Merpati Putih Kedamaian

11 Oct 2017

Setelah dua kota di Jepang hangus oleh serangan bom puluhan tahun lalu, perang dingin antara dua negara adi kuasa berakhir puluhan tahun lalu, banyak orang mengira kalau era senjata pemusnah massal akan berlalu. Sebagian pengamat sepakat, perang menggunakan senjata akan diganti dengan perang digital. Dan lahan pertempurannya adalah internet.

Namun krisis nuklir di Korea Utara dan Iran yang mendominasi berita dunia di bulan oktober 2017 seperti memutar balik sejarah. Ketakutan manusia akan senjata nuklir seperti muncul kembali. Itu juga sebabnya, komite pemberi hadiah nobel perdamaian di tahun 2017 memberikan hadiah nobel perdamaian pada aktivis anti-nuklir.

Di tengah bayang-bayang krisis perdamaian seperti ini, ada kawan di Barat berpesan indah sekali: “Saat-saat krisis adalah saat untuk menemukan kembali bagian terindah dari diri kita”. Sebagaimana kita alami bersama, di putaran waktu ketika semuanya terasa menyenangkan, manusia cenderung malas dan kurang berusaha. Namun, begitu ada hal menakutkan, secara alami sebagian orang berusaha memberikan hal-hal terbaik dalam diri mereka.

Salah satu tokoh yang dikagumi baik di kalangan penekun spiritual, maupun kelompok ateis adalah Albert Einstein. Warisan Einstein yang sering dikutip di kedua kubu ini berbunyi seperti ini: “Jika Anda mengukur ikan dengan ukuran burung, mengukur burung dengan ukuran ikan, maka semua orang terlihat idiot”. Dengan kata lain, bagian terindah dari jiwa manusia adalah kepolosan pikiran anak-anak.

Dan wajah indah ini hilang begitu seseorang mulai meniru. Khususnya meniru orang tua. Setelah tersesat lama dalam peniruan, sekian puluh tahun kemudian tubuh memberikan tanda melalui rasa sakit. Melalui rasa sakit, tubuh memberikan masukan kalau seseorang sedang menjadi orang lain dalam tubuh sendiri.

Di saat seperti itulah manusia diundang untuk melakukan perjalanan terbalik. Ciri khas zaman ini, terlalu banyak sahabat yang mengaku sering sakit di sekitar kepala, lengkap dengan variasi rasa sakitnya. Ia sedang memberikan pesan: “Less thinking, more flowing”. Belajar lebih sedikit melawan, namun lebih banyak mengalir. Pikiran yang mengeras mirip salju yang membeku. Keikhlasan membuat matahari memancar kemudian membuat salju mulai mengalir.

Ciri lain zaman ini, jumlah manusia pemarah meningkat secara sangat signifikan. Salah satu kepala pemerintahan negara besar bahkan marah-marah setiap hari di banyak media dunia. Angka bunuh diri yang meningkat, korban narkoba yang meningkat, percerian yang meningkat, semuanya bercerita tentang meningkatnya manusia yang marah-marah. Pesan bimbingannya, kapan saja taman kehidupan penuh daun kering, belajar menjauh dari sumber-sumber api. Bagus kalau bisa menyiramkan air kesejukan di sana.

Pesan kosmik lain yang sebaiknya dibaca di zaman ini, semakin banyak manusia yang mengaku sulit tidur. Lembaga kesehatan dunia WHO bercerita, konsumsi pil tidur dan obat penenang lainnya di mana-mana meningkat pesat. Bimbingan spiritualnya, mari belajar “istirahat”. Persisnya, mengistirahatkan pikiran dari segala bentuk konflik di dalam. Dari salah melawan benar sebagaimana diajarkan sekolah, hingga kegelapan melawan cahaya sebagaimana diajarkan agama-agama.

Sebelum ketegangan di dalam bertumbuh menjadi penyakit, mari belajar aman nyaman bahkan tatkala tidak tahu. Sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh pikiran yang keras, panas dan mudah terbakar. Konkritnya, latih diri untuk mengatakan “ya” pada sebanyak mungkin kekinian. Lebih bagus lagi kalau bisa mendekap kekinian dengan senyuman. Ringkasnya, ada kesempurnaan di balik semua ketidaksempurnaan.

Nyamuk dimakan kodok, kodok dimakan ular, ular dimakan burung elang. Nanti setelah burung elang mati, bangkai burung elang dimakan nyamuk. Ini yang disebut lingkaran kesempurnaan. Dalam bahasa tetua di Tibet, musim hujan tidak menambahkan jumlah air di alam. Musim kemarau tidak mengurangi jumlah air di alam. Siapa saja yang membadankan pesan ini dalam-dalam, akan bisa melihat keluar dengan mata belas kasih (compassion), sekaligus melihat ke dalam dengan mata kebijaksanaan (wisdom).

Maksudnya, perlakukan semua krisis yang terjadi di luar sebagai kesempatan untuk berbagi energi belas kasih. Tanpa taman kering, tukang taman kehilangan kesempatan untuk menyejukkan tanaman. Tanpa hawa panas kehidupan, jiwa-jiwa yang sejuk akan kehilangan kesempatan untuk berbagi kesejukan. Bersamaan dengan itu, selalu ingat kalau umur manusia sangat pendek dibandingkan dengan umur semesta. Sehebat apa pun Cahaya yang dibagikan, ia tetap hanya a flash of light in the darkness of the night. Hanya sekilatan cahaya di tengah kegelapan malam.

Dari orang-orang seperti inilah dunia akan mendapat hawa sejuk kedamaian. Tidak semua diantara mereka boleh mengenakan baju suci. Lebih-lebih disebut sebagai nabi. Kebanyakan diantara mereka merasa aman nyaman dengan menjadi “burung putih di salju”. Mereka ada di masyarakat, tapi sangat sedikit anggota masyarakat yang mengenali. Inilah yang disebut sebagai merpati putih kedamaian.

 

Penulis: Guruji Gede Prama.

Photo: Putu Wirawan.


TAGS spiritual


-

Author

Search

Recent Post