Cahaya Negara Bahagia

15 Sep 2017

Menyusul langkah heroik Bhutan di tahun 1972 yang mengubah ukuran keberhasilan sebuah negara, tidak saja dari segi barang yang dihasilkan, tapi juga dari segi kebahagiaan yang dihasilkan, beberapa lembaga dunia seperti PBB mulai mengukur indeks kebahagiaan banyak negara. Dari sini terlihat, ternyata tidak semua permukaan bumi gelap. Sebagian permukaan bumi masih bermandikan cahaya terang.

Jepang adalah sebuah negara yang ditandai oleh banyak manusia tua yang tidak saja tubuhnya sehat tapi jiwanya juga kuat. Di negeri matahari terbit ini sering dibagikan pesan: “Cermati apa-apa yang masuk melalui mulut”. Di pulau Okinawa Jepang dikenal warisan tua cara makan yang sehat. Belajar berhenti makan tatkala perut sudah penuh 80 persen. Tunggu beberapa puluh menit, jika masih terasa lapar boleh menambah makan. Biasanya, setelah beberapa puluh menit, perut sudah memberi tanda cukup.

Di India, tetua mewariskan pesan sederhana namun penuh makna: “Sempatkan waktu untuk menyentuh tubuh Anda”. Maksudnya, rawat tubuh seindah Anda merawat tempat suci. Di tempat-tempat di mana tubuh memberi tanda melalui rasa tidak nyaman, apa lagi sakit, sentuh ia tidak saja menggunakan tangan, tapi juga menggunakan hati (baca: lembut, halus, penuh penerimaan).

Orang-orang tua di Turki suka bermalas-malasan di sekitar batu hangat atau air hangat. Pesannya, perlakukan diri Anda secara hangat, lakukan percakapan dengan diri juga secara hangat. Kemudian lihat bagaimana hidup Anda bisa berubah indah. Orang Argentina lain lagi, mereka dibimbing oleh leluhur mereka untuk selalu mengutamakan keluarga. Terutama karena keluarga adalah taman jiwa yang sangat indah.

Negeri mungil di bagian selatan bumi bernama Selandia Baru juga negara bahagia. Cuaca yang dingin memaksa mereka meninggalkan competition (persaingan), kemudain bertumbuh menuju compassion(belas kasih). Terutama dengan cara saling merawat. Yang paling mengejutkan, negara paling bahagia adalah Norway. Negeri dengan cuaca yang sangat dingin ini ternyata penduduknya bahagia. Pelajaran yang diwariskan, cuaca ekstrim di luar memaksa mereka untuk saling menghangatkan di dalam. Tidak saja saling menghangatkan di dalam rumah, tapi juga saling menghangatkan di dalam hati.

Dirangkum menjadi satu, cahaya-cahaya yang muncul di negara-negara bahagia seperti mau berpesan sederhana: “Ukurlah kehidupan tidak saja berdasarkan apa-apa yang disimpan di buku tabungan”. Di luar buku tabungan, ada banyak sekali hal yang membuat jiwa jadi kaya. Dari saling memaafkan, mengisi keseharian dengan penuh penerimaan, sampai dengan tekun dan tulus untuk selalu berbagi senyuman.

Dalam bahasa puitis yang lebih menyentuh: “Setiap kali berangkat ke tempat tidur di malam hari, ukurlah sebuah hari tidak saja dari banyaknya buah yang dipetik, tapi juga dari segi banyaknya benih yang ditanam”. Maksudnya, uang, barang, pujian, kesenangan mirip dengan buah yang dipetik. Namun menatap orang dengan mata yang penuh penerimaan, ketulusan untuk mendengarkan, ikhlas memaafkan adalah sebagian benih yang ditanam di hari itu. Persoalan waktu, ia akan berbuah di masa depan.

Di kalangan jiwa-jiwa yang dalam sering diperbincangkan pesan seperti ini: “Bloom where you are planted”. Di setiap agama dan tradisi ada lahan subur untuk membuat jiwa mekar indah. Jika tanahnya kering, mekarlah jadi bunga kamboja indah di sana. Bila tanahnya basah, mekarlah menjadi bunga lotus indah di sana. Ringkasnya, olah setiap berkah yang datang menjadi bunga indah.

Sebagaimana yang dilakukan tetua di Norway, Selandia Baru, Turki, yang terpenting bukan apa yang terjadi di luar. Yang terpenting adalah bagaimana mengolahnya di dalam. Diantara berbagai pilihan yang tersedia, sedikit mengeluh banyak bersyukur adalah sebuah pilihan. Melihat apa yang ada di sekitar sebagai bahan-bahan untuk membuat jiwa mekar, itu pilihan lain.

Di puncak semuanya, tubuh memang terus menua. Namun sukacita kanak-kanak di dalam diri tidak pernah menua. Ia selalu bergembira di dalam. Untuk itu, selalu sempatkan untuk “bermain” dalam keseharian. Konkritnya, lihat sisi-sisi lucu setiap keseharian. Sekurang-kurangnya, belajar bernyanyi di dalam hati. Seorang nenek yang berulang tahun yang ke 100 di Australia, namun masih sehat dan ceria, tatkala ditanya resepnya menjawab sederhana: “Bangunlah di pagi hari dengan hati yang penuh rasa syukur, lakukan sesuatu yang indah untuk orang-orang yang Anda kasihi. Selebihnya, dekap semuanya dengan senyuman yang penuh keikhlasan”.

Penulis: Guruji Gede Prama.

Photo: Twitter @Drc_19.


TAGS Spiritual


-

Author

Search

Recent Post