Senyuman Jiwa Terindah

6 Apr 2017

Di mana-mana terlihat jiwa yang kehilangan arah. Angka bunuh diri, penghuni rumah sakit jiwa, perceraian, angka kekerasan semuanya meningkat. Tapi itu bukan tanda-tanda musibah, melainkan undangan alam agar manusia mengembangkan hati yang indah. Dan diantara banyak cara yang tersedia, tersenyum adalah salah satu pilihan.

Jika bibir tersenyum ditandai oleh bibir yang melengkung, jiwa yang tersenyum memiliki tanda yang lain lagi. Tanda pertama jiwa yang tersenyum, ia mudah memaafkan sekaligus jauh dari penghakiman. Sebagaimana sering diperbincangkan diantara jiwa-jiwa yang indah, memaafkan memang tidak merubah masa lalu. Tapi memaafkan pasti merubah masa kini dan masa depan.

Seperti sepasang sayap burung, memaafkan berpasangan dengan pikiran yang jauh dari penghakiman. Semakin sedikit pikiran menghakimi, semakin mudah seseorang memaafkan. Itu sebabnya berulang-ulang dibagikan pada para sahabat, bagi tukang taman rumput liar itu menjengkelkan. Tapi bagi kelinci, rumput liar itu makanan enak. Dengan kata lain, belajar lebih toleran dalam memandang perbedaan.

Bagi jiwa-jiwa yang dalam, perbedaan adalah warna-warni yang bisa diolah menjadi pelangi indah. Itu sebabnya Tuhan menciptakan banyak perbedaan agar manusia belajar merangkai perbedaan menjadi keindahan. Sejenis ketrampilan spiritual yang hanya bisa dilakukan oleh jiwa-jiwa yang dalam.

Ciri kedua jiwa yang tersenyum, ia memiliki banyak sekali hal dalam hidup yang layak disyukuri. Dari badan yang sehat, keluarga yang selamat, sampai dengan tetangga yang tidak suka mengganggu. Bagi jiwa jenis ini, bahkan kesialan dan kemalangan pun layak disyukuri. Di satu sisi ia membuat seseorang bisa membayar hutang karma, di lain sisi mengambil sebagian penderitaan di alam ini.

Sebagai bahan renungan, indahnya orang tua bubar, ia menghadirkan rasa sakit yang bisa membuat seseorang bertekad kuat agar memiliki keluarga yang indah kemudian. Bagusnya pernah mengalami pelecehan seksual di masa kecil, ia menjadi bekal sangat kuat untuk menjaga energi seks sehingga tidak membahayakan.

Lebih-lebih kalau energi rasa syukur dipancarkan di alam terbuka yang indah. Dampak yang ditimbulkan pada kesembuhan dan kedamaian akan lebih besar. Sebuah situs mengutip hasil penelitian, tatkala seseorang bersyukur di alam terbuka, hormon stres di otak menurun hingga 800%, bagian DNA yang berfungsi untuk kesembuhan membaik secara sangat meyakinkan.

Tanda ketiga sekaligus tanda terindah dari jiwa yang tersenyum, ia mengalami keheningan sempurna. Dalam bahasa sederhana, tatkala semua buruk-baik, salah-benar, kotor-suci terlihat berguna dan bermakna, maka lidah jadi istirahat sempurna. Tidak ada lagi yang layak dibicarakan, apa lagi diperdebatkan.

Dari jiwa yang hening bening seperti inilah kemudian alam mendapatkan penyeimbang. Ia mirip dengan kegelapan yang mendapatkan lilin, cuaca panas yang dikunjungi hujan deras, atau taman kering yang disirami air. Simbol yang paling dekat dalam hal ini adalah pepohonan.

Dalam heningnya, pepohonan mengolah racun karbon menjadi oksigen yang sangat dibutuhkan. Hal yang sama juga terjadi dengan jiwa yang hening bening. Dalam keheningan sempurna ia sedang mengolah racun penderitaan menjadi oksigen kedamaian. Itu sebabnya, berada di dekat jiwa-jiwa yang hening bening seperti berada di dekat pohon tua yang rindang. Suasananya sejuk, lembut, halus.

Penulis: Guruji Gede Prama

Photo Courtsey : hdwallpapersrocks


TAGS Artikel


-

Author

Search

Recent Post