Melihat Senyuman Tuhan

19 Aug 2017

“Sejauh de jure (yang seharusnya) tidak sama dengan de facto (yang senyatanya), sejauh itu juga jiwa akan panas”, begitu kira-kira benang merah yang menghubungkan jiwa-jiwa yang panas sekaligus ganas. Sahabat-sahabat yang sakit di sesi-sesi meditasi bercerita jelas soal ini. Demikian juga dengan keluarga dekat serta sahabat dekat yang jiwanya juga tumbuh berat. Sebagian bahkan wafat dan gagal diselamatkan.

Urutan logikanya kurang lebih seperti ini. Setiap bentuk konflik dan pertentangan di dalam membuat seseorang mengalami kebocoran energi. Begitu keadaan bocor energi ini bertahan lama, seseorang mudah jatuh sakit. Lebih dari itu, konflik menahun di dalam membuat seseorang mirip dengan lumpur kotor yang mengundang datangnya cacing, serupa sampah yang mengundang datangnya lalat.

Ia yang di dalamnya memendam konflik menahun di dalam rawan mengundang serangan dan permusuhan orang-orang. Salah-salah bisa terkena kiriman black magic. Paduan antara energi yang bocor di dalam, berjumpa dengan serangan gencar orang dari luar, itulah awal perjalanan jiwa yang sangat berbahaya. Tidak sedikit yang betul-betul masuk jurang seperti bunuh diri, sakit jiwa, keluarganya berbahaya.

Berkontemplasi di atas bahan-bahan renungan seperti ini, bijaksana kalau memikirkan ulang kebiasaan tua yang selalu mengkritik dan menyerang perbedaan antara yang seharusnya dengan yang senyatanya. Bila direnungkan lebih dalam lagi, keduanya sama-sama bertumbuh. Yang seharusnya bertumbuh, yang senyatanya juga bertumbuh.

Sebagai akibatnya, di sepanjang sejarah ada kesenjangan antara yang seharusnya dengan yang senyatanya. Niat mulya untuk menjembatani keduanya tentu baik. Tapi kalau ia sudah menimbulkan konflik dan penyakit di dalam, di situlah layak direnungkan untuk mengalami titik balik kesembuhan dan kedamaian.

Di dunia kesembuhan dan kedamaian sering terdengar pesan seperti ini, tatkala sebuah pintu kebahagiaan tertutup, sebenarnya ada pintu kebahagiaan lain yang sedang terbuka. Sedihnya, entah karena kemarahan atau sempitnya pandangan, banyak manusia hanya terfokus pada melihat pintu yang tertutup. Lupa dengan pintu lain yang sedang terbuka.

Badan yang menua dan mulai sakit-sakitan memang pintu yang tertutup. Tapi panggilan untuk menemukan cahaya jiwa di usia tua, itu pintu yang sedang terbuka. Kegagalan dan ketidakberhasilan memang pintu yang tertutup. Namun undangan untuk belajar lebih dalam lagi, itu pintu yang terbuka. Anak-anak nakal adalah pintu tertutup. Meletakkan mereka sebagai Guru kesabaran, itu pintu yang terbuka.

Dari awal yang tidak berawal hingga akhir yang tidak berakhir, demikianlah hukum yang ada di alam ini. Itu sebabnya, seorang sahabat menemukan rahasia kehidupan di balik kesehariannya yang menyapu dan mengepel lantai. Setelah dibersihkan, tidak lama lagi lantainya kotor oleh ini dan itu. Begitu dan begitu lagi setiap hari.

Sampai suatu hari ia mendengar pesan indah, di alam ini ada yang bikin kotor, ada yang bikin bersih. Keduanya adalah sepasang bibir Tuhan yang sama. Yang bikin kotor adalah bibir Tuhan bagian bawah. Yang bikin bersih adalah bibir Tuhan bagian atas. Dan keduanya mewakili senyuman indah Tuhan yang sama.

Dari sini sahabat terakhir berhenti mempertentangkan antara de jure (yang seharusnya) dengan de facto (yang senyatanya). Kemudian melaksanakan panggilan hidupnya sebaik-baiknya. Dengan cara ini, ia tidak saja melihat senyuman Tuhan setiap hari, tapi juga menjadi bagian dari senyuman Tuhan setiap hari. Hasilnya, tubuh sehat jiwa selamat.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Twitter@ramblingsloa.


TAGS Spiritual


-

Author

Search

Recent Post