Generasi Pembawa Cahaya

25 Aug 2017

Changing frequency is changing reality, itu pesan yang sering dibagikan oleh para sahabat yang mendalami energi. Khususnya energi yang dikaitkan dengan pencapaian spiritual. Ringkasnya, manusia bisa mengubah realita yang ia alami dalam keseharian, dengan bertumbuh di tingkat frekwensi energi yang lebih tinggi.

Salah satu maha karya legendaris yang banyak dikutip orang dalam hal ini adalah hasil penelitian Dr. Masaru Emoto soal bentuk-bentuk partikel di dalam air. Tatkala air diberi tulisan “tolol” sebagai salah satu contoh, partikel-partikel air membentuk wajah yang menakutan. Saat air diberi tulisan “kedamaian” sebagai contoh lain, partikel air membentuk wajah mirip berlian yang sangat indah.

Salah satu kesimpulan penting yang lahir dari sini, realita yang sama (dalam hal ini air), jika didekati dengan keindahan hati yang berbeda, menghasilkan wajah kehidupan yang juga berbeda. Lebih-lebih simbol yang diambil adalah air. Sebagaimana kita tahu, sebagian lebih permukaan bumi isinya air. Sebagian lebih tubuh manusia isinya juga air.

Seorang penekun energi di Barat bernama Cristie Marie Sheldon hadir membawa penemuan yang lebih menarik lagi. Mengacu pada hasil penemuan sejumlah ilmuwan, energi manusia berkisar antara 0 sampai 1.000. Jika orang-orang yang sakit parah, penuh musibah, kesehariannya marah-marah energinya di bawah 200, mahluk tercerahkan energinya mendekati 1.000.

Sedihnya, masih menurut Cristie Marie Sheldon, sekitar 85 % penduduk dunia energinya 200 ke bawah. Terutama karena vibrasi-vibrasi negatif yang menyebar di sana-sini. Buku-buku suci awalnya memiliki vibrasi mendekati 1.000 tapi belakangan turun menjadi 500an karena kesalahan penafsiran.

Tokoh-tokoh yang berkarya dengan penuh cinta kasih seperti John Lennon bervibrasi di tingkat 500an. Manusia legendaris pembuat sejarah seperti Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Bunda Teresa, Abraham Limcoln bervibrasi di tingkat 750. Dan orang yang bervibrasi tinggi bisa mengubah jutaan manusia yang lain

Pekerjaan rumahnya kemudian, mengubah banyak orang yang tenggelam di dunia keuangan, kekuasaan, lebih-lebih dunia kekerasan memang tidak mudah. Tapi jika kita bisa melatih generasi baru (anak-anak TK, SD, SMP, SMA) untuk seawal mungkin tumbuh di tingkat energi yang tinggi, bukan tidak mungkin sebagian di antara mereka akan menjadi pembawa cahaya di masa depan. Yang akan menerangi jutaan manusia yang lain.

Sebagai bahan renungan, ia yang merayap di vibrasi rendah biasanya hidup penuh dengan ketakutan, rasa bersalah, sering mengeluh, apatis, semuanya terlihat kurang dan salah. Sebaliknya, jiwa-jiwa dengan vibrasi tinggi tumbuh di wilayah-wilayah yang penuh rasa trimakasih, berlimpah rasa syukur, bermandikan sukacita. Dan kekuatan di dalam yang membuat seseorang bervibrasi mendekati wilayah pencerahan bernama kedamaian.

Untuk itu, sekolah dan keluarga khususnya diharapkan banyak berperan dalam hal ini. Sebagai bahan renungan, perilaku generasi baru cenderung lain. Mereka lebih mempercayai mata mereka dibandingkan dengan telinga mereka. Konsekwensinya, lebih mungkin mereka diajak berubah tidak melalui ceramah, tapi melalui keteladanan-keteladanan keseharian yang indah. Lebih dalam dari itu, pendidikan tidak saja berkaitan dengan kata-kata yang dimasukkan ke kepala anak-anak, tapi juga berkaitan dengan keteladanan yang masuk ke dalam hati mereka.

Sehingga bisa dimaklumi kalau di beberapa bagian bumi muncul banyak suara tentang tidak memadainya pendidikan yang mengandalkan ceramah. Inilah zamannya di mana sahabat pendidik ditantang untuk tumbuh di wilayah-wilayah energi yang lebih tinggi. Dengan vibrasi energi yang lebih tinggi, tidak saja anak-anak mudah diajak berubah, tapi kehidupan pun sering hadir dengan jawaban-jawaban yang indah.

 

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Twitter @tomalpat.


TAGS Spiritual


-

Author

Search

Recent Post