Jiwa Yang Agung

11 May 2017

 

 

 

 

 

Sekitar 2.500 tahun yang lalu, seorang putra raja berhati sangat indah lahir di India Utara. Begitu beliau lahir ibunya wafat. Ia seperti memberi tanda, rahim manusia mana pun akan terlalu kecil untuk bisa menampung keagungan jiwa yang satu ini. Sesampai di istana, begitu melihat tanda-tanda di tubuh bayi ini, penasehat spiritual istana yang sudah tua menangis.

Terutama karena Cahaya indah ini akan menerangi dunia. Namun di saat Cahaya itu memancar, penasehat spiritual istana yang tua akan keburu wafat. Dan benar saja, putra raja yang belakangan diberi nama Pangeran Siddharta, tidak saja menjadi Buddha (jiwa Agung yang mengalami pencerahan sempurna), tapi juga diakui oleh buku suci agama Hindu sebagai Avatara Wishnu yang ke 9.

Sementara kelahiran tubuh fisik beliau ditandai oleh wafatnya sang ibu, namun kelahiran jiwanya yang Agung membawa tanda dan pelajaran lain. Beberapa saat menjelang pencerahan sempurna yang ditandai oleh menghormatnya bumi dengan gempa kecil, serta merunduknya Cahaya di ufuk Timur, pertapa Siddharta diserang oleh 21.000 setan penggoda. Dari yang sangat ganas sampai yang sangat halus. Dari yang sangat mengancam sampai yang sangat penyayang.

Namun setan-setan itu tidak dilawan dengan kekerasan. Melainkan didekap seperti seorang Ibu mendekap anak-anaknya sendiri. Dalam bahasa meditasi, Pangeran Siddharta memeditasikan cinta kasih yang sangat mendalam. Konkritnya, setan-setan itu dilihat sebagai kumpulan Ibu kandung yang pernah melahirkan beliau di kehidupan sebelumnya. Dan sekarang datang tidak untuk menyerang, tapi untuk menyempurnakan kasih sayang.

Kalau pun setan-setan itu memakan tubuh Pangeran Siddharta, itu pun diberikan dengan penuh keikhlasan. Persis seperti memberi makanan sehat pada ibu kandung yang sedang lapar. Ujung ceritanya sudah dicatat oleh dunia. Beliau tidak saja selamat, tetapi juga menjadi Jiwa Yang Agung. Bahkan setelah berlalu 2.500 tahun pun, Cahaya beliau masih memancar terang benderang.

Seorang Guru besar dari Universitas Oxford menyimpulkan detik-detik pencerahan ini dengan bahasa yang anggun: “In the moment when Prince Siddharta accept satan Mara as part of Himself, from that time he was no longer Prince Siddharta, but he was a Buddha”. Begitu Pangeran Siddharta menerima setan Mara sebagai bagian dari diri beliau. Saat itulah beliau berhenti menjadi Pangeran Siddharta. Beliau terlahir menjadi Buddha.

Yang membuat banyak dewa tergetar, tatkala Jiwa Yang Agung ini pertama kali berbagi Cahaya, ajaran pertamanya adalah dukkha. Kesedihan, kemalangan, kesialan yang dibuang oleh nyaris semua mahluk di alam samsara ini, oleh GA Buddha diolah menjadi jalan menuju Cahaya. Dukkha, demikian beliau mengajarkan, tidak selalu membuat jiwa masuk jurang. Asal bisa mengolahnya di kedalaman meditasi, dukkha bisa membuat jiwa terbang.

Menyadari kalau semuanya sedang mengalir tidak kekal, itu langkah pertama. Bunga mengalir menjadi sampah, sampah sedang berevolusi menjadi bunga. Lawan di hari ini bisa menjadi kawan di hari lain. Begitu seseorang mengalir sempurna, di sana ia keluar dari kepompong kecil bernama keakuan. Kemudian terlahir menjadi kupu-kupu keagungan.

Bersama sayap-sayap indah keagungan, maka semua tempat dan semua waktu menjadi taman kedamaian. Di taman jenis ini, secara alami jiwa akan penuh kasih sayang. Ia sealami air yang basah, sealami bunga yang indah. Dan ekspresi kasih sayang mahluk tercerahkan bisa dalam bentuk apa saja.

Sebuah pertanyaan yang sering diajukan banyak orang, apakah Jiwa Yang Agung akan terlahir kembali? Bagi orang Hinayana (kendaraan kecil), tidak jawabannya. Tapi bagi murid di jalan Mahayana, tubuh absolut Jiwa Yang Agung itu melampaui kelahiran dan kematian. Tapi tubuh relatifnya akan tetap ada di sini. Makanya, YM Dalai Lama saat ditanya apakah beliau akan terlahir, beliau menjawab: “tentu saja”. Ini jawaban tentang tubuh relatif.

Acharya Shantideva bahkan berdoa seperti ini: “semasih ada ruang, semasih ada mahluk, izinkan saya terus menerus terlahir agar ada yang menerangi kegelapan dengan Cahaya yang indah”. Di Hindu, jiwa-jiwa suci seperti ini disebut Vyuthana. Di Buddha, jiwa-jiwa indah seperti ini diberi nama Bodhisattwa.

 

Penulis: Guruji Gede Prama


TAGS Artikel


-

Author

Search

Recent Post