Lentera Jiwa

18 May 2017

Di tengah terowongan gelap, yang paling dibutuhkan manusia adalah cahaya. Di tengah zaman yang sangat gelap, yang paling dibutuhkan manusia adalah lentera jiwa. Tanpa lentera jenis ini, ke mana pun kaki melangkah, jiwa akan tetap resah dan gelisah. Punya uang resah, tidak punya uang gelisah.

Catatannya kemudian, menghidupkan cahaya listrik mudah, tapi menghidupkan lentera jiwa, tidak sembarang orang yang bisa melakukannya. Berita gembiranya, di beberapa bagian, ilmu psikologi memberi tanda-tanda berguna yang layak direnungkan. Perjalanan jiwa akan lebih dalam lagi kalau psikologi dipadukan dengan warisan tua spiritualitas.

Sebagai langkah awal, hari-hari pertama sebagai anak kecil di sekolah sering memberi tanda-tanda lentera jiwa. Mudah dimengerti, terutama karena di masa kanak-kanak, pikiran masih bersih dan jernih, perasaan masih polos. Sehingga jejak-jejak makna yang dibawa jiwa dari perjalanan sebelumnya masih belum ditutupi oleh lumpur-lumpur kotor.

Dan pengalaman jenis ini unik-unik. Ia tidak bisa dibandingkan dari satu orang ke orang lain. Cara pemaknaannya pun unik. Tidak bisa menggunakan cara pemaknaan orang kebanyakan. Seorang sahabat bercerita, kalau ia sering teringat wajah seorang gadis kecil di hari pertama di sekolah. Bayangan tentang gadis ini sederhana, ia sosok gadis yang lembut dan pemaaf.

Puluhan tahun kemudian, sahabat ini baru mengerti, ternyata obat kejiwaan yang menenangkan dan menentramkan adalah kelembutan yang dipadukan dengan ketulusan untuk memaafkan. Setelah mengerti makna ini, gadis kecil di hari pertama di sekolah dulu, muncul lagi seperti malaikat yang memberi tanda tentang arah perjalanan jiwa.

Disamping pengalaman unik di hari pertama di sekolah, mimpi-mimpi masa kecil juga sejenis lentera jiwa. Seorang kawan di dunia spiritual berbagi rahasia, kalau tatkala kecil ia sering mimpi terbang dan berjalan telanjang. Setelah membaca ke sana ke mari, belajar spiritual di sana-sini, di sana ada lentera jiwa yang terbuka.

Mimpi terbang memberitahu kalau yang bersangkutan adalah mahluk langit yang datang ke bumi untuk berbagi cahaya. Dan cahaya yang dibagikan saat di bumi adalah pikiran yang telanjang dari penghakiman, pembandingan, persaingan, permusuhan. Dengan pikiran jenis ini, jangankan saat berbicara, saat diam saja seseorang sudah berbagi cahaya.

Orang-orang yang suka melukai sejak masa kecil juga sejenis lentera jiwa. Tidak saja mata mereka memberi tanda tentang orang-orang yang layak diwaspadai, tapi kedamaian di dalam saat dicaci dan dilukai adalah lentera jiwa yang lebih penting lagi.

Jika seseorang bisa diam saja, tidak mengumbar kata-kata tidak sedap saat diserang, itu sebuah benih cahaya yang indah. Bila yang bersangkutan bisa melihat jejaring penderitaan di balik orang yang menyerang, itu lebih dalam lagi. Ia bisa sekolah yang bermasalah, orang tua berantakan, keinginan yang tidak kesampaian.

Yang paling indah adalah memancarkan kasih sayang kepada mereka yang suka menyerang. Sebagaimana sering terdengar di komunitas jiwa-jiwa yang dalam, di balik serangan orang bukan kejahatan. Melainkan penderitaan yang tidak tertahankan. Inilah lentera jiwa terindah yang pernah ada.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo Courtesy: Shutterstock.

 


TAGS spiritual


-

Author

Search

Recent Post