Kalah Juga Indah

16 Feb 2017

Sejarah kepahlawanan adalah sejarah kemenangan. Belum terdengar ada tokoh yang dicatat sejarah sebagai pahlawan yang sangat dikenang karena mereka kalah di medan perang. Semua tokoh pahlawan yang sangat dikenang adalah tokoh-tokoh yang dianggap menang oleh zamannnya.

Ini membawa dampak sangat panjang pada perkembangan generasi manusia selama ribuan tahun. Mitos tua tentang pahlawan harus selalu menang membawa dampak ke mana-mana. Angka bunuh diri yang meningkat terus, angka perceraian yang tidak bisa diturunkan, kisah kekerasan membawa nama agama yang semakin menyentuh di mana-mana, memang disebabkan oleh banyak sekali hal. Namun sulit mengingkari, kalau semua ini memiliki keterkaitan dengan mitos tua kalau pahlawan harus selalu menang.


Padahal sejarah sudah mencatat secara terang benderang, tidak ada manusia yang selalu menang. Seperti putaran sampah dan bunga indah, semuanya berputar. Orang yang disebut benar di suatu hari, bisa disebut salah di lain hari. Tokoh yang ditinggikan di suatu waktu, bisa direndahkan di lain waktu. Suka tidak suka demikianlah hukum yang berlaku di alam ini.

Melihat banyaknya tokoh yang sangat bernafsu untuk menang, bahkan dengan cara melukai jiwa banyak orang, tampaknya akan butuh waktu sangat lama untuk menulis ulang mitos kepahlawanan. Dari seseorang yang diimajinasikan selalu menang, menjadi seseorang yang bisa menemukan keindahan kasih sayang di balik kekalahan.

Namun selama apa pun perjalanan ke sana, mesti ada yang memulainya dari sekarang. Terutama karena di sana-sini permukaan bumi sudah sangat terbakar. Kalau agama saja bisa membuat manusia terbakar, tidak kebayang betapa terbakarnya jiwa manusia yang dipenuhi oleh ambisi besar tentang uang dan kekuasaan.

Setiap sahabat yang jernih bersih memandang kehidupan mengerti, tidak ada manusia yang senantiasa dipuja. Bahkan orang suci yang paling suci pun ada yang mencerca. Pekerjaan rumahnya kemudian, mari melatih diri dan masyarakat untuk melihat cahaya keindahan di balik kekalahan.

Sebagaimana terlihat di keluarga, di tempat kerja, di sekolah, kapan saja krisis terjadi, nasib sebuah unit sosial biasanya ditentukan oleh pihak yang mau mengalah. Banyak sahabat yang keluarganya terbakar dan bubar bercerita, di balik keluarga yang gagal diselamatkan selalu tidak ditemukan permata jiwa yang mau mengalah. Padahal, banyak sekali luka jiwa yang muncul kemudian setelah keluarga bubar dan terbakar.

Andaikan ada permata jiwa yang mau mengalah, banyak sekali keluarga yang bisa diselamatkan, ada banyak sekali luka jiwa yang bisa dihindarkan. Seorang sahabat psikolog dari Yogyakarta bercerita, bahkan ayahandanya sudah wafat sekian puluh tahun pun luka jiwa yang diakibatkan keluarga terbakar masih tersisa.

Hal yang sama terjadi dengan nasib bangsa-bangsa. Nasib sebuah demokrasi di zaman yang serba terbakar sangat ditentukan oleh pihak yang kalah. Pada putaran waktu ketika nyaris semua tokoh terbakar oleh nafsu berlebihan agar senantiasa menang, di titik waktu seperti inilah diharapkan lahir pemimpin yang menulis ulang mitos tentang kepahlawanan. Dari pahlawan yang serba menang, menjadi pahlawan yang menemukan keindahan di balik kekalahan. Dan di kedalaman yang dalam, inilah pahlawan yang sesungguhnya.

Penulis buku “Sejarah Tuhan” Karen Armstrong berulang-ulang menulis, di zaman ini dunia sangat mengagumi tokoh-tokoh seperti Nelson Mandela, Bunda Teresa, Mahatma Gandhi dan YM Dalai Lama. Mereka memang tumbuh di agama yang berbeda, tapi ada yang serupa diantara mereka yakni menemukan keindahan di balik kekalahan.

Penulis: Guru Gede Prama.
Photo Courtesy: Twitter @GaillardoJose.


TAGS spiritual


-

Author

Search

Recent Post