Ceramah Paling Indah

19 Aug 2017

Di suatu hari tatkala jutaan manusia sudah siap ada di belakang Mahatma Gandhi untuk memulai demonstrasi besar melawan penjajah Inggris, Gandhiji malah duduk tenang bermeditasi berjam-jam. Setelah selesai bermeditasi, muridnya bertanya: “Kenapa mesti meditasi demikian lama?”. Dengan tersenyum pria berbaju sederhana ini menjawab: “Tidak boleh ada setetes kemarahan dalam melaksanakan kebaikan”. Dan hasilnya sudah dicatat sejarah, tentara terkuat di dunia saat itu harus ditarik mundur dari India.

Setelah melewati malam-malam gelap yang sangat panjang, dan panjangnya tidak tanggung-tanggung yakni 27 tahun, Nelson Mandela akhirnya boleh meninggalkan penjara yang berkali-kali membuat nyawanya nyaris terancam. Saat siap meninggalkan penjara, di gerbang penjara pria yang murah senyuman ini bergumam: “Kalau saya tidak memaafkan, maka saya akan menggendong penjara jinjing ke mana pun saya pergi”.

Lari dari ketidaknyamanan, itulah yang dilakukan oleh sebagian lebih manusia. Namun seorang wanita pembawa Cahaya mengambil langkah sebaliknya. Sejak umurnya masih muda sampai tubuhnya keriput dimakan usia, Bunda Teresa tumbuh di tengah ketidaknyamanan kota Kalkuta. Dan bukan sekali dua kali beliau diserang orang. Sebagian orang bahkan menyebut beliau diktator. Di tengah hiruk pikuk seperti ini, beliau pernah berpesan: “Pada akhirnya bukan antara Anda dengan orang-orang, tapi antara Anda dengan Tuhan”.

Salah satu anggota keluarga spiritual Compassion menghidupi dirinya dengan menjadi supir taksi di Jakarta. Suatu hari ia mengangkut seorang ibu sangat tua yang membawa sejumlah tas besar. Setelah didengar ceritanya, ternyata ia diusir oleh putra satu-satunya dari rumah. Terutama karena rumahnya hanya berisi 1 kamar, sementara putranya baru menikah. Mendengar cerita ini, barang ibu ini diangkat sampai ke ujung gang sangat kecil yang sangat jauh. Tidak saja tidak dikasi bayar. Ibu ini malah diberi uang saku.

Sejumlah buku suci memang menyebut zaman ini sebagai zaman gelap. Tidak sedikit tokoh yang sangat pesimis dengan gelapnya aura dunia di zaman ini. Sejumlah sahabat di Barat sangat takut dengan kecenderungan bumi yang penghuninya tambah membludak. Namun dengan segala kegelapan yang ada di dunia, di sana-sini masih hadir Cahaya.

Dan diantara semua Cahaya yang terus menerus menerangi bumi, yang paling menyentuh adalah Cahaya kebaikan. Persisnya, kebaikan yang tidak memiliki lawan. Kebaikan yang ada di sini karena menemukan kebahagiaan dengan cara melaksanakan kebaikan. Tidak lebih dan tidak kurang. Itu dan hanya itu.

Dan perjalanan menuju ke sana tentu saja tidak mudah. Di beberapa bagian bahkan penuh masalah dan musibah. Segelintir orang suci bahkan membayar ongkosnya dengan kehilangan nyawa. Tapi dari zaman ke zaman, dari waktu ke waktu, tetap saja hadir jiwa-jiwa indah yang berbagi Cahaya.

Di zaman kita, salah satu jiwa indah yang lahir bernama Eckhart Tolle. Dalam maha karyanya yang berjudul “The Power of Now”, berkali-kali pria kelahiran Jerman ini berpesan: “Di setiap zaman ada yang mundur, ada yang maju. Tapi yang mundur dibicarakan secara jauh lebih kencang”.

Suka tidak suka, demikianlah perilaku zaman ini. Manusia marah yang membawa bom jumlahnya sangat sedikit. Pencinta kedamaian jumlahnya jauh lebih banyak. Tapi pembicaraan tentang kekerasan teroris, korupsi, perebutan uang dan kekuasaan menghuni lebih dari sebagian topik pembicaraan di ruang-ruang publik.

Itu sebabnya, pada sahabat-sahabat dekat di keluarga Compassion sering dipesankan, jika orang menyerang selalu jawab dengan sikap yang indah. Jika yang menyerang ternyata tumbang, perlakukan mereka dengan sikap yang indah. Pada waktunya masyarakat akan mengerti, inilah ceramah yang paling indah. Sekaligus inilah Cahaya yang paling menyentuh. Bahkan tatkala matahari, bulan, bintang sudah sepenuhnya gelap ditutup awan pun, Cahaya indah ini masih memancar di sini di muka bumi.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: ntd.tv.


TAGS Spiritual


-

Author

Search

Recent Post