Jejak-jejak Makna (18)

11 Jun 2017

Gelap dan pengap, itulah aura bumi akhir-akhir ini. Amerika Serikat bersama drama Donald Trump-nya hanya puncak gunung es. Di bawah permukaan, banyak hal yang menakutkan. Tapi sebagaimana kegelapan yang membuat Cahaya memancar lebih terang, aura bumi seperti ini mengudang jiwa-jiwa bercahaya untuk lebih banyak lagi berbagi balancing energy (energi penyeimbang). Taman yang kering membutuhkan air. Pohon yang kurus membutuhkan pupuk. Demikian juga dengan dunia yang sedang gelap dan penuh masalah, ia membutuhkan Cahaya indah. Dalam kaitan inilah buku “The Road Less Travelled: The new psychology of love, traditional values and spiritual growth” bisa dijadikan salah satu acuan. Buku yang ditulis oleh M. Scott Peck, seorang penyembuh kejiwaan berpengalaman lulusan Harvard ini sudah menerangi banyak jiwa.

Setelah menghabiskan banyak waktu sebagai penyembuh berpengalaman, Scott Speck sampai pada kesimpulan sederhana, nyaris semua jiwa-jiwa resah gelisah berbicara seperti ini: “Harusnya dulu saya seperti ini. Mestinya dulu saya seperti itu”. Implisit dalam temuan ini, jiwa-jiwa yang resah gelisah menolak masa lalunya. Melihat masa lalu sebagai kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Sebagai akibatnya, mereka membuat penjara dalam pikiran mereka sendiri. Kemudian menggendong penjara itu ke mana pun mereka pergi. Dan sebelum dunia yang gelap ini membuat jiwa Anda tambah gelap, mari belajar membebaskan diri dari penjara yang dibuat oleh pikiran Anda sendiri. Di dunia geografi, bentuk wilayah menentukan bentuk peta. Namun di dunia kesembuhan jiwa, peta menentukan bentuk wilayah. Ringkasnya, belajar membuang cara pandang masa kanak-kanak. Yang hanya mau hal-hal yang menyenangkan saja. Anda tidak lagi bertumbuh sebagai anak-anak. Sebaliknya, sedang bertumbuh menjadi manusia dewasa. Serta siap-siap menjadi jiwa-jiwa bercahaya. Untuk itu, temui dan hadapi masalah yang datang. Perlakukan cobaan, godaan, tantangan sebagai tangan-tangan Guru yang membimbing. Ini yang dimaksud dengan membuang peta masa kanak-kanak, mulai melihat kehidupan dengan peta jiwa yang siap-siap tumbuh menjadi jiwa yang bercahaya.

Dalam bahasa Scott Peck, salah satu tanda kalau jiwa mulai dewasa, apa lagi bercahaya, seseorang mulai melihat masalah bukan sebagai racun, melainkan menjadi nutrisi pertumbuhan. Siapa saja yang tekun dan tulus di jalan ini, suatu hari bisa menemukan sesuatu yang lebih besar dari sekadar pikiran yang mengaku benar, menjumpai sesuatu yang lebih agung dari sekadar perasaan bahagia. Ia kadang disebut sebagai jiwa yang mekar (the blooming soul). Di zen disebut satori. Di Buddha diberi nama Nirvana. Orang Hindu menyebutnya Nirvikalpa Samadhi. Tetua Bali memberinya nama Meshivaraga. Intinya sederhana, seseorang mulai meninggalkan kaca mata masa kanak-kanak yang hanya mau yang senang-senang saja. Kemudian bertumbuh indah di tengah kesulitan dan cobaan. Ia mirip dengan angin menerjang yang membuat layang-layang jadi terbang. Ia serupa cahaya matahari panas yang membuat bunga jadi mekar. Setelah jiwa mekar indah, tidak tersisa apa-apa. Terkecuali, sebuah kerinduan untuk selalu berbagi Cahaya. Sesampai di sini, dunia yang gelap dan pengap tidak menjadi ancaman, tapi menjadi kesempatan indah untuk memancarkan Cahaya indah. Dan untuk tujuan itulah jiwa-jiwa bercahaya ada di sini. Selamat datang di rumah jiwa-jiwa yang indah.

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto: Koleksi pribadi


TAGS spiritual


-

Author

Search

Recent Post