Memperkuat Sayap Jiwa

17 Mar 2017

Perjalanan spiritual mendalam bukanlah perjalanan yang mudah. Seumpama jalan ini mudah, maka banyak orang yang ikut bergabung. Namun, sejak dulu penekun spiritualitas mendalam selalu sedikit. Para pemula di jalan ini suka diundang untuk bergabung dengan gula-gula berupa kehidupan yang mudah dan indah. Setiap jiwa yang sudah dalam mengerti, jika perjalanan spiritual hanya berisi hal-hal indah dan mudah, itu tanda seseorang hanya bertumbuh di kulit permukaan saja. 

Kapan saja perjalanan spiritual mulai tumbuh dalam, maka tanpa berdoa tanpa meminta maka cobaan, godaan, guncangan, serangan akan terus menerus datang tanpa mengenal henti. Semakin dalam seseorang bertumbuh, maka serangan akan datang dari orang yang semakin dekat, dengan guncangan yang semakin hebat. Di zaman kita, Mahatma Gandhi, Martin Luther King Jr., John Lennon bahkan wafat ditembak orang.

Catatannya kemudian, cobaan, guncangan, serangan bukan pertanda kalau seseorang banyak kesalahan. Sebaliknya, seseorang sedang diundang untuk memasuki wilayah-wilayah yang dalam. Ini mungkin terjadi kalau seseorang tidak lari. Pada saat yang sama mengizinkan guncangan dan serangan untuk memperkuat sayap-sayap jiwa. Ada banyak bahan renungan yang tersedia agar sayap-sayap jiwa jadi kuat di tengah guncangan dan serangan. Salah satunya adalah renungan soal bambu berikut ini.

Coba cermati bambu lebih dalam lagi. Ia kuat dan kokoh tanpa pernah bisa dicabut angin. Dan alasan utama kenapa bambu kuat karena berakar kuat ke dalam. Ini berbeda dengan sebagian manusia yang hidupnya lemah dan keropos, terutama karena berakar ke luar (pujian, pangkat, kekayaan, keterkenalan). Ini memberi inspirasi, belajarlah bertumbuh dengan berakar ke dalam. Ke dalam persahabatan dan rasa syukur atas berkah kehidupan. Rasa berkecukupan adalah sahabat dekat dalam hal ini. Bersyukur dan bertrimakasih adalah doa yang indah.

Kedua, bambu senantiasa segar di segala musim. Ini berbeda dengan kebanyakan manusia yang hanya segar bila punya uang dan bermandikan pujian. Dan karena tidak ada kehidupan yang selalu kaya dan bahagia, maka layak direnungkan untuk belajar indah di setiap langkah. Kaya indah karena banyak yang bisa dibantu dengan kekayaan. Miskin juga indah, karena melalui kemiskinan manusia tidak perlu takut kehilangan. Naik pangkat indah karena penuh pujian. Pensiun juga indah. Berlimpah waktu yang tersedia untuk membuat jiwa jadi bercahaya.

Senyuman bambu yang ketiga, setelah tinggi bambu merunduk rendah hati. Siapa saja yang setelah tinggi kemudian tinggi hati, ia sedang menabung untuk keruntuhannya di kemudian hari. Dan puncak cerita bambu, ketika bambu dibelah di dalamnya kosong. Bila boleh jujur, kenapa banyak kehidupan mudah stres, marah, tersinggung, karena di dalamnya penuh berisi. Dari harga diri, kekayaan, sampai status sosial. Sehingga begitu ada orang yang berperilaku berbeda dari yang diharapkan, godaan untuk marah mudah muncul. Dan bambu mengajarkan, semua yang hebat-hebat yang membuat manusia mudah marah, suatu hari akan berakhir dengan kekosongan. 

Bukan sembarang kekosongan, tapi kekosongan yang memberi ruang pada apa saja dan siapa untuk bertumbuh. Dalam bahasa sederhana namun dalam, sebagaimana sifat alami air yang basah, sifat alami bunga yang indah, sifat alami kekosongan membuat jiwa jadi bertumbuh indah. Dan kekuatan di alam yang membuat seseorang bisa mengerti kekosongan sebagai pencapaian, bukan sebagai pengertian, adalah cobaan, godaan, guncangan, serangan. Bagi jiwa yang sudah sampai di tingkat pencapaian seperti ini mengerti, apa yang disebut oleh orang kebanyakan sebagai serangan setan, ternyata adalah senyuman Tuhan.

Penulis: Guru Gede Prama.
Photo Courtesy: DarniForgot


TAGS spiritual


Comment
-

Author

Search

Recent Post