• 19

    Aug

    Bunga Indah Di Dalam

    “Apakah saya normal?”, itu pertanyaan seorang klien di depan psikolog. Pertanyaan ini sangat menyentuh hati. Terutama karena di balik pertanyaan ini tersembunyi keraguan, ketakutan, kesedihan. Lebih dalam dari itu, ada penolakan diri di sana. Serangkaian penolakan yang bisa bertumbuh menjadi penderitaan dan penyakit. Dalam kadar yang berbeda, semua manusia memiliki keraguan dan ketakutan jenis ini. Ia hasil cacian, makian, hinaan, kritik orang-orang selama puluhan tahun yang menumpuk di dalam. Jangankan di negara berkembang yang baru mengenal pendidikan, bahkan sahabat di Barat yang disentuh pendidikan jauh lebih dulu pun, hal-hal seperti ini juga terjadi. Dalam bahasa sederhana, seseorang disebut normal kalau ia cocok dengan sebagian besar norma-norma masyarakat. Sejauh masya
    Read More
  • 14

    Jul

    Sahabat Sejati

    Sahabat sejati adalah keluarga sangat dekat yang dipilih oleh hati kita sendiri, demikian salah satu warisan tua sekaligus sakral dari atap bumi Tibet. Sementara keluarga biologi (orang tua, kakak, adik, paman, tante) diperoleh tanpa bisa memilih, tapi sahabat sejati secara alami dipilih melalui proses seleksi waktu yang panjang oleh sang hati. Lebih-lebih di tengah naik pesatnya angka perceraian di mana-mana, semakin sempitnya makna keluarga menjadi suami, istri dan anak-anak saja, semakin sedikitnya manusia yang punya simpati dan empati pada orang lain, maka kehadiran sahabat sejati semakin diperlukan. Tanpa kehadiran sahabat sejati di usia tua khususnya, kehidupan akan mirip taman kering dan gersang. Oleh karena itulah, penting sekali seawal mungkin membuka mata kepekaan untuk mel
    Read More
  • 7

    Jul

    Melonggarkan Cengkraman Pikiran

    Dicengkram secara sangat menakutkan oleh pikiran, itulah ciri utama jiwa-jiwa berbahaya. Merasa benar, kemudian berani menghancurkan kehidupan banyak orang. Tidak melihat sedikit pun kebenaran di agama orang lain, kemudian tempat suci orang dibakar. Yakin tidak bersalah, kemudian membubarkan pernikahan. Itulah sekelumit kisah perjalanan jiwa-jiwa berbahaya sejak dahulu kala. Siapa saja yang diberkahi untuk bisa tumbuh secara hening dan bening, melihat jernihnya kolam jiwa di dalam, di sana ia bisa melihat. Kekerasan, kemarahan, kekacauan bukan godaan setan. Melainkan hasil cengkraman pikiran yang demikian menggenggam. Persisnya, pikiran yang belum disentuh oleh cahaya indah meditasi.   Sebelum kekacauan yang sama mengunjungi diri Anda, ada baiknya merenungkan tiga bahan renungan
    Read More
  • 30

    Jun

    Tiga Tangga Kedamaian

    Pada akhirnya jiwa hanya membutuhkan kedamaian, demikian sering terdengar di dunia spiritual mendalam. Buku suci Weda bahkan secara eksplisit menyebutkan: “Kedamaian adalah wajah Tuhan yang paling tinggi”. Kendati pesan ini sudah berumur  sangat tua, manusia sudah melakukan terlalu banyak upacara, tapi tetap saja manusia yang penuh kedamaian sangat-sangat langka. Lingkungan yang semakin rumit adalah salah satu sebab di balik langkanya kedamaian. Semakin kerasnya cengkraman keinginan dan kekuasaan adalah sebab lain. Perlombaan tiada akhir untuk selalu disebut lebih juga sebentuk racun kedamaian. Namun di atas semua itu, yang paling menentukan adalah keindahan taman jiwa seseorang di dalam. Sahabat-sahabat yang bertumbuh jauh di jalan meditasi mengerti, tangga pertama y
    Read More

Author

Search

Recent Post