Kesejukan Mengalir Dari Puncak Gunung Agung

27 Sep 2017

Beberapa hari setelah pemerintah meningkatkan status Gunung Agung menjadi awas, situs Viva.co.id mengutip situs Earth Observatory (badan antariksa AS), kemudian bercerita dampak mendunia letusan hebat Gunung Agung yang terjadi di bulan maret 1963. Mengacu pada catatan peneliti dari Universitas Iowa bernama James Hansen, ternyata ada pesan sangat menyejukkan di balik ledakan Gunung Agung lebih dari setengah abad yang lalu.

Ringkasnya, aerosol vulkanik yang dilepaskan Gunung Agung di tahun 1963 tidak saja mengangkasa tinggi sekali, tapi juga bertahan di ruang angkasa dalam waktu bertahun-tahun. Sebagai akibatnya, ia menyerap cahaya matahari yang memancar ke permukaan bumi. Yang paling menyentuh, masih menurut James Hensen, letusan Gunung Agung berperan dalam membuat bumi menjadi semakin sejuk.

Pekerjaan rumahnya kemudian, bagaimana mengolah “pesan kesejukan” yang datang dari puncak Gunung Agung menjadi langkah-langkah keseharian, yang betul-betul membuat bumi jadi betul-betul sejuk. Sebagaimana terlihat di sana-sini, bumi memang semakin memanas. Tidak saja memanas secara fisik, tapi juga memanas secara kejiwaan dan spiritual.

Tidak elok menyebutkan hal-hal tidak indah yang terjadi di tempat orang lain. Bahkan di Bali pun - sebuah pulau yang sering disebut sebagai pulau terindah di dunia, terjadi beberapa hal yang memanas. Sebagaimana taman kering yang merindukan siraman air, bumi yang kering juga merindukan siraman air jiwa-jiwa yang sejuk serta lembut.

“Changing frequency is changing reality”, itu kesimpulan banyak sahabat yang meneliti energi. Khususnya energi spiritual. Maksudnya, tatkala manusia mengubah frekwensi di dalam dirinya, ia secara aktif sedang mengubah realita yang ada di muka bumi. Mahakarya yang paling sering dikutip dalam hal ini adalah hasil penelitian Dr. Masaru Emoto soal bentuk partikel dalam air.

Tatkala ditunjukkan tulisan “tolol” sebagai salah satu contoh, partikel air membentuk wajah yang menakutkan. Saat ditunjukkan tulisan “damai”, partikel air membentuk wajah indah yang menyerupai berlian. Ringkasnya, keadaan pikiran yang berbeda menghasilkan wajah realita yang juga berbeda. Undangannya kemudian, manusia secara aktif bisa membuat realita di muka bumi jadi lebih sejuk, terutama dengan cara terus menerus bervibrasi di tingkat yang damai.

Para sahabat yang peka dengan tubuh energi mengerti, ada perbedaan yang keras antara mind energy (energi pikiran) dengan spiritual energy (energi spiritual). Sementara energi pikiran cenderung ngotot dan kaku, energi spiritual lebih luwes dan lentur. Jika energi pikiran lapar sekali dengan kebenaran yang keras, energi spiritual rindu berbagi keikhlasan yang sejuk.

Tidak mudah membuat orang-orang pintar di sekolah dan perguruan tinggi untuk memiliki pikiran yang lentur. Lebih tidak mudah lagi membuat para politisi untuk berpelukan secara luwes saat pemilihan umum. Namun layak untuk diingat, tidak saja para peneliti yang bercerita tentang bumi yang memanas. Bahkan letusan Gunung Agung pun sedang mengundang manusia untuk semakin sejuk dari hari ke hari.

Tetua Bali punya tradisi tua yang layak diendapkan ulang. Jika di tempat lain mahluk-mahluk bawah dimusuhi orang, bahkan ada yang menyebutnya sebagai musuhnya Tuhan, tetua Bali memberi mereka suguhan. Membikinkan rumah bernama penunggun karang. Pesan bimbingannya, energi-energi bawah yang ada di dalam diri (dari kebencian hingga kemarahan) jangan dibuang. Sebaliknya, didekap dengan penuh kasih sayang.

Di psikologi ada rumus tua: “What you resist persist”. Apa yang Anda lawan akan melawan balik. Untuk itu, dekap energi-energi keras yang ada di dalam diri. Persis seperti seorang ibu yang menerima kenakalan anak-anaknya. Mirip dengan tetua Bali yang merawat alam bawah dengan kesejukan kasih sayang. Meminjam pesan seorang Guru meditasi: “The most catalyst of change is to accept them as they are”. Tatkala kekuatan keras di dalam diterima apa adanya, di sana perubahan terjadi. Dari sinilah langkah menyejukkan bumi sebaiknya dimulai. Sambil selalu ingat, hanya ia yang menemukan sahabat sejati di dalam yang bisa menemukan sahabat sejati di luar. Hanya ia yang memiliki pohon sejuk di dalam, yang bisa berbagi kesejukan ke luar. Sekaligus, inilah yang dimaksud oleh tetua Bali sebagai jiwa yang Agung.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo Courtesy: Kumparan.


TAGS spiritual


-

Author

Search

Recent Post