Samudra Keajaiban

8 Sep 2017

Yang paling menarik dari sesi “Smileful Meditation” (meditasi penuh senyuman) yang baru berakhir tanggal 3 september 2017 ini, sejumlah peserta meditasi membawa anak-anaknya yang berkebutuhan khusus. Seorang wanita bule asli Australia bahkan mengikhlaskan putrinya yang autis untuk dirawat oleh keluarga Compassion selama beberapa hari.

Sungguh sebuah pengalaman pelayanan yang sangat indah. Terutama karena kami tidak saja bisa meringankan beban orang lain selama beberapa hari, tapi juga berjumpa cermin jujur kalau kami tetap berbagi senyuman di tengah cobaan, godaan dan kelelahan. Serangkaian cermin yang membuat kami sangat bahagia.

Yang lebih membahagiakan, seorang peserta meditasi dengan badan kurus serta muka yang miskin cahaya, yang sudah berpamitan sekian tahun lalu karena telah lama terinfeksi virus Aids/Hiv, terutama karena yakin dirinya akan wafat, di angkatan meditasi ini muncul dengan wajah segar bugar. Sahabat dari Jakarta ini bahkan mengaku sudah bekerja beberapa bulan di Bali.

Tatkala ditanya obat apa yang ia minum selama beberapa tahun terakhir, dengan muka yang tersenyum indah ia menjawab: “Terima, mengalir, senyum”. Ketika ditanya ulang berkali-kali, takut ia sedang bercanda atau tidak serius, lagi-lagi ia menjawab kalau ia tidak meminum obat mahal dan langka. Yang diminum hanya obat terima, mengalir, senyum.

Di atas semuanya, kendati keluarga Compassion baru saja pindah tempat dari lokasi dekat pantai menuju lokasi jauh yang sangat terpencil dekat Gunung Agung, teman-teman lama banyak sekali yang masih datang. Tidak saja teman-teman lama yang tinggal di Bali, bahkan ia yang tinggal di luar Bali pun banyak yang datang.

Padahal kami keluarga spiritual Compassion tidak punya apa-apa. Jangankan bangunan besar berupa Ashram atau pusat meditasi, uang kas kecil pun kami tidak punya. Dengan latar belakang seperti ini, tidak sedikit sahabat dekat yang bertanya: “Dari mana sesungguhnya datangnya samudra keajaiban?”.

Segelintir sahabat yang sudah ikut selama bertahun-tahun sepakat, energi terbesar yang kami bagikan ke semua sahabat yang mau belajar meditasi adalah energi penerimaan. Jangankan seorang anak kecil autis, dulunya seorang wanita setengah baya yang sudah bertahun-tahun menjadi pasien rumah sakit jiwa, kemudian bernyanyi, menari, bahkan memecahkan botol di saat kami meditasi bersama, ia pun kami bagikan energi penerimaan.

Sebagaimana dilaporkan keluarganya, wanita mantan pasien rumah sakit jiwa ini sekarang sudah bisa merawat keponakannya yang kecil setiap hari. Dari menyiapkan sarapan, menghantar ke sekolah hingga menjemputnya lagi di siang hari. Lebih dari itu, wanita ini bercerita ke mana-mana bagaimana ia dirawat secara penuh penerimaan di keluarga Compassion.

Disamping energi penerimaan, energi ketulusan juga sangat membantu dalam merawat orang-orang yang datang. Sebagai bahan renungan, di setiap rumah ada tong sampah. Demikian juga dengan masyarakat. Mesti ada yang merawat manusia-manusia yang ditolak di tengah masyarakat. Kalau tidak ada, mirip sampah yang tidak diolah, nanti penyakitnya akan menyebar dan menular ke mana-mana.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Universal Vista.

Di puncak semuanya, salah satu sumber keajaiban di muka bumi bernama pikiran yang damai. Jangankan ratusan orang, bahkan jika ada satu orang saja yang kedamaiannya mengagumkan (baca: tenang, seimbang, melihat semuanya sempurna apa adanya), maka gelombang keajaiban akan datang dari banyak penjuru. Makanya bisa dimaklumi, kalau sebuah buku suci sangat tua mewariskan bahwa kedamaian adalah wajah Tuhan yang membawa banyak keajaiban.


TAGS Spiritual


-

Author

Search

Recent Post