan manusia di mana-mana, kebutuhan manusia agar diakui oleh orang lain juga bertumbuh. Sesuatu yang sangat manusiawi tentu saja. Dan pesatnya pertumbuhan industri kosmetika serta garmen bercerita, betapa besar dana dan daya yang dialokasikan manusia agar bisa disebut cantik dan menarik.

Psikolog ternama Abraham Maslow sudah lama menulis kalau di tingkat pertumbuhan tertentu manusia akan memiliki kebutuhan untuk diakui. Ia bagian dari perjalanan panjang untuk menyembuhkan jiwa. Mirip dengan makanan tubuh yang menyehatkan kalau dinikmati secukupnya saja, makanan kejiwaan berupa pengakuan orang lain juga serupa.

Ada saatnya seseorang mesti berani mengatakan cukup. Tanpa keberanian jenis ini, jiwa mana pun akan mudah roboh. Pertama, pengakuan orang cenderung berubah-ubah. Orang yang memuji di hari ini bisa mencaci di hari lain. Kedua, menggunakan pengakuan orang sebagai ukuran terpenting membuat seseorang bertumbuh menjadi orang lain. Persoalan waktu, ia akan terasing dalam tubuh sendiri.

Dari sinilah tumbuh kesadaran untuk membangkitkan kecantikan (kegantengan) dari dalam diri. Pendapat orang lain didengarkan secukupnya saja. Namun yang paling utama adalah menyirami benih-benih kecantikan yang sudah ada di dalam diri. Serangkaian cara yang jauh lebih sehat untuk pertumbuhan jiwa dalam jangka panjang.

Disadari atau tidak, setiap manusia memiliki bakat-bakat indah yang muncul di masa kecil. Manusia yang kurang beruntung cenderung melupakan benih-benih indah ini, manusia yang keberuntungan spiritualnya mengagumkan akan menemukan kembali benih ini, serta secara sengaja menyiraminya dalam keseharian.

Seorang sahabat bercerita tentang masa kecilnya yang unik. Tatkala ia duduk di kelas satu sekolah dasar, ia menjadi satu-satunya murid sekolah dasar di desanya yang masih disusui oleh ibu kandungnya. Anaknya yang sudah berbadan besar nyaman menyusu dalam dekapan ibunya, ibunya yang sudah tua juga nyaman mendekap anak bungsunya.

Memori masa kecil ini ikut terus di sepanjang perjalanan. Bahkan sampai berumur sangat dewasa. Suatu hari tatkala sahabat ini belajar ilmu psikologi yang mengajarkan luka-luka jiwa di masa kecil yang muncul ke permukaan dalam bentuk bayi menangis, serta mungkin disembuhkan dengan cara didekap, di sana memori tua ini muncul kembali. Kali ini muncul sebagai perpaduan antara ilmu psikologi modern dengan spiritualitas yang berumur tua. Khususnya soal kebetulan-kebetulan yang penuh makna.

Setelah benih unik ini disirami selama puluhan tahun dengan berbagai cara dari membaca, menulis sampai meditasi, sahabat tadi jiwanya tumbuh indah bercahaya. Inilah bentuk konkrit dari menumbuhkan kecantikan jiwa dari dalam. Pertama-tama menemukan benih unik di dalam, kemudian dengan tekun menyiraminya terus menerus. Tidak mudah tentu saja. Tapi setidak-tidaknya belajar untuk segera memulainya.

Sejumlah psikolog menyarankan pentingnya mengingat kembali hari-hari pertama sebagai anak kecil. Di sana sering tersembunyi rahasia-rahasia penting. Ini kemudian dipadukan dengan hal-hal yang menarik minat di sepanjang perjalanan. Khususnya segala sesuatu yang membuat jiwa di dalam terasa aman, nyaman, tentram.

Perjalanan menemukan benih alami di dalam diri mirip dengan bibit kelapa yang menemukan pantai, benih pohon pinus yang menemukan bukit, atau anak pohon lotus yang menemukan kolam berlumpur. Dengan sedikit upaya dan tenaga, sayap-sayap jiwa tiba-tiba tumbuh pelan perlahan. Ia menimbulkan rasa aman dan nyaman di dalam. Pada saat yang sama hidup yang bersangkutan menjadi inspirasi bagi pertumbuhan jiwa banyak sekali orang. Inilah kecantikan yang tumbuh indah dari dalam.

Penulis: Gede Prama.
Photo Courtesy: Twitter@lovi7.


TAGS spiritual


-

Author

Search

Recent Post